Feeds:
Posts
Comments

Friendship

Since they were “little”, friends know when they will be friends.
Because they share moments, give support, always are side by side, either in victory or in defeat.

Friendship isn’t always about agreeing.
But they give in from time to time.

Friendship is like having a brother that doesn’t live in the same house.
It’s sharing secrets and emotions.
It’s understanding and having fun!
It’s counting on someone whenever you need them.

It’s to have something in common. And yet have nothing in common.
It’s to relly not have something in common!
It’s to know you have more in common than you imagine.

It’s about missing them.
It’s feeling like you need some time away!
It’s to prefer them.
And feel a little jealous!

Real friendship never ends.
Even if we grow up.
And even if we meet other people.
Because friendship can’t be explained.
It simply exists.

(Mauricio de Sousa, a Brazilian comic artist who created Monika)

Yang Fana adalah Waktu

Awal bulan ini, saya berkesempatan sharing bersama sekumpulan anak muda. Ya, dalam lingkup tertentu, saya sudah sangat tua. Saya sebenarnya mendapat jatah untuk lebih banyak menghadirkan sejarah pada mereka, tapi akhirnya saya tergoda juga untuk mengusik pandangan mereka tentang, sebutlah, masa depan. Dalam forum yang saya anggap sebagai sarana ngobrol santai itu beberapa kali saya sodorkan pertanyaan, sebagiannya retoris. Dan alhamdulillah selalu ada jawaban, walau sebagiannya normatif. Sampai saya lontarkan satu pertanyaan itu,

“Apakah kalian siap kalah?”

Diam. Ada yang menghela napas. Beberapa kepala saling pandang. Tetap begitu sampai saya lontarkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang lebih tegas. Siapa tahu awalnya mereka tak cukup yakin dengan apa yang mereka dengar. Saya pandangi wajah-wajah mereka satu per satu, mencari jawaban. Dan saya menemukannya pada raut mereka, yang tidak terwakili dengan kata-kata.

Continue Reading »

[Saya sudah janji pada seseorang mau bikin note tentang baliho, jadi beginilah jadinya. Geje tidak apa-apa. Sekadar ngomyang seperti biasa.]

Sejak zaman dahulu kala, mahasiswa dan percetakan bersahabat dekat. Mahasiswa sibuk, percetakan ikut sibuk. Dan akhir tahun adalah saat-saat yang indah bagi kebersamaan mahasiswa dan percetakan. Akhir tahun, adalah saatnya banyak organisasi kemahasiswaan membuat acara-acara besar sebagai gong penutup kepengurusan. Acara besar sama dengan baliho besar. Baliho besar bagi percetakan adalah order besar. Order besar adalah kebahagiaan besar. Continue Reading »

Resolusi 1433

Pernah ada seorang teman yang bertanya, “Kenapa sih Na kamu bisa selalu semangat begitu?”. Teman yang lain pada periode yang lebih lampau pernah bilang, “Kamu kalau ngomong selalu sambil senyum ya.”

Kalau ingat pertanyaan dia dan dia itu, saya jadi sedih sendiri. Mungkin dia dan dia tidak akan menanyakan itu pada saya yang saat ini. Saya menyadarinya sendiri, saya tidak sesemangat dulu. Bahkan sama sekali tak menggebu. Saya menjadi makin datar. Makin sering menampakkan pokerface dibanding dulu, padahal dulu saja saya sudah termasuk orang yang sering ber-pokerface. Continue Reading »

Jama’ah [1]

Apa yang terpikir pertama saat mendengar kata jama’ah?

Arti katanya? Afiliasi? Judul buku? Sholat? Organisasi teroris? Atau malah Ustadz Maulana?

Continue Reading »

Husnudzon [4]

Prasangka baik.

Positive thinking.

Praduga tak bersalah.

Presumption of innocence.

+ + +

 

Someday, once, maybe I should beg yours.

