Feeds:
Posts
Comments

Pada momen awal 2010 ini, aku sedang agak mbluneg sehingga gak pengen nulis panjang-panjang. Jadi aku cuma ngelink-ngelink dan ngopy-paste saja. Dan ini ada artikel bagus, untuk menemani kita melewati tahun baru dengan lebih luar biasa. Insya Alloh lebih bermanfaat daripada tulisan-tulisan geje-ku. :p

dakwatuna.com – Subhanallah, cita-cita dan obsesi yang sangat besar dan sulit, namun dengan kesungguhan yang beliau miliki, cita-cita itu, satu demi satu bisa beliau raih. Obsesi sukses di dunia, tapi yang lebih penting adalah sukses di akhirat. Apalah arti sukses di dunia, tapi di akhirat sengsara berkepanjangan.

الحمد لله العزيز الغفار، العلي الجبار، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وعد التائبين بالسعادة بالجنة والسلامة من النار، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث لإنقاذ البشرية من الشقاء في الدنيا وفي دار القرار.

اللهم صل وسلم وبارك وأنعم على  سيد المستغفرين بالأسحار، وعلى آله وأصحابه الأخيار وعلى التابعين لهم بإحسان ما بقي الليل والنهار. أما بعد: فاتقوا الله ـ عباد الله ـ حق التقوى

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah,

Momentum pergantian tahun, apakah tahun baru hijriyah atau tahun baru masehi di mata orang mukmin memiliki arti yang sangat mendalam. Pergantian waktu itu tidak lah terjadi begitu saja. Pergantian waktu menjadi bagian tanda-tanda kekuasaan Allah swt., sekaligus menjadi tadzkirah, pengingat bagi manusia bahwa setiap makhluk yang berada di muka bumi, pasti akan berlalu, berlalu sebagaimana waktu pasti terus berganti. Allah swt. berfirman: Continue Reading »

**Nah lho. Judul yang aneh. Bingung sih mau diberi judul apa… Yang jelas, ini hanyalah another geje note of mine :)

“Ini untuk apa mbak? Gak akan jadi seperti Prita kan?” Bapak-bapak itu bertanya dengan defensif saat aku mengangsurkan kuesioner padanya di ruang tunggu suatu rumah sakit swasta ternama di Yogya. Setelah spontan tersenyum dan memberi penjelasan bahwa kuesioner ini ditujukan murni untuk keperluan akademis dan beliau bersedia mengisinya, aku baru bisa merasa lega.

Sembari mengamati pengisian kuesioner itu, pikiranku melayang ke mana-mana. Keliling Indonesia. Teringat kasus Prita. Bagi sebagian orang, kasus ini memberi sebentuk inspirasi, ‘keberanian pihak inferior untuk melawan’. Dan kebetulan jalan cerita kasus ini cukup berpihak pada sang inferior, walaupun dengan peran besar media yang sangat berkepentingan dengan efek langsung dan tidak langsung dari kasus ini. Tapi nyatanya, tidak semua orang melihat kasus ini sebagaimana kemenangan Jalut atas Tholut-atau David atas Goliath. Bagi orang awam, kasus ini hanya mempertegas stigma bahwa ‘berurusan dengan hukum itu rumit, repot, sulit’.

Pikiranku ‘terbang’ pada nenek Minah. Teringat komentar simbah saat menonton berita nenek Minah di tivi, “Terbukti, ning kok ra didelok ajine. Kakao kuwi. Lha kae sing njupuk semongko, diukum pitung taun. Nek ra mendem duit rak yo ora.” Kira-kira artinya Terbukti, tapi kok tidak dilihat (seberapa) berharganya. Kakao itu. Lha itu yang mengambil semangka [kasus pencuri semangka di Jawa Timur-kalau tidak salah Kediri], dihukum tujuh tahun. Kalau (aparat penegak hukumnya) tidak mabuk uang kan ya tidak (akan begitu). Kasus ini membuat masyarakat makin tidak percaya pada aparat penegak hukum. Selain itu, dari kasus itu aku merasakan satu hal, bahwa orang kecil umumnya ‘alergi’ pengadilan. Tidak mau terlalu lama terlibat pembahasan berbelit, sehingga memilih pasrah, yang penting ‘cepat selesai’. Memang sih, orang besar juga sama-sama ingin melalui urusan dengan pengadilan secara cepat, tapi perbedaan finansial jelas sangat mempengaruhi hasil akhir.

