Yogyakarta. Sejak lahir udara Yogya-lah yang aku hirup. Budaya Yogya-lah yang aku hayati. Jalanan Yogya yang hampir tiap hari aku lintasi. Pernah memang aku merasa begitu bosan, hingga berkali-kali berniat meninggalkannya. Tapi yang terjadi, aku tetap di sini.
Dulu aku tidak begitu memahami apa bagusnya Yogya. Waktu SMP, SMPku dekat dengan nol kilometernya Yogya, aku heran melihat orang-orang datang berbus-bus. Sementara aku sudah tidak punya rasa tertarik pada deretan bangunan di pusat kota itu-terutama karena tiap ke sekolah aku melewatinya. Tapi lama-lama, setelah merenung-renung sejenak, aku bisa merasakan keeksotisan Yogya juga.
Salah satu titik eksotis Yogya yang membuatku agak miris adalah tugu. Benda yang berada di tengah perempatan Jl Jend Soedirman-Jl AM Sangaji-Jl Diponegoro-Jl Mangkubumi ini menjadi tempat favorit untuk foto-foto. Kenapa agak miris? Karena aku teringat sedikit kisah sejarah tugu ini yang pernah kubaca di majalah imut bernama exploringYOGYA (eY)yang sekarang sudah gak terbit lagi. Alhamdulillah majalah itu masih setia nangkring di rak buku, jadi bisa kucontek buat ditulis di sini.
Dalam eY volume 14-April 2001 itu, redaksinya mengutip sebuah naskah koleksi perpustakaan Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Jadi katanya, tugu pertama kali didirikan oleh Sri Sultan HB I pada tahun 1755 sebagai simbol perjuangan rakyat dalam mendirikan kesultanan Yogyakarta. Tapi tugu yang didirikan ketika itu bukan seperti yang sekarang, melainkan tugu dengan tinggi 25 meter berbentuk golong-gilig. Perbandingannya bisa dilihat di gambar ini.

Tugu yang aseli memiliki sebuah bulatan bola, golong, di puncaknya, ditopang kerucut yang gilig, yang bundar-kuat. Golong-gilig, melambangkan tekad dan semangat juang yang bulat dan kuat, sesuatu yang tidak disukai Belanda ketika itu. Dan, gempa bumi besar tahun 1867 meruntuhkan sepertiga dari tugu tadi mulai dari puncaknya. Belanda yang berkuasa mengambil kesempatan itu untuk meruntuhkannya sekalian, dan membangunnya kembali pada 1889. Merombaknya, menghilangkan lambang golong-gilignya, dan menggantinya dengan sebuah tugu yang sama sekali baru, yang tanpa ‘arti’, yang tetap berdiri hingga saat ini. **bahkan ada bintang David-nya segala itu tugu yang sekarang.. -_-”
Kelebihan tugu yang sekarang adalah, jelas, lebih oke untuk ‘diajak’ poto bareng. Dibandingkan tugu yang sekarang, tugu golong-gilig emang kelihatan gak ada indah-indahnya, dan terlalu tinggi. Banyak instansi di Yogyakarta yang menggunakan tugu ini sebagai bentuk dasar logonya, termasuk SMA-ku. Nah, miris kan. Produk Belanda ini digemari dan dikenal luas sebagai ’simbol kota Yogyakarta’. Bisa nangis darah kalo sampai Sri Sultan HB I tahu. **plis deh jangan lebay..
Sungguh, aku tidak bermaksud mengganggu kenikmatan kawan-kawan dalam ‘menyantap’ Yogyakarta. Yah biarlah tugu tanpa ‘arti’ ini yang kalian kenang. Karena aku merasa, bahwa ketika nanti aku bisa merasakan yang namanya ‘rindu Yogya’, tugu itu pulalah yang menjadi bentuk simbolik dalam pikiranku. Jadi sebenarnya apa maksud aku menulis tulisan gak jelas ini? Yah, aku cuma ingin bilang, aku akan merindukan Yogya, kawan. Aku nanti akan merasakan juga apa yang anak rantau rasakan, merindukan kampung halaman.
Di salah satu eY yang kutemukan di rak, ada satu sajak Landung Simatupang yang dibuatnya tahun 1990. Judulnya Remaja Ngebut Hujan-Hujan. Sajak yang ‘unik’. Bukan tipikal merdu mendayu, tapi bagiku cukuplah membuatku tersenyum dan membatin, “Wah, sepakat.”
Bolehlah simak dulu hujan ini sebelum pergi. potretlah kalau perlu. sudah itu sudah. … . Cukup sepecak saja upacara memanja duka ini kita ikuti. jangan lebih lama. bisa-bisa kita kejebak seperti mereka. jangan. kita mesti nembus. lari. ngejar pijar di kota lain. Clap clap kerlingkan selamat tinggal pada deretan teritisan beku wajah-wajah menerawang bisu. wah jangan mau tiba-tiba muram dan becek, setua mereka. Kita sudah sama janji pantang meringkuk meringkik dalam ceruk melankoli. Ayolah kita kuyup batuk-batuk masuk angin paru-paru basah kram jantung. alaaah! Mengejar pijar di kota lain. aiiih yogya…daaaah…daaaaaahhh……..!
Yogyakarta, 281209 23:24
**menghitung mundur sebelum merantau untuk pertama kalinya