Simbah dan Simbah

Hari ini adalah Hari Sumpah Pemuda. Walaupun katanya orang tua hanya bisa bercerita tentang masa lalu, tapi hari ini saya ingin menulis tentang simbah dan simbah. Masa lalu adalah masa lalu. Tapi ada banyak hal yang bisa dipelajari dari masa lalu orang lain, termasuk simbah dan simbah.

Ada dua orang di dunia ini yang saya sebut sebagai simbah, ibu dari bapak saya dan kakak perempuannya. Dua simbah saya ini sangat istimewa bagi saya. Keduanya mempunyai peran besar selama proses tumbuh kembang saya. Sejak saya mulai mampu menyebut nama dan mengingat, ayah dari bapak sudah meninggal. Tidak pernah ada penyebutan mbah putri atau mbah kakung, hanya simbah. Sehingga waktu kecil sempat saya mengira bahwa simbah adalah versi Jawa dari kata nenek dan tidak berlaku untuk kata kakek.

+ + + Continue Reading »

Simfoni Luar Biasa

Jumat petang kemarin saya akhirnya menonton film Simfoni Luar Biasa, incidentally (atau malahaccidentally?). Awalnya saya sama sekali tidak tahu film apakah gerangan Simfoni Luar Biasa itu. Hanya diberitahu oleh seorang uni-uni yang sedang berada nun di ranah Minang sana kalau ada film bagus yang main Christian Bautista. Dan kemarin saat saya bersama seorang kawan menunaikan belanja akbar tiga bulanan di Malang Town Square a.k.a. Matos, kami iseng lewat depan 21 untuk melihat film yang diputar. Di tengah-tengah poster film yang tampak spektakuler (Abduction) dan yang entah kenapa ada orang yang bikin (Hantu Pocong Perawan dan Keranda Kuntilanak), nyempil poster Simfoni Luar Biasa. Dan ide untuk nonton saat itu muncul begitu saja. Spontan. Kami masuk saat film sudah diputar sekitar 5 menit dan masih banyak seat yang kosong.

Continue Reading »

Kamu gak berubah ya Na.

Sudah beberapa kali saya mendapat komentar seperti itu. Dan dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Jika komentar-komentar tersebut diintegrasikan, berarti saya tidak berubah dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi benarkah saya tidak berubah?

Saya hampir selalu menyangkal bila dianggap tidak berubah. Saya merasa berubah. Saya yang saat ini menulis catatan ini tidak sama dengan saya satu jam yang lalu. Apalagi dibandingkan dengan saya saat terakhir kali bertemu dengan kamu, dia, mereka, kalian; tadi, kemarin, pekan lalu, bulan lalu, atau bahkan tahun lalu.

Hipokrates yang berabad-abad lalu berkata bahwa satu-satunya hal yang konstan di dunia ini adalah perubahan. Saya jelas-jelas ada di dunia seperti halnya Hipokrates. Walaupun jelas pula bahwa dunia di mana saya hidup saat ini tidak lagi sama dengan dunia di mana Hipokrates hidup.

Menurut pelajaran fisika yang saya peroleh di masa lalu, yang memungkinkan untuk konstan adalah percepatan itu sendiri. Sementara percepatan itu sendiri pada kenyataannya juga bisa berubah.

Continue Reading »

Sebuah Rumah : Musholla

Kemarin malam (Selasa 13 September) saya “mapan turu” menjelang pukul 22.00. Tapi ternyata saya tidak terlelap  juga. Lalu saya bangun, mengambil meja lipat, buku gambar dan geng pensil [bukan geng potlot :p ]. Saya akhirnya menggambar semacam disain musholla rumah yang selama ini cuma ada di bayangan saya. Sekitar satu setengah jam kemudian disain jadi-jadian itu selesai. Gambarnya seperti ini :

Continue Reading »

SK*K

Saya sering terheran-heran dengan tingkah laku ABG jaman sekarang. Saya sendiri sudah lupa, pada jaman apa saya menjadi ABG. Yah harusnya sih di jaman yang lebih modern daripada saat Sholahuddin al Ayyubi menaklukkan Yerussalem.#ngomyang.

