Feeds:
Posts
Comments

Incompetence

Jumat siang pekan lalu, 20 November 2009, sebenarnya biasa saja. Pukul dua belas lewat aku duduk-duduk di salah satu dari deretan sofa lobi SMA. Menunggu adek-adek sambil memanfaatkan wifi gratisan. Dan bukan hal yang aneh pula ketika ada satu anak SMA menghampiriku.

Dia tampak agak kebingungan. Aku mengira dia akan menanyakan apa aku sudah bertemu mbak X yang adalah mbak mentor dia.
Dia duduk di sampingku lalu bertanya, “mbak, boleh nanya sesuatu?”
Wah, apaan nih, pikirku. Serius sepertinya. Biasanya anak SMA nanya soal fiqh gitu. Hmm.. Susah juga kalo dia nanya yang aneh-aneh. Tapi aku menjawab juga dengan, “Iya, apa?”.

Maka dia pun melanjutkan, “Apa bedanya antara ob…”

Saat sampai pada  “..ob-”, selama sepersekian detik aku mengira dia akan bertanya tentang obat. Subhanalloh, pikirku. Dia kan gak tahu diriku anak farmasi. Kok bisa pas gitu nanya tentang obat ke aku.

Tapi lanjutannya membuatku tercengang beberapa detik. Ternyata begini kalimatnya. “Apa bedanya antara objek kajian dan sasaran?”

Euh.. Apa aku punya tampang calon guru bahasa Indonesia? Toloongg…

Akhirnya aku menjawabnya dengan menggunakan logika bahasa ’sakkecekele’ alias sedapatnya. Karena sedikit penasaran, aku bertanya lebih lanjut, “Emang konteksnya apa, Dek?” Seharusnya aku tidak gegabah dengan menanyakan itu. Tapi sudah terlanjur.

“Ini lho mbak, ada tugas PKN, wawancara… blablabla… ke partai politik… blablabla.. temanya tentang bagaimana kondisi partai politik dan strategi yang digunakan untuk meraih simpati masyarakat.”

Ugh.

Desperado. Desperate. Side-kick. Yellow-card. A perfect hit.

Tolong, aku tidak perlu diingatkan tentang hal seperti itu di tempat sedamai-seriang-seceria-seinnocent-sesejuk SMA ini. Politis banget hidupku sekarang. Dan SMA adalah goa tempatku menyepi sejenak seminggu sekali dari itu semua.

Seremuk-remuknya aku setelah dipukul dengan telak oleh si adek, akhirnya aku tetap melanjutkan ngumbahi tentang objek dan sasaran, yah tadi kan sudah bilang bersedia ditanyai. Gak etis kan kalo aku tiba-tiba ngabur sambil bilang, “Maap dek, tiba-tiba mbak sakit perut denger kata-kata adek.”

Hew.. Pertanyaan si adek memang tergolong sederhana. Tapi tolong, biar bagaimanapun, aku ini cuma mahasiswi farmasi biasa. Tanyai aku tentang obat-obatan dan kesehatan saja, agar aku sadar bahwa aku masih harus lebih banyak belajar. F>_<’

Rokok dan kegiatan merokok saat ini dapat kita temui di mana saja. Bahkan bagi sebagian orang, merokok telah menjadi suatu kebutuhan utama, melebihi sandang-pangan-papan. Dengan kondisi seperti itu, tentu sangat sulit menerapkan aturan pelarangan merokok, termasuk penerapan Pergub No.42/2009. Terlebih lagi aturan ini belum mempunyai bentuk pengaplikasian konkret. Kebiasaan dalam masyarakat yang menganggap “Aturan ada untuk dilanggar” semakin memperparah keadaan.

Sebaiknya penerapan peraturan ini dilakukan secara serentak di seluruh dareah tingkat dua, sehingga masyarakat dapat lebih merasakan keberadaannya. Peraturan yang dibuat oleh walikota dan para bupati sebaiknya seragam dan bersifat lebih spesifik. Pelarangan merokok di fasilitas publik seperti terminal, kantor pemerintah, dan lain sebagainya diiringi dengan pembuatan ruangan khusus untuk merokok di tempat-tempat tersebut. Dengan kebergantungan seseorang terhadap rokok yang sudah mencapai tingkat menganggapnya sebagai kebutuhan, tidak adanya ruangan khusus untuk merokok hanya akan membuatnya mengabaikan aturan larangan itu dengan mudah. Orang seperti mereka hanya akan berhenti merokok jika memang mereka sendiri yang menginginkannya. Tidak bisa diubah begitu saja dengan adanya paksaan. Pelarangan total juga akan memicu demarketisasi peraturan ini oleh industri rokok dengan menggunakan petani tembakau sebagai tameng.