Teringat pula cerita-cerita tentang kenalan-kenalan keluargaku, yang terlibat gugat-menggugat di pengadilan, habis uang puluhan bahkan ratusan juta, namun akhirnya kalah. Dan yang menang pun jika dihitung-hitung tetap merugi, karena mengeluarkan uang yang (ternyata memang) lebih banyak.

Kembali ke bapak-bapak yang mengisi kuesioner tadi. Berdasarkan apa yang beliau tuturkan kemudian, sehari-harinya beliau bekerja sebagai montir. Beliau adalah representasi sebagian kecil masyarakat negeri ini. Beliau tidak peduli akhir dari kasus Prita. Yang jelas menjalani proses rumit seperti Prita sama sekali bukan hal yang beliau harapkan.

Pantas. Pantas saja. Rakyat kecil semakin tertindas karena memperjuangkan keadilan itu merepotkan. Menuntut hak itu menghabiskan uang. Rakyat menengah lebih banyak diam karena tidak dirugikan. Rakyat besar jelas lebih kalem karena lebih banyak diuntungkan. Mencipta lingkaran setan.

Aku bukan mahasiswa Ilmu Hukum. Bahkan aku yakin aku ini termasuk manusia buta hukum. Jadi aku tak bisa banyak mengulas sisi hukum dari segala hal ini. Tapi sebagai mahasiswa Farmasi, aku hanya bisa bilang bahwa jelas ini adalah penyakit bangsa yang bersifat sistemik. Dan penyakit sistemik hanya bisa diobati dengan terapi sistemik, tidak bisa jika hanya dengan terapi lokal saja. Dan kalaupun teramat sulit mengobatinya, paling tidak kita harus memastikan bahwa apa-apa (atau siapa-siapa) yang akan masuk ke dalam sistem ini sejak awal sudah bebas dari penyakit.

Yogya, 301209 11.46

Sepenggal Yogya

Yogyakarta. Sejak lahir udara Yogya-lah yang aku hirup. Budaya Yogya-lah yang aku hayati. Jalanan Yogya yang hampir tiap hari aku lintasi. Pernah memang aku merasa begitu bosan, hingga berkali-kali berniat meninggalkannya. Tapi yang terjadi, aku tetap di sini.

Dulu aku tidak begitu memahami apa bagusnya Yogya. Waktu SMP, SMPku dekat dengan nol kilometernya Yogya, aku heran melihat orang-orang datang berbus-bus. Sementara aku sudah tidak punya rasa tertarik pada deretan bangunan di pusat kota itu-terutama karena tiap ke sekolah aku melewatinya. Tapi lama-lama, setelah merenung-renung sejenak, aku bisa merasakan keeksotisan Yogya juga.

Salah satu titik eksotis Yogya yang membuatku agak miris adalah tugu. Benda yang berada di tengah perempatan Jl Jend Soedirman-Jl AM Sangaji-Jl Diponegoro-Jl Mangkubumi ini menjadi tempat favorit untuk foto-foto. Kenapa agak miris? Karena aku teringat sedikit kisah sejarah tugu ini yang pernah kubaca di majalah imut bernama exploringYOGYA (eY)yang sekarang sudah gak terbit lagi. Alhamdulillah majalah itu masih setia nangkring di rak buku, jadi bisa kucontek buat ditulis di sini.

Dalam eY volume 14-April 2001 itu, redaksinya mengutip sebuah naskah koleksi perpustakaan Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Jadi katanya, tugu pertama kali didirikan oleh Sri Sultan HB I pada tahun 1755 sebagai simbol perjuangan rakyat dalam mendirikan kesultanan Yogyakarta. Tapi tugu yang didirikan ketika itu bukan seperti yang sekarang, melainkan tugu dengan tinggi 25 meter berbentuk golong-gilig. Perbandingannya bisa dilihat di gambar ini.

