Jumat siang pekan lalu, 20 November 2009, sebenarnya biasa saja. Pukul dua belas lewat aku duduk-duduk di salah satu dari deretan sofa lobi SMA. Menunggu adek-adek sambil memanfaatkan wifi gratisan. Dan bukan hal yang aneh pula ketika ada satu anak SMA menghampiriku.
Dia tampak agak kebingungan. Aku mengira dia akan menanyakan apa aku sudah bertemu mbak X yang adalah mbak mentor dia.
Dia duduk di sampingku lalu bertanya, “mbak, boleh nanya sesuatu?”
Wah, apaan nih, pikirku. Serius sepertinya. Biasanya anak SMA nanya soal fiqh gitu. Hmm.. Susah juga kalo dia nanya yang aneh-aneh. Tapi aku menjawab juga dengan, “Iya, apa?”.
Maka dia pun melanjutkan, “Apa bedanya antara ob…”
Saat sampai pada “..ob-”, selama sepersekian detik aku mengira dia akan bertanya tentang obat. Subhanalloh, pikirku. Dia kan gak tahu diriku anak farmasi. Kok bisa pas gitu nanya tentang obat ke aku.
Tapi lanjutannya membuatku tercengang beberapa detik. Ternyata begini kalimatnya. “Apa bedanya antara objek kajian dan sasaran?”
Euh.. Apa aku punya tampang calon guru bahasa Indonesia? Toloongg…
Akhirnya aku menjawabnya dengan menggunakan logika bahasa ’sakkecekele’ alias sedapatnya. Karena sedikit penasaran, aku bertanya lebih lanjut, “Emang konteksnya apa, Dek?” Seharusnya aku tidak gegabah dengan menanyakan itu. Tapi sudah terlanjur.
“Ini lho mbak, ada tugas PKN, wawancara… blablabla… ke partai politik… blablabla.. temanya tentang bagaimana kondisi partai politik dan strategi yang digunakan untuk meraih simpati masyarakat.”
Ugh.
Desperado. Desperate. Side-kick. Yellow-card. A perfect hit.
Tolong, aku tidak perlu diingatkan tentang hal seperti itu di tempat sedamai-seriang-seceria-seinnocent-sesejuk SMA ini. Politis banget hidupku sekarang. Dan SMA adalah goa tempatku menyepi sejenak seminggu sekali dari itu semua.
Seremuk-remuknya aku setelah dipukul dengan telak oleh si adek, akhirnya aku tetap melanjutkan ngumbahi tentang objek dan sasaran, yah tadi kan sudah bilang bersedia ditanyai. Gak etis kan kalo aku tiba-tiba ngabur sambil bilang, “Maap dek, tiba-tiba mbak sakit perut denger kata-kata adek.”
Hew.. Pertanyaan si adek memang tergolong sederhana. Tapi tolong, biar bagaimanapun, aku ini cuma mahasiswi farmasi biasa. Tanyai aku tentang obat-obatan dan kesehatan saja, agar aku sadar bahwa aku masih harus lebih banyak belajar. F>_<’
Rokok dan kegiatan merokok saat ini dapat kita temui di mana saja. Bahkan bagi sebagian orang, merokok telah menjadi suatu kebutuhan utama, melebihi sandang-pangan-papan. Dengan kondisi seperti itu, tentu sangat sulit menerapkan aturan pelarangan merokok, termasuk penerapan Pergub No.42/2009. Terlebih lagi aturan ini belum mempunyai bentuk pengaplikasian konkret. Kebiasaan dalam masyarakat yang menganggap “Aturan ada untuk dilanggar” semakin memperparah keadaan.

Scene 1



manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. manusia tidak bisa hidup sendiri. setangguh apapun dia, pasti dia membutuhkan orang lain. anak esde yang dapat pelajaran pendidikan kewarganegaraan juga sudah pada tahu.
Seperti Jumat-jumat pada umumnya, hari Jumat siang ini aku ke SMA. Beralih sejenak dari segala hiruk pikuk kampus. Beralih dari wifi gelanggang dan farmasi ke wifi teladan. **haha..online..online** Dan yang jelas, menunaikan amanah KIP a.k.a mentoring kelas XI. **tiba-tiba serius..**
Banyak hal yang bisa kita dapat dari silaturohim. Dan Ahad sore kemarin, aku mendapatkan sepaket komplit tausiyah dari silaturohim.
Pada suatu hari di pekan lalu, aku mengeong di tempat yang tak biasa. Hawanya sih sama saja dengan jogja. Tapi suara-suara yang terdengar di sekitarku menandakan bahwa tempat ini sama sekali lain.
Selama setahun kemarin aku menjalani hidupku dengan biasa-biasa saja. Seolah semuanya baik-baik saja. Seakan segalanya lengkap dan sempurna.. Sampai hari Sabtu kemarin..