Paling sedikit ada dua macam tempat umum di mana aturan larangan merokok harus diterapkan secara total. Yang pertama adalah tempat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas dan klinik. Memang dari sanalah penerapan upaya pemeliharaan kesehatan harus diawali dan dicontohkan. Kedua yaitu institusi pendidikan. Telah ada kampus tertentu yang menyatakan diri sebagai kawasan bebas asap rokok. Namun yang seringkali terlupakan justru institusi pendidikan yang lebih signifikan dalam mempengaruhi perilaku seseorang, yakni pendidikan dasar. Seorang siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar akan menganggap merokok adalah hal yang wajar ketika melihat gurunya merokok. Bahkan sosok yang dia gugu dan dia tiru itu akan dia jadikan alasan jika di kemudian hari dia dimarahi karena coba-coba ikut merokok. Siswa memang masih bisa mendapat pengaruh untuk merokok di luar sekolah atau bahkan di rumahnya sendiri. Tapi paling tidak, tempat dia seharusnya mengambil panutan, yaitu sekolah, senantiasa memberikan panutan yang baik.

Pentahapan yang jelas juga penting dalam penerapan aturan ini. Sebaiknya ditetapkan adanya masa percobaan selama jangka waktu tertentu, misalnya dua tahun. Dalam rentang waktu tersebut, masing-masing pihak—baik masyarakat maupun pemerintah daerah—belajar menyesuaikan diri dengan peraturan itu. Para perokok mencoba mengatur dirinya untuk merokok di waktu dan tempat tertentu yang diperbolehkan. Pemerintah daerah memenuhi kewajibannya dengan membangun fasilitas-fasilitas yang diperlukan serta melakukan sosialisasi. Sekali lagi, tempat layanan kesehatan dan institusi pendidikan menjadi lokasi utama yang harus dijadikan sasaran sosialisasi. Masyarakat yang tidak merokok juga dapat berpartisipasi menyukseskan penerapan aturan tersebut. Selama ini banyak orang yang merasa ragu atau bahkan takut memperingatkan orang lain untuk tidak merokok di tempat umum. Dengan adanya peraturan resmi, para perokok pasif bisa lebih percaya diri memperjuangkan haknya menghirup udara bersih.

Sebuah aturan akan terasa hambar jika tidak dilengkapi dengan sanksi. Sanksi diterapkan setelah masa percobaan selesai. Sebelum itu, pelanggar peraturan cukup diberi peringatan. Maka, perlu ditetapkan dengan jelas pihak yang mengawasi jalannya peraturan ini dan eksekutor pemberian sanksi, berikut pengondisiannya selama masa percobaan. Mekanisme pemberian sanksi perlu dibuat dengan mengantisipasi celah-celah terjadinya korupsi dalam pelaksanaannya.

Perjuangan meminimalisir hal kurang baik—dalam hal ini merokok—yang sudah menjadi kebutuhan dalam masyarakat memang berat. Namun kesehatan adalah kebutuhan manusia yang sebenarnya, sehingga kita tidak boleh berputusasa dalam memperjuangkannya.
—————————-
It can also be found in-Harian Jogja, 24 November 2009-Suara Mahasiswa

Terhitung semenjak reformasi 1998, pemilihan pemimpin dengan menjaring partisipasi publik sebesar-besarnya semakin melekat dalam keseharian masyarakat Indonesia. Perkembangan politik itu turut pula mewarnai perpolitikan kampus. Di berbagai kampus di Indonesia, saat ini sudah jamak dikenal adanya Pemilihan Raya Mahasiswa atau biasa disingkat dengan istilah PEMIRA. Begitu pula halnya dengan kampus Universitas Gadjah Mada.