Tugu yang aseli memiliki sebuah bulatan bola, golong, di puncaknya, ditopang kerucut yang gilig, yang bundar-kuat. Golong-gilig, melambangkan tekad dan semangat juang yang bulat dan kuat, sesuatu yang tidak disukai Belanda ketika itu. Dan, gempa bumi besar tahun 1867 meruntuhkan sepertiga dari tugu tadi mulai dari puncaknya. Belanda yang berkuasa mengambil kesempatan itu untuk meruntuhkannya sekalian, dan membangunnya kembali pada 1889. Merombaknya, menghilangkan lambang golong-gilignya, dan menggantinya dengan sebuah tugu yang sama sekali baru, yang tanpa ‘arti’, yang tetap berdiri hingga saat ini. **bahkan ada bintang David-nya segala itu tugu yang sekarang.. -_-”

Kelebihan tugu yang sekarang adalah, jelas, lebih oke untuk ‘diajak’ poto bareng. Dibandingkan tugu yang sekarang, tugu golong-gilig emang kelihatan gak ada indah-indahnya, dan terlalu tinggi. Banyak instansi di Yogyakarta yang menggunakan tugu ini sebagai bentuk dasar logonya, termasuk SMA-ku. Nah, miris kan. Produk Belanda ini digemari dan dikenal luas sebagai ’simbol kota Yogyakarta’. Bisa nangis darah kalo sampai Sri Sultan HB I tahu. **plis deh jangan lebay..

Sungguh, aku tidak bermaksud mengganggu kenikmatan kawan-kawan dalam ‘menyantap’ Yogyakarta. Yah biarlah tugu tanpa ‘arti’ ini yang kalian kenang. Karena aku merasa, bahwa ketika nanti aku bisa merasakan yang namanya ‘rindu Yogya’, tugu itu pulalah yang menjadi bentuk simbolik dalam pikiranku. Jadi sebenarnya apa maksud aku menulis tulisan gak jelas ini? Yah, aku cuma ingin bilang, aku akan merindukan Yogya, kawan. Aku nanti akan merasakan juga apa yang anak rantau rasakan, merindukan kampung halaman.

Di salah satu eY yang kutemukan di rak, ada satu sajak Landung Simatupang yang dibuatnya tahun 1990. Judulnya Remaja Ngebut Hujan-Hujan. Sajak yang ‘unik’. Bukan tipikal merdu mendayu, tapi bagiku cukuplah membuatku tersenyum dan membatin, “Wah, sepakat.”

Bolehlah simak dulu hujan ini sebelum pergi. potretlah kalau perlu. sudah itu sudah. … . Cukup sepecak saja upacara memanja duka ini kita ikuti. jangan lebih lama. bisa-bisa kita kejebak seperti mereka. jangan. kita mesti nembus. lari. ngejar pijar di kota lain. Clap clap kerlingkan selamat tinggal pada deretan teritisan beku wajah-wajah menerawang bisu. wah jangan mau tiba-tiba muram dan becek, setua mereka. Kita sudah sama janji pantang meringkuk meringkik dalam ceruk melankoli. Ayolah kita kuyup batuk-batuk masuk angin paru-paru basah kram jantung. alaaah! Mengejar pijar di kota lain. aiiih yogya…daaaah…daaaaaahhh……..!

Yogyakarta, 281209 23:24

**menghitung mundur sebelum merantau untuk pertama kalinya

Pilihan

Sejak jaman dahulu kala aku sudah sering mendengar bahwa hidup ini penuh dengan pilihan. Setiap sepersekian detik kita terus menerus memilih, dengan atau tanpa kita sadari. Misalnya, aku memilih menulis ini daripada nonton opera van java, atau memilih mengetik huruf A daripada huruf E, dan seterusnya. Dan dengan usiaku yang sudah tak bisa dibilang muda lagi ini (hiyaaa…. lebay..) tentu sudah banyak pilihan yang aku ambil. Pilihan-pilihan ini kadang berat untuk diambil, kadang begitu ringan sampai aku tak sadar bahwa aku telah memilih sesuatu. Dan setiap pilihan yang aku ambil bisa sangat berpengaruh pada apa yang aku jalani setelahnya. Setiap pilihan itu akan membawa pada pilihan-pilihan selanjutnya.