ABG jaman sekarang tuh ya, kadang-kadang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal (bagi yang sudah bukan ABG lagi). Tiap itu boyband tampil di tivi, tidak akan melewatkan untuk nonton. Malah dibela-belain pula datang jauh-jauh untuk ketemu langsung. Terus masa’ ketemu sama boyband [sebut saja SK*K=dibaca skak] sampai nangis-nangis. Yang gagal ketemu padahal sudah nunggu, nangisnya lebih kenceng.  Lalu rasa sukanya sama boyband idolanya itu juga tidak masuk akal, sampai tidak jelas lagi alasan kenapa bisa suka. Continue Reading »

Aku Ingin MencintaiMu

Somehow, saat mendengarnya lagi setelah sekian lama tidak, kata-kata ini memunculkan rasa bersalah yang lebih besar dari sebelumnya.

Tuhan betapa aku malu

Atas semua yang Kau beri

Padahal diriku terlalu sering membuatMu kecewa
Entah mungkin karena ku terlena

Sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali

Agar aku kembali
dalam fitrahku sebagai manusia

untuk menghambakanMu
Betapa tak ada apa-apanya aku di hadapanMu

Aku ingin mencintaiMu setulusnya,

sebenar-benar aku cinta
dalam do`a

dalam ucapan

dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekatiMu selamanya
sehina apapun diriku
Kuberharap untuk bertemu denganMu ya Robbi

(Edcoustic-Aku Ingin MencintaiMu)

Tulisan ini hasil kutip mengutip (dengan secuprit editing) dari Rubrik Dirosat/Kajian Utama Majalah Tarbawi Edisi 256 Th 13.

Lelaki itu berlalu di hadapan Rosululloh. Sedang bekerja keras. Sangat nampak melawan lelah dan menggesa kesungguhan. Para sahabat yang melihatnya berkata kepada Rosululloh, “Wahai Rosululloh, sekiranya yang ia lakukan itu dinilai berjuang di jalan Alloh?”

Maka Rosululloh menjawab, ” Kalau ia keluar rumah untuk kerja keras demi anaknya yang masih kecil, maka ia pejuang di jalan Alloh. Jika ia keluar demi kedua orangtuanya yang renta, maka ia pejuang di jalan Alloh. Jika ia keluar untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan demi menjaga kehormatan dirinya, maka ia pejuang di jalan Alloh. Tapi jika ia keluar karena mengejar angkuh dan besar diri, maka ia berjuang di jalan syaithon.”

Satu rasa lelah bisa memiliki makna yang berbeda-beda. Bisa datang pada setiap kita, pada bermacam kesibukan, pekerjaan, dan jerih payah. Semua meniscayakan rasa lelah.

Sehebat apapun, kita tidak bisa menjangkau semua hal. Sepandai apapun, kita tidak bisa menguasai seluruh pengetahuan. Sekuat apapun, ada jeda dan istirahat yang harus kita ambil. Kita manusia, maka kita punya lelah.

Maka rasa lelah adalah siklus. Ia punya saatnya untuk menghampiri diri kita. Dan tak seorang pun dari kita yang benar-benar terbebas dari rasa lelah. Rasa lelah merupakan pusat kesadaran tentang betapa Alloh Maha Sempurna karena Dia tak pernah lelah.

Rosululloh pun didera kelelahan dalam beratnya mengemban amanah kenabian. Namun beliau memenuhi perintah Alloh untuk bangun dan bangkit keluar dari selimut.

Islam memetakan rasa lelah jauh sampai ke akhirat. JanjiNya dalam al Quran, orang-orang yang beriman akan dimasukkan ke dalam surga dan dibebeaskan dari rasa lelah.

Kesuksesan di bidang dan dalam hal apapun selalu didahului rasa lelah. Kebahagiaan tidak akan dicapai tanpa merasakan kelelahan, susah payah, dan memberikan kesungguhan terlebih dahulu.

Semoga Alloh menjadikan kita orang-orang yang selalu diberi kemudahan melalui siklus-siklus kelelahan itu, untuk mewujudkan cita dan harapan kita.