Di UGM, cikal bakal pemira sebenarnya sudah dilaksanakan sejak tahun 1987. Namun PEMIRA dengan sistem kepartaian baru digunakan pada tahun 1997. Hal yang cukup menjadi gebrakan ketika itu, mengingat sistem Pemilihan Umum di tingkat nasional sendiri selama puluhan tahun hanya mempunyai tiga partai sebagai kontestan. Dalam PEMIRA, mahasiswa memilih secara langsung calon Presiden Mahasiswa dan Partai Mahasiswa. Presiden Mahasiswa yang terpilih akan memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM untuk periode selanjutnya. Partai Mahasiswa akan mengirimkan wakilnya untuk masuk dalam struktur Dewan Perwakilan Mahasiswa. Sistem PEMIRA terus berkembang. Mulai tahun 2006, dalam PEMIRA UGM dilakukan pula pemilihan Dewan Perwakilan Fakultas, mengadaptasi pemilihan Dewan Perwakilan Daerah yang mulai dilaksanakan pada PEMILU nasional tahun 2004. Selain PEMIRA tingkat universitas, mahasiswa masing-masing fakultas juga melaksanakan pemilihan umum untuk memilih ketua-ketua lembaga, dengan variasi sistem yang disesuaikan kondisi fakultas.

Banyak pihak yang terlibat dalam perhelatan PEMIRA, mulai dari Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA), Badan Pengawas PEMIRA (Banwasra), Mahkamah PEMIRA, para konstestan PEMIRA, dan mahasiswa secara umum. Dengan kemajemukan elemen dan banyaknya kepentingan, munculnya permasalahan dalam proses pelaksanaan PEMIRA memang tidak menjadi hal yang aneh. KPRM memang tidak perlu terlalu pusing akan terjadi kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) karena data mahasiswa aktif lebih pasti daripada data penduduk Indonesia yang mempunyai hak pilih. Namun, seperti halnya di PEMILU nasional, permasalahan mengenai kontestan PEMIRA dan hal-hal seputar kampanye pasti akan muncul. Konflik memang bukan hal yang diharapkan terjadi, namun dari situ mahasiswa bisa belajar lebih tentang dinamika politik dan belajar menyikapinya dengan dewasa.

Permasalahan lain yang mirip dengan yang terjadi di PEMILU nasional juga bisa muncul pada pelaksanaan PEMIRA. Misalnya saja, selalu ada pihak yang akan mempertanyakan representasivitas hasil PEMIRA. Pada PEMIRA 2008, dengan kerja keras panitia dan kontestan PEMIRA, terjadi lonjakan pengguna hak pilih hingga mencapai sekitar satu per tiga dari total mahasiswa S1 dan D3 UGM yang jumlahnya 35.000 orang. Gaung golongan putih juga muncul dalam proses PEMIRA, dengan menggunakan dalih hasil PEMIRA tidak representatif. Ada baiknya jika menggunakan sudut pandang konstruktif dalam menyikapi hal ini. Daripada menghujat hasil yang tidak representatif, kenapa tidak turut memperbaiki sistem dan proses ini hingga mencapai kondisi lebih ideal?

Pertanyaan lain akan muncul pasca pelaksanaan PEMIRA. Apakah PEMIRA hanya akan menjadi ritual tahunan? Maka jawabannya, seharusnya tidak. PEMIRA adalah titik awal tiap tahunnya untuk pembelajaran politik bagi mahasiswa. Dan semestinya pembelajaran itu terus berlanjut. Tidak cukup hanya belajar mengelola, menjadi kontestan, menggunakan hak pilih, atau jenis partisipasi lain dalam proses pemilihan. Bagi para mahasiswa yang terpilih—entah sebagai Presiden Mahasiswa, anggota DPM, atau anggota DPF—harus pula belajar mempertanggungjawabkan keterpilihannya dengan melaksanakan amanah yang diembannya sebaik-baiknya. Partai peserta PEMIRA juga semestinya belajar mengelola partainya sehingga tidak hanya menjadi mesin politik insidental yang hidup menjelang PEMIRA dan mati suri sepanjang sisa tahun berikutnya. Dan tak ketinggalan, mahasiswa secara umum juga bisa belajar untuk turut mengawasi segala proses itu, mulai dari pelaksanaan
PEMIRA hingga jalannya kepengurusan selama setahun setelahnya.

Para mahasiswa pembaharu yang dulu menginisiasi sistem PEMIRA di awal reformasi, tentu berharap mahasiswa kampus ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia bagaimana sebaiknya berdemokrasi. Mahasiswa masa kini tinggal memilih, akan tetap setia memberi contoh baik ataukah mencontoh mentah-mentah lika-liku politik negeri ini, hingga permasalahnnya pun diadaptasi.