Di pekan-pekan akhir tahun ini, ada hal-hal yang nampak nyata harus dipilih. Misalnya saja, memilih menghadiri undangan tasyakuran walimah pak Yan Arif Sukoco tanggal 17 sore di Gamping dan walimatul ursy mbak Ika Nurlela tanggal 19 siang di Tasik atau tetap stand by di kampus, menunggui hajatan besar akhir tahun kampus Gadjah Mada : pemira dan dies natalis. Akhirnya, aku hanya bisa minta maaf yang sebesar-besarnya pada pak Yan dan juga mbak Ika. Hiks..

Yah, aku telah memilih. Dan aku tidak berhak menyesal atas pilihan yang kuambil dengan sadar.

Hari ini, kurang dari sepekan sebelum 2009 berakhir. Akan ada lebih banyak warna dunia yang bisa kugunakan sebagai wacana. Akan ada lebih banyak lagi pilihan yang harus aku ambil. Semoga di 2010 nanti aku tidak sekadar bertambah tua. Semoga dalam memilih, aku bisa lebih bijaksana.

Do’akan saya, kawan.

Karenanya, datangnya pertolongan Allah itu bersyarat. Ia hanya akan datang kepada mereka yang sudah berusaha menolong agama-Nya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu,” (QS. Muhammad:7)…

———-
Continue Reading »

Aku mengira pedih ini bernama luka.
Tapi cepat kau berucap, “Bukan. Ini hanya sedikit usikan debu realita.”
Aku merasa lebih baik menghindar dan pergi.
Dan kau menyentak, “Jangan. Pejuang tidak berhenti sebelum pertarungan selesai.”
Aku mengeluh, diam-diam, pelan.
Ternyata kau mendengar, lalu berbisik, “Cukup. Bukan kesah yang kita butuhkan.”
Aku terdiam, setengah termangu.
Segera kau menegur, “Bangkit. Tak ada yang akan menjadi lebih baik dengan diam begitu.”

Baiklah baiklah, aku tahu.
Terima kasih telah mengingatkanku.

Yogya, dini hari 14 Desember 2009
**fiuhhh..

Tidak ada pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur.

Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku?”

Tidak ada pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangat untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada pilihan lagi. Kita harus
Berjalan terus

[Taufiq Ismail dalam Tirani dan Benteng, 1966]

Jatuh Kagum pada Dirimu

Pembaharuan

Dini hari tadi aku melakukan pembaharuan yang cukup signifikan terhadap blog ini.

Aku mengubah “Hanya Aku dan Angin>>>tanpa matahari”-ku menjadi “.b.l.u.e.p.r.a.i.r.i.e.>>>.diri.nyanyi.arti.hari.puisi.mimpi.”

Aku mengubah headerku yang sebelumnya cencerung suram, sunyi, dan sok perenungan..

menjadi header baru ini yang lebih ceria, segar, dan sok menggerakkan. :)

Ini adalah header ketiga sepanjang sejarah blue prairie. Header pertama file-nya sudah entah di mana. Cuma foto ladang dengan gubug kecil di sudut dan latar belakang langit biru yang lebih dominan daripada ladangnya. Lokasi pengambilan foto itu adalah di lereng Gunung Sumbing waktu SMA.

Manusia bisa berubah. Apalagi blog ini. Semoga perubahan ini bisa benar-benar menceriakan dan menggerakkan. Paling tidak bagi si empunya blog yang kadang kena penyakit konservatif ini. *nana konservatif? haha ngaku-ngaku!-kata temenku*

Ukhuwah

bersama kita menjalin
rasa ukhuwah yang telah bersemi
berawal dari rasa cinta Ilahi
menjelma rasa cinta sejati

seindah senyum manis
matahari menjelma semarakkan pagi
dedaunan melambai hijau nan berseri
kicauan burung damaikan hati

oh berpadulah
hapuskan segala rasa amarah
pupus sudah rasa dendam
padamlah bara api permusuhan
sesegar mawar bertaburan
harum mewangi rasa persaudaraan

(Al Uswah-Ukhuwah)

lirik nasyid legendaris di SMA, diperkenalkan pertama kali tahun 2002.
nasyid sederhana, bikinan anak SMA jaman tujuh tahun yang lalu. tapi lumayan inspiring lah..

sayang gak bisa upload mp3-nya di sini.. hiks..

Bukan bermaksud mendahului irodat Alloh ketika aku menggunakan kata ‘tidak mungkin’. Anggap saja ini seperti silogisme. Ada jika, ada maka.

Aku sudah banyak mendengar tentang keutamaan menjadi ibu rumah tangga. Aku juga menyaksikan sendiri wanita-wanita hebat, berpendidikan tinggi, yang dengan berani memutuskan menjadi ibu rumah tangga murni. Wew, salut. Tapi untukku sendiri, izinkan aku untuk mengatakan bahwa itu tak mungkin. Kenapa? Yah, aku sendiri sedang coba menelusuri alasannya. Mungkin nantinya akan ada alasan tambahan lagi. Tapi untuk sekarang, kira-kira alasannya seperti ini.

1. Bapakku gak akan mengizinkan!

Ini adalah alasan super. Jagoan. Jenderal. Adidaya. Hebat pokoknya mah. Yah, kalo bapak rela aku jadi ibu rumah tangga murni, maka beliau juga harusnya rela-rela aja aku kuliah di ITB, atau menaruh Teknik sesuatu di pilihan pertama UM UGM-ku. Aku gak menyesali masa yang sudah lewat kok. Aku menikmati ke-farmasi-anku saat ini. Tapi memang dulu bapak men-demarketisasi teknik dengan menceritakan ‘betapa terbatasnya pilihan kerja lulusan teknik yang nyaman bagi seorang wanita’. Dunia kerja! Humm..

2. Melancong yuk!

Seorang nana yang ini suka melancong alias travelling. Kalo sedang ada kesempatan, kemauan dan kemampuan, melancongnya bisa sampai tempat yang tak disangka-sangka. *kadang kesasar-hehe.. Nah, paling asyik itu melancong pake duit sendiri. Lebih percaya diri, gak gamang, saat menggunakan uang selama bepergian sekaligus lebih meningkatkan kesadaran untuk berhemat. Jadi, berpenghasilan itu kudu harus mutlak wajib..

3. Farmasi

Aku ‘terlanjur’ kuliah di farmasi. Terlanjur mendapat ilmu ini, mulai dari perpektif sains industri sampai-yang lebih dominan saat ini-perspektif klinik komunitas. Terlanjur melukisi salah satu kanvas mimpiku dengan cat kefarmasian. Terlanjur ingin membuat ilmuku bermanfaat bagi umat manusia. Terlanjur merasakan betapa bahagia melihat pasien tersenyum setelah menerima obat dan secuil penjelasan. Aku terlanjur mencintai. Dan aku tak sanggup mengkhianatinya dengan membuat semua itu hilang dalam hidupku sebagai ibu rumah tangga murni.

4. Tak bisa diam

Aku tak bisa diam dalam waktu yang lama-kecuali saat sedang bobo’ :9 Iya sih, ibu rumah tangga murni juga akan banyak bergerak di rumah, toh memang banyak yang harus dikerjakan. Tapi kan.. Umm.. Yah, intinya, ke-takbisadiam-an itu akan membuat ibu rumah tangga tidak bisa menjadi ibu rumah tangga murni. Godaan untuk menggunting, menggambar, mengiris, mengutak-atik, dan hal-hal lain semacam itu, akan membawa ibu rumah tangga menuju suatu dunia ‘berbisnis di rumah’.

5. Nana

Ya, karena aku adalah seorang Nana. Tanpa aku beri alasan-alasan pun, sepertinya orang-orang yang mengenalku akan dengan gegap gempita menyepakati, “Ya, kamu memang tidak mungkin menjadi ibu rumah tangga murni.”

Lima alasan tadi bisa tidak berarti apa-apa, jika Alloh menghendaki.

Siapa sih yang peduli, aku mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karir? Gak ada, kecuali bapakku. ^^v Sepertinya aku membuat tulisan ‘ra cetho’ ini, alih-alih untuk memberi alasan ketidakmungkinan, adalah untuk menyembunyikan kenyataan bahwa aku tidak berani menjadi ibu rumah tangga murni. Hehehe..

Lalu, bagaimana denganmu, sist? Beranikah dirimu menjadi ibu rumah tangga murni? Ataukah, seperti diriku, kau akan mencari-mungkin seribu alasan-kenapa kau tak mungkin begitu?

Incompetence

Jumat siang pekan lalu, 20 November 2009, sebenarnya biasa saja. Pukul dua belas lewat aku duduk-duduk di salah satu dari deretan sofa lobi SMA. Menunggu adek-adek sambil memanfaatkan wifi gratisan. Dan bukan hal yang aneh pula ketika ada satu anak SMA menghampiriku.

Dia tampak agak kebingungan. Aku mengira dia akan menanyakan apa aku sudah bertemu mbak X yang adalah mbak mentor dia.
Dia duduk di sampingku lalu bertanya, “mbak, boleh nanya sesuatu?”
Wah, apaan nih, pikirku. Serius sepertinya. Biasanya anak SMA nanya soal fiqh gitu. Hmm.. Susah juga kalo dia nanya yang aneh-aneh. Tapi aku menjawab juga dengan, “Iya, apa?”.

Maka dia pun melanjutkan, “Apa bedanya antara ob…”

Saat sampai pada  “..ob-”, selama sepersekian detik aku mengira dia akan bertanya tentang obat. Subhanalloh, pikirku. Dia kan gak tahu diriku anak farmasi. Kok bisa pas gitu nanya tentang obat ke aku.

Tapi lanjutannya membuatku tercengang beberapa detik. Ternyata begini kalimatnya. “Apa bedanya antara objek kajian dan sasaran?”

Euh.. Apa aku punya tampang calon guru bahasa Indonesia? Toloongg…

Akhirnya aku menjawabnya dengan menggunakan logika bahasa ’sakkecekele’ alias sedapatnya. Karena sedikit penasaran, aku bertanya lebih lanjut, “Emang konteksnya apa, Dek?” Seharusnya aku tidak gegabah dengan menanyakan itu. Tapi sudah terlanjur.

“Ini lho mbak, ada tugas PKN, wawancara… blablabla… ke partai politik… blablabla.. temanya tentang bagaimana kondisi partai politik dan strategi yang digunakan untuk meraih simpati masyarakat.”

Ugh.

Desperado. Desperate. Side-kick. Yellow-card. A perfect hit.

Tolong, aku tidak perlu diingatkan tentang hal seperti itu di tempat sedamai-seriang-seceria-seinnocent-sesejuk SMA ini. Politis banget hidupku sekarang. Dan SMA adalah goa tempatku menyepi sejenak seminggu sekali dari itu semua.

Seremuk-remuknya aku setelah dipukul dengan telak oleh si adek, akhirnya aku tetap melanjutkan ngumbahi tentang objek dan sasaran, yah tadi kan sudah bilang bersedia ditanyai. Gak etis kan kalo aku tiba-tiba ngabur sambil bilang, “Maap dek, tiba-tiba mbak sakit perut denger kata-kata adek.”

Hew.. Pertanyaan si adek memang tergolong sederhana. Tapi tolong, biar bagaimanapun, aku ini cuma mahasiswi farmasi biasa. Tanyai aku tentang obat-obatan dan kesehatan saja, agar aku sadar bahwa aku masih harus lebih banyak belajar. F>_<’

Rokok dan kegiatan merokok saat ini dapat kita temui di mana saja. Bahkan bagi sebagian orang, merokok telah menjadi suatu kebutuhan utama, melebihi sandang-pangan-papan. Dengan kondisi seperti itu, tentu sangat sulit menerapkan aturan pelarangan merokok, termasuk penerapan Pergub No.42/2009. Terlebih lagi aturan ini belum mempunyai bentuk pengaplikasian konkret. Kebiasaan dalam masyarakat yang menganggap “Aturan ada untuk dilanggar” semakin memperparah keadaan.

Sebaiknya penerapan peraturan ini dilakukan secara serentak di seluruh dareah tingkat dua, sehingga masyarakat dapat lebih merasakan keberadaannya. Peraturan yang