Harry, Hermione, dan Ron akan menghadapi ujian akhir semester, dimulai besok. Profesor Snape memberikan bahan baru yang belum disampaikannya di kelas untuk ujian besok pada hari ini. Hermione langsung mengoordinir untuk memfotokopi bahan ujian untuk semua anak di kelas. Mas-mas di tempat fotokopian didesak untuk segera menyelesaikan order mereka. Saat semua fotokopian sudah dibagikan dan berkas asli dikembalikan pada Profesor Snape, Hermione kembali ke asrama sambil membuka-buka bahan ujiannya. Ternyata kurang halaman terakhir! Padahal ada kesimpulan-kesimpulan penting pada bagian itu. Ia bergegas menyeret Harry dan Ron ke tempat fotokopian. Ron melihat gelagat tidak baik jadi dia bilang harus buru-buru ke asrama. Hermione pun pergi bersama Harry. Lalu ia marah-marah pada mas-mas yang tadi mengerjakan ordernya. Harry menenangkan sambil menyodorkan bahan ujiannya dan mengatakan pada mas-masnya untuk memfotokopi halaman terakhir. Hermione pulang ke asrama dengan bahan ujian yang lengkap sambil bersungut-sungut. Continue Reading »

Stubborn

Harus selalu ada manusia keras kepala di dunia ini, meskipun satu.

 

Harus selalu ada manusia yang berani membangkang, meskipun satu.

Agar mereka yang takluk, punya keabsahan nilai baik sebagai penurut.

 

Harus selalu ada manusia yang lantang menyuarakan kebenaran yang diyakininya saat seluruh dunia berpendapat berbeda, meskipun satu.

Sebab itu adalah kewajibannya walaupun pahit.

 

Harus selalu ada manusia yang mau lelah berjuang meski tidak tahu apakah akan ada hasilnya, meskipun satu.

Karena itu lebih baik daripada lelah menggerutukan keadaan yang tak pernah menjadi lebih baik.

 

Harus selalu ada manusia yang menyatakan bahwa yang salah itu salah, meskipun satu.

Sebab jika tidak, bisa jadi mereka yang berwenang tidak akan pernah menyadarinya sebagai kesalahan.

 

Harus selalu ada manusia yang siap berjuang demi kebenaran dan siap dicatat sejarah sebagai permberontak atau teroris, meskipun satu.

Karena suatu saat pasti akan ada manusia lain bernurani jernih yang akan melanjutkan perjuangannya.

 

Harus selalu ada manusia yang optimis dan percaya di tengah keputusasaan, meskipun satu.

Bisa jadi itulah satu-satunya alasan untuk bertahan.

 

Harus selalu ada manusia keras kepala di dunia ini, meskipun satu.

Meskipun satu.

Dan kamu, ya kamu, maukah menjadi yang satu itu?

 

Malang, 13 Juli 2011

Script Spirit

Bagi sebagian orang, proses pengerjaan skripsi bisa jadi sangat lancar, on the track, berpresisi tinggi terhadap jadwal yang dibuat di awal, dan penuh kemudahan. Semudah menemukan es krim di mini market. Tapi bagi sebagian yang lain, mengerjakan skripsi berarti menguras kantong, dompet, rekening, darah dan air mata-paling tidak darah mencit, tikus, kelinci, dan hewan-hewan tanpa tanda jasa lainnya. Lika-likunya melebihi Kelok 44-nya Danau Singkarak. Manuver-manuver yang harus dibuat lebih spektakuler daripada pilot F-16. Dan jelas lebih bisa menjadi kisah klasik untuk masa depan daripada kisah mencari es krim.

Bagi yang baru jadi draftnya dan ternyata disuruh revisi, ketahuilah bahwa ada orang yang revisi berkali-kali tanpa tahu kapan kisahnya akan berujung, dan dia tidak berhenti.

Bagi yang sudah revisi berkali-kali, ketahuilah bahwa ada orang yang harus kelimpungan membahas datanya hingga tidak kunjung bisa menyodorkan draft akhir untuk direvisi, dan dia tidak berhenti.