———————————
It can also be found in-Republika, 21 November 2009-Suara Mahasiswa


Manusia tidak boleh berhenti berharap. Itulah secuil hikmah yang kupetik dengan agak mekso dari kejadian pagi ini. Kejadian macam apakah itu?

Yaitu, yakni, adalah,,,, Rufus kembali!!!

Jreng jreng..

Siapa itu Rufus?

Seberapa luar biasanya kejadian kembalinya Rufus ini?

Rufus adalah kucing kampung biasa. Dia punya dua rumah utama, rumahku dan rumah tetangga seberang rumahku. Kami menganggap dia adalah kucing bersama. Kuat dugaan bahwa dia punya rumah lain lagi selain dua rumah ini.

Semenjak sebelum Romadlon-lebih dari tiga bulan yang lalu-Rufus menghilang. Dia tidak pernah pulang baik ke rumahku maupun rumah tetanggaku. Kami juga tidak pernah menjumpainya berkeliaran di sekitar rumah kami. Aku dan simbah menganggap dia hilang, sudah dipelihara orang, atau kemungkinan garis takdir lainnya. Intinya, kami telah merelakan dia.

Aku pun mulai meminta simbah agar diperkenankan memungut kucing ‘baru’. Namun itu belum pernah benar-benar terlaksana. Alasannya, jika Rufus pulang dan melihat kucing ‘baru’, Rufus akan marah. Hmm.. Apa ini berarti kami masih berharap Rufus pulang?

Dan pagi ini, Rufus benar-benar pulang. Dia masih sama, walau sepertinya lebih galak dari biasanya. Aku luluh melihatnya. Sejauh ini, kucing memang satu-satunya makhluk yang bisa dengan mudah meluluhkan hatiku. Tapi ini lebih dari itu. Rufus pergi selama lebih dari tiga bulan. Dia tidak beredar sama sekali di sekitar rumah selama itu. Dan ternyata dia masih ingat untuk kembali.

Jadi, manusia pasti bisa lebih dari itu. Manusia pasti lebih bisa kembali ke tempat asalnya, seberapa lama pun dia menjauh. Dan kita tidak boleh berhenti berharap. Rela, namun tetap memelihara harapan.
Hikmah memang berserakan di mana-mana.

Yogya, Jumat siang di SMA, 20 November 2009

farmasi bukan tentang obat sajaScene 1
“Mbak, kenapa sih kita musti ikut aksi tentang korupsi? Lalu siapa yang mengawal isu kesehatan?”
“Kan bisa beriringan..”
“Masih gak ngerti kenapa harus aksi”
“…”

Scene 2
“Kenapa tidak ada aksi menentang NAMRU?”
“Ya bisa saja. Tapi harus ada proses sebelumnya untuk memahamkan mahasiswa tentang isu itu.”
“Memangnya tentang KPK ini juga ada awalannya?”
“Yah kan masalah korupsi sudah sangat dekat dengan masyarakat secara umum.”
“…”
“Kalo memang susah memahamkan mahasiswa secara umum, gak papa juga kalo mau aksi mahasiswa fakes saja. Pernah juga kan waktu no tobacco day.”
“…”

Hmm.. Sepertinya akhir-akhir ini aku makin sering merasakan ‘desakan’ untuk menaruh perhatian lebih pada isu-isu kesehatan. Dan memang, itu adalah salah tanggungjawabku sebagai mahasiswa farmasi. Aku juga punya andil jika mahasiswa farmasi pada khususnya dan mahasiswa fakes pada umumnya tidak tahu menahu, apalagi paham, tentang isu kesehatan. Aku bisa yakin hanya sedikit di antara teman-teman sekelasku yang mengerti tentang NAMRU. Bahkan aku curiga ada sebagian yang akan merasa telah salah mendengar penyebutan nama Amru-anak Malaysia yang sekelas denganku.

Sebenarnya isu kesehatan selalu menarik bagiku. Tapi sejak tahun-tahun pertama menuntut ilmu di kampus ini, aku telah dibuat jenuh untuk mendiskusikannya di fakultas tercinta. Karena yang seringkali terjadi, diskusi panjang lebar itu hanya berujung pada perselisihan antar profesi tanpa solusi.

Aku mencintai farmasi, sungguh. Itu adalah janjiku ketika dulu memutuskan untuk menaruh farmasi di pilihan pertama UM UGM. Walau saat itu mutung dulu karena sama sekali gak boleh ikut SPMB untuk meretas jalan menuju ITB-kampus impian sejak SMP. Yah intinya, hasil akhirnya adalah, aku mencintai farmasi. Dulu aku memang cinta kalkulus, tapi sekarang ngitung integral aja aku sudah lupa. Yang aku cintai sekarang adalah farmasi. *gombal Na!

Maka aku mendukung penuh jika ada jiwa-jiwa muda yang ingin menghidupkan kembali lokus-lokus diskusi di fakultas farmasi. Dengan menitip harap, utopisnya, semua mahasiswa bisa punya pemahaman sama tentang isu-isu kesehatan. Dari kefahaman itu, semoga tumbuh benih kepedulian untuk mengubah keadaan. Dan tentu, fanatisme profesi jangan pernah lagi diandalkan untuk membumbuinya. Karena dunia kesehatan hanya akan menjadi lebih baik jika masing-masing elemen memperbaiki diri, bukan berdiam dan menyalahkan yang lain.

Sekali lagi, aku mendukung penuh. Tapi tak bisa menjanjikan sebentuk partisipasi. Bukan semata karena tak mau duduk bersama. Bukan pula karena merasa tak butuh. Bahkan mungkin mahasiswa-mahasiswa ambang batas macam ini yang lebih butuh disegarkan dengan diskusi ‘begituan’. Agar paling tidak terjaga niyatnya untuk konsisten menjaga idealisme ketika memasuki dunia profesi. *setelah itu, ya do’akan saja benar-benar konsisten. Tapi, manusia hanya punya 24 jam dalam sehari. Itulah yang membatasi manusia untuk tidak terlalu banyak berjanji.

Lah, emang siapa yang mengharap partisipasimu Na? Ge er amat yak. Ha..

Hidup mahasiswi kesehatan Indonesia! *ups, kok mahasiswi? emang lebih banyak sih. oke, direvisi.
Hidup mahasiswa kesehatan Indonesia!
Menuju Indonesia Sehat Seterusnya (gak cuma 2010 aja!)

Yogya, dini hari 13 November 2009

*sungguh, menurutku tulisan ini “ra cetho” banget! bagi yang merasa bingung harap maklum, dan aku pun memaklumimu.
btw, parah banget gak sih mahasiswa farmasi gak ngerti kalo 12 November itu hari kesehatan nasional. Jadi merasa durhaka.. ckckck..

Biasa Saja

mungkin saat ini kita masih kerap tercengang
akan betapa menakjubkannya waktu berjalan
kita masih merasa aneh akan segala perubahan
kita masih merasa sedih dengan sedikit kehilangan

namun nanti, ketika waktu terus mengantarkan kita
dari perubahan satu ke perubahan lainnya
ketika kita telah benar-benar beranjak dewasa
ketika semua hal berarti di masa ini
hanya akan menjadi masa lalu
ketika satu per satu dari kita saling melupa

segalanya akan terasa biasa

Yogya, 310307 20:04

Gadis Kecil dan Rembulan

Seorang gadis kecil menimang sebuah boneka, di ambang jendela, suatu malam.

Gadis kecil itu teringat pertanyaan yang seringkali ia cetuskan, namun tek pernah beroleh cukup jawaban.

Malam ini ia coba bertanya pada rembulan yang tengah menyapa bumi.

“Di mana bunda?”

Gadis kecil itu berujar pelan. Dibelainya perlahan boneka di tangannya. Kata ayah, boneka itu pemberian bunda.

“Sedang apa bunda?”

Gadis kecil itu berujar pelan. Dipandanginya rumpun bunga di halaman, yang ia turut merawatnya. Kala nenek, bunga-bunga itu peninggalan bunda.

“Apa bunda sayang padaku?”

Gadis kecil itu berujar pelan. Dirabanya liontin yang tergantung di lehernya.

Ada potret seorang wanita menggendong bayi di sana. Ia dan bunda. Kata kakek, liontin itu dulu milik bunda.

Apa dunia bunda keemasan seperti engkau, rembulan di atas sana? Apa ada taman bunga yang sangat luas, yang membuat bunda sibuk merawatnya, sehingga tak sempat menengoknya?

Jika boleh memilih, gadis kecil itu tak ingin boneka, bunga, atau liontin. Ia ingin bunda.