Bagi yang kelimpungan membahas data, ketahuilah bahwa ada orang yang untuk mencari data saja dia harus jungkir balik salto rol depan rol belakang [eh itu senam lantai ding, bukan cari data], bahkan mungkin harus mengulang beberapa kali karena data awalnya tidak sesuai harapan, dan dia tidak berhenti.

Bagi yang jungkir balik mencari data, ketahuilah bahwa ada orang yang untuk memperoleh izin agar dapat mencari data saja dia harus mondar-mandir layaknya setrika, diping-pong ke sana kemari, dan dia tidak berhenti.

Bagi yang berjuang memperoleh izin, ketahuilah bahwa ada orang yang harus memeras pikiran habis-habisan karena proposalnya tidak kunjung dianggap layak oleh pembimbingnya, dan dia tidak berhenti.

Bagi yang habis-habisan menyusun proposal, ketahuilah bahwa ada orang yang ditolak berkali-kali saat mengajukan judul dan harus membangun rancangan skripsi dari nol lagi, dan dia tidak berhenti.

Bagi yang ditolak judulnya berkali-kali, bersyukurlah atas kemauan yang kau punyai. Ketahuilah bahwa ada orang yang untuk membentuk niat mengerjakan skripsi saja ia kesulitan, dengan berbagai alasan yang melatarbelakangi.

Bagi yang sebenarnya punya niat tapi punya kendala-kendala yang kamu tak kuasa mengatasi, cobalah berbagi. Kita tidak pernah tahu, makhluk mana yang dikehendaki Alloh dapat menyelesaikan permasalahan kita. Barangkali justru bukan kita sendiri.

Bagi yang belum niat, sedang berusaha membentuk niat, atau mungkin mencicil niat, masa’ kamu mau berhenti di sini? Teman-temanmu juga bukan tanpa kesulitan dengan skripsinya. Tapi mereka berani mengambil risiko dan menghadapinya.

Where there is a Will, there is Kate Middleton. Eh salah lagi :D

Jika ada kemauan, akan ada seribu jalan. Jika tidak ada kemauan, akan ada seribu alasan.

Absolutely, you have no reason to stop it now.

Seseorang yang bertanggungjawab akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menuntaskan sesuatu yang sudah pernah berani ia mulai.

Di hadapanNya, tidak ada yang sia-sia. :)

Malang, 5 Juli 2011

*terima kasih untuk kawan-kawan yang dulu mengingatkanku untuk tidak berhenti :)

A few months ago…

Aku : “Mau masuk SMA mana?”

Prima : “Masih bingung.”

Aku : “Masuk pondok aja. Belajar yang bener, trus kamu kuliah di Kairo. Trus ntar bawa oleh-oleh pasir gurun Sahara.”

Prima :   :(

Aku : “Lha daripada bingung.”

Prima : “Pengennya sih SMA 1. Tapi katanya SMA 1 itu…. “

Aku : “Ada hantunya?” :D *antusias

Prima : “Bukaaaannnn.”

Aku : “Trus?”

Prima : “Katanya SMA 1 itu bla bla bla….” *biasalah, katanya-katanya yang seperti biasa itu

Aku : “Siapa yang bilang kayak gitu?”

Prima : “Temanku.”

Aku : “Temanmu anak SMA 1?”

Prima : “Bukan. Dia teman seangkatanku. Dia diceritain temannya.”

Aku : “Temannya temanmu anak SMA 1?”

Prima : “Bukan. Dia sekolah di SMA xxx.”

Aku :   :|

Prima : “Trus yang dia bilang itu benar apa tidak?”