Gadis kecil itu menatap rembulan yang sesekali tersaput awan. Ia tersenyum.
Dipandanginya rumpun bunga di halaman sejenak. Digenggamnya liontin yang tergantung di lehernya.

Ia tersenyum sekali lagi pada rembulan. Perlahan ditutupnya jendela.
Gadis kecil itu beranjak ke tempat tidurnya. Sebelum memejamkan mata, ia membelai boneka yang ia letakkan di sisi bantalnya.

Lagi, gadis kecil itu tersenyum.

Malam itu, ia mimpi berjumpa bunda.

Selasa, 20 Juni 2006 10.16am

barisan layang-layang

Alangkah mirisnya melihat keputusasaan seorang pemimpin. Keputusasaan yang mendorongnya mengandalkan kepatuhan prajurit dan mengabaikan kefahaman. Mengandalkan kepercayaan prajurit dan mengabaikan persaudaraan.

Alangkah sedihnya melihat keputusasaan seorang prajurit. Keputusasaan yang disebabkan oleh tak lagi berharapnya ia pada kefahaman dan persaudaraan. Keputusasaan yang memunculkan kepatuhan kosong dan mungkin dianggap sebagai bentuk kepercayaan.

Bertemunya kedua keputusasaan itu akan membuahkan kelanggengan. Ketentraman yang akan memunculkan rasa bahwa segalanya baik-baik saja. Kepuasan yang menyebabkan tak adanya usaha perbaikan sedikit pun juga.

Apakah memang kita harus lebih menerima ketenangan semu? Sementara jama’ah manusia memang sudah sewajarnya berdinamika. Karena memang, masing-masingnya hanya manusia biasa. Dengan isi kepala yang tidak bisa kita atur agar persis serupa.

Aku punya mimpi, kamu punya mimpi, dia punya mimpi, mereka punya mimpi. Pemimpin punya mimpi. Prajurit punya mimpi. Kita semua punya mimpi. Dan bukan kesalahan jika kita tidak bisa memimpikan hal yang sama. Dan pasti ada alasannya Alloh memberikan pada manusia kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Salah satunya agar manusia bisa saling mengerti. Agar terwujudnya mimpi seorang manusia, tidak mengakibatkan hancurnya mimpi manusia lainnya. Sederhana, karena mimpi kita harusnya bisa membubung bersama.

spirit srikandi

bukan karena kuat badannya

melainkan karena tegar hatinya

bukan karena jitu bidikannya

melainkan karena tajam perasaannya

bukan karena keberaniannya bertarung

melainkan karena kesadarannya berjuang

karena dia wanita

maka aku memanggilnya

:srikandi

yogyakarta, 22 okt 2009 11.30am

episode kesendirian

home-alone-catmanusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. manusia tidak bisa hidup sendiri. setangguh apapun dia, pasti dia membutuhkan orang lain. anak esde yang dapat pelajaran pendidikan kewarganegaraan juga sudah pada tahu.

dan tentu saja, sebagai manusia biasa aku pun begitu. **jadi, aku sama sekali bukan catwoman. ingat itu.**

yah, walaupun di sisi lain, manusia adalah makhluk individu. makhluk yang ingin menjaga eksistensi ke-aku-annya. ada saatnya juga manusia ingin sendiri. merasa nyaman sendiri di puncak bukit memandangi lembah yang hijau, di tepian pantai menatap birunya laut, atau dengan cara yang lebih sederhana seperti berdiam di sudut masjid-dan tempat yang lebih pribadi-sudut kamarnya sendiri.

ouch. yang akan aku ceritakan sebenarnya tidak se-mellow itu. memang sih, akhir-akhir ini aku dihadapkan pada episode kesendirian yang kadang-kadang menyesakkan jiwa. tapi masa’ seorang nana jadi mellow cuma gara-gara hal kayak gitu. gak lah. something that didn’t kill you just will make you stronger. ha.. **mulai sesumbar..**

ah kelamaan prolognya. bisa-bisa aku digampar sama orang yang suka to the point.

woke. jadi, kemarin kamis aku jaga praktikum-nyaris saja-sendirian. pak dosen-yang oleh nak 2008 dipanggil dengan sebutan pak pasha-baru dateng satu jam sebelum praktikum selesai, 25% lah dari total waktu praktikum.

jadi yang mbuka aku, ngasih pretest aku, yang nilai aku, yang ngawal presentasi aku. he.. tugas asisten kan emang kayak gitu. masalahnya ada yang nilai pretestnya di bawah limit minimal. aku gak berani ngetok palu buat inhal. kasian juga bocah-bocah pada ribut terus nanya ada yang inhal apa gak. dan aku cuman bisa senyum. dan ternyata senyuman di saat-saat seperti itu justru bikin mereka makin cemas. haghag.. akhirnya inhal baru diumumin pas dosennya datang. duh kasian sebenernya. tapi peraturan harus ditegakkan-itu kata dosennya.

setiap kejadian pasti mempunyai hikmah-sekecil apapaun-di dalamnya. setiap hari yang dilalui akan menjadi jenjang menuju tahap yang lebih baik-bila kita mau.

jaga praktikum sendirian memang bukan kejadian luar biasa. asisten lain juga pernah ngalamin itu. tapi kejadian itu membuatku merenung sekian detik. merasa menyaksikan refleksi hari yang kulalui akhir-akhir ini. duh jadi mellow. nulis apa sih aku ini.

oke. aku buat saja kata-kata pamungkasnya.

mungkin, tiap manusia memang harus mengalami episode kesendirian untuk bisa lebih menghargai serial kebersamaan.

jyahhh….

Jumat siang di SMA

Seperti Jumat-jumat pada umumnya, hari Jumat siang ini aku ke SMA. Beralih sejenak dari segala hiruk pikuk kampus. Beralih dari wifi gelanggang dan farmasi ke wifi teladan. **haha..online..online** Dan yang jelas, menunaikan amanah KIP a.k.a mentoring kelas XI. **tiba-tiba serius..**

Ke SMA setiap Jum’at memang menjadi hal rutin. Tapi rutinitas yang satu ini benar-benar menyegarkan. Bukan cuma karena aku jadi bisa ngabur dari kampus secara terlegitimasi loh. Seperti hari ini, aku bisa tersenyum riang-nahan ketawa-saat keluar dari gerbang SMA. Itu menjadi begitu berharga di tengah hari-hari pahitku. Haha.. Continue Reading »

Srikandi abad ini

Kami wanita, itu sungguh kami sadari

Kami tak pernah menuntut emansipasi
karena yang kami yakini,
Tuhan tak pernah salah memberi porsi

Kami wanita, dan kami coba menghayati

Maka kami tak sanggup berdiam diri
Berjajar anak panah yang berharap pada rentangnya busur kami
Dan mereka tak dapat terlalu lama menanti

Kami wanita, itu takkan kami ingkari

Namun bukan berarti kami tak bisa lebih berani
Bukan berarti tak boleh kami yang berinisiasi

Kami siap memberi, beraksi, berkontribusi
untuk Islam, untuk bangsa, untuk almamater yang kami cintai

karena kami, adalah srikandi abad ini

Yogyakarta, 1 Oktober 2009, 05:20 am

logo NABanyak hal yang bisa kita dapat dari silaturohim. Dan Ahad sore kemarin, aku mendapatkan sepaket komplit tausiyah dari silaturohim.

Semua kisah ini diawali Sabtu pagi, ketika hp-ku kemasukan sms lebaran dari Mbak Ulfa yang di belakangnya dikasih embel-embel “dk Nana kpan ad wktu utk silkoh Muhammadyh Blctr?ahad 27Sep Jm 15.30 pe 18.30 gmn?”

Astaghfirulloh. Itu kan SEHARUSNYA jadi programnya infokom. Woke, aku jadi merasa bersalah. Dan rasa bersalah adalah salah satu hal manjur untuk membuat seorang Nana menuruti permintaan seseorang.

Jadi, aku mengiyakannya-lewat sms-dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja mendapat balasan “Nanti yg d dtngi:pkGiman, pkImam, BuSandra, pakNHP, pakzainal, pakSugeng, pakSajiyo, pakHaryono.d tggu d rmah mbulfa jm 16.00″ Continue Reading »

Jawa dan bukan Jawa

Pada suatu hari di pekan lalu, aku mengeong di tempat yang tak biasa. Hawanya sih sama saja dengan jogja. Tapi suara-suara yang terdengar di sekitarku menandakan bahwa tempat ini sama sekali lain.

Saha eta dan eta teh saha masih bisa dicerna otakku. Tapi lebih banyak suara yang tak bisa kudefinisikan.

“Bla bla bla bla…,” ucap sang ibu. Aku tersenyum maksimal-jangan tanya bagaimana senyum maksimal itu.

“Bla bla bla…,” beliau berucap lagi sambil menunjuk seonggok kain. Aku mengangsurkan dua lembar kain pada beliau tapi beliau mengembalikan salah satunya.

“Gak bisa sunda?” tanya beliau. Aku tersenyum lagi-sedikit di bawah maksimal-sambil mengangguk.

Aku sudah mencoba mengurangi kemencolokan dengan menggunakan a’ sebagai pengganti mas dan teh sebagai pengganti mbak. Tapi itu ternyata malah menjerumuskan.

“)(&^!&%&*%$#(^(&)…” (tidak terdefinisikan dengan abjad apapun oleh telingaku)

Aku mencoba mengolahnya dalam otakku untuk bisa mengeluarkan respon yang tepat. Tapi sel-sel kecil kelabuku-istilahnya Agatha Christie-tidak mampu berbuat banyak sekeras apapun usahanya. Maka ekspresiku datar-datar saja. Aku juga tidak mengeluarkan suara apapun. Singg…

“Teteh teh Jawa?”

Ekspresi tetap datar, “Iya.”

“Bla bla bla..” tidak jelas ngomong apa, tapi artinya kira-kira ‘pantesan gak tau’. Ha. Memangnya ini pulau apa.. -_-

Ada lagi yang ngomong, “Cah dua batangan wae.” Nah yang ini aku ngerti artinya. Jadi aku senyam senyum gak jelas. Yang ngomong malah jadi tengsin akhirnya karena ngira aku gak tahu artinya.

Huhuhu… Kapan-kapan perginya nyebrang pulau sekalian ah. Biar gak dong sama sekali.

IMG000045Selama setahun kemarin aku menjalani hidupku dengan biasa-biasa saja. Seolah semuanya baik-baik saja. Seakan segalanya lengkap dan sempurna.. Sampai hari Sabtu kemarin..

Sabtu siang, 19 September 2009, aku dan lia-tetanggaku-kebagian shift terakhir penerimaan zakat. Kami dilanda kebosanan yang amat sangat. Dan lia mulai menginspeksi kantong HPku-yang juga adalah  dompetku- sebagai hiburan. Mulailah kami ngobrol tentang KTM dan diversifikasi KTM masing-masing perguruan tinggi. Lalu tibalah kartu ajaib itu dia amati. Kata dia,

ya ampun KTPmu jadul banget

Aku cuma mesam-mesem sambil ngitung duit-yang bukan duitku-. Kataku,

padahal masa berlakunya masih lama

Tak sengaja, aku memandangi KTPku yang ada di tangannya. Aku mulai merasa ada yang aneh. Cepat kuraih KTPku.

hah? masa berlakunya habis tahun 2008?????!!!!!!

Lia gak kalah kaget. Selanjutnya dia cuma bisa ber-ya ampuuunnnn…

Agak lama aku memegangi KTP biruku itu dan merenungi angka tahun 2008 yang tertulis di bawah tulisan ‘Berlaku s/d’. Selama ini aku dengan pede mengira KTPku baru expired tahun 2011-yang ternyata itu adalah tahun expired SIMku. Aku merenungi kenyataan bahwa itu adalah hari Sabtu, H-1 lebaran, sehingga gak mungkin aku ngurus KTP saat itu juga. Padahal sepertinya dalam waktu dekat aku akan membutuhkan KTP. Aku lihat tulisan di balik KTPku.

Selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak masa berlakunya habis, penduduk yang bersangkutan diwajibkan mengajukan permohonan untuk memperoleh Kartu Tanda Penduduk yang baru. Pelanggaran terhadap ketentuan ini diancam dengan pidana kurungan/denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Haha. Gak mungkin mereka tega mengurungku. Mubadzir. Tapi jelas akan tega mendendaku. Owh.. Tapi.. Alhamdulillah dendanya gak dilipatgandakan sesuai masa keterlambatan..

Sungguh, aku adalah warga negara yang baik-walo kadang menerobos lampu merah. Tapi tanpa KTP yang masih berlaku, aku gak berani koar-koar lagi soal Indonesia 100%. Entah berapa sekarang persentase ke-Indonesia-anku.

Older Posts »