Aku : “Kalau aku bilang tidak benar, kamu percaya sama aku apa sama dia?”  :|

Malang, 28 Juni 2011 19.20

Cuma mau mengucapkan selamat untuk adekku (adek yang di rumah, bukan yang di mana-mana, dan jelas bukan Adek yang biasa mendaki Kaliadem dan Gunung Kidul). Tahu rasa kamu. Silakan dibuktikan sendiri ‘katanya-katanya’ yang temanmu bilang itu. Wkwkwk.. Enjoy your high school life! :D

Kelas [2]

Sophie melihat sebuah meja besar berdiri di tengah padang bunga liar. Seorang pria tua duduk di sana, jelas sedang menghitung angka-angka. Sophie mendatanginya dan menanyakan namanya.

“Ebenezer Scrooge,” katanya, membaca dengan teliti buku kasnya lagi.

“Namaku Sophie. Anda seorang pedagang, kukira?”

Dia mengangguk. “Dan amat sangat kaya. Tidak sepeser pun boleh disia-siakan. Itulah sebabnya aku harus memusatkan perhatian pada hitunganku.”

“Mengapa repot-repot?”

Sophie melambaikan tangan dan meneruskan perjalanannya. Tapi dia belum melangkah jauh ketika dia melihat seorang gadis kecil duduk sendirian di bawah salah satu pohon tinggi. Pakaiannya compang-camping, dan dia tampak pucat dan sakit. Ketika Sophie lewat, dia memasukkan tangannya ke dalam sebuah kantung kecil dan menarik keluar sekotak korek api. Continue Reading »

Husnudzon [2]

Bisa jadi para leluhur dahulu begitu sering menjumpai kejadian di mana ada kucing hitam lewat dan beberapa waktu kemudian mereka terjatuh atau tertimpa bentuk kecelakaan lain. Jadilah si kucing dipersalahkan sebagai penyebab.

Padahal hubungan antara dua kejadian tidak selalu begitu. Untuk menyatakan adanya hubungan antara dua kejadian saja, dibutuhkan pengamatan dengan syarat tertentu. Apalagi untuk menyatakan bahwa kedua kejadian mempunyai hubungan kausalitas.

Seberapapun seringnya suatu kejadian A diikuti oleh kejadian B pada waktu berikutnya, belum tentu kejadian A merupakan sebab dari kejadian B. Walau Rani selalu masuk kantin setelah Rudi masuk terlebih dahulu, tidak selalu berarti Rani masuk karena Rudi juga masuk.

Tapi akal manusia memang terpola untuk mencari asal muasal dan sebab musabab. Maka jadilah pola kausalitas diterapkan di mana-mana. Yah, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan oleh manusia sebelum menyimpulkan bahwa dua kejadian mempunyai hubungan kausalitas.

Pertama, tidak percaya takhayul. Titik. Waduh sudah terlanjur titik, padahal masih mau dilanjutkan. Haha. Jadi, tidak boleh ada lagi kucing-kucing atau makhluk polos lain yang dipersalahkan. Sangat besar kemungkinannya orang jatuh walaupun di sekitarnya tidak ada kucing seujung ekor pun. Dan sayangnya manusia tidak pernah menghitung berapa kali ada kucing lewat dan setelahnya dia mendapat keberuntungan.

Kedua, berusaha husnudzon sampai titik terakhir. Duh, titik lagi. Suka banget sih nyebut-nyebut titik. Jadi tidak ada Rani-Rani lain yang terkena prasangka hanya karena selalu masuk kantin setelah Rudi. Suatu saat mungkin Rani masuk kantin begitu saja sementara Rudi masih tepar di kos setelah begadang nonton bola. Atau Rudi masuk kantin tapi Rani malah makan batagor di bawah pohon beringin.

Malang, 16 Juni 2011 16:57

NB : Bila ada kemiripan nama dan kejadian dalam tulisan ini dengan pengalaman pribadi Anda, ini bukan kesengajaan. Meskipun juga bukan kebetulan karena tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Dan yang paling penting, saya bisa jamin bahwa tidak ada kucing yang teraniaya selama pembuatan tulisan ini.

It’s the Same

Touma : “I think it’s the same.”

Kana : “Eh?”

Touma : “Suzuko-san’s mother who wanted to protect her daughter, and your father who prayed that you become a strong person who could protect herself, are both the same parental love.”

[Q.E.D. eps 2]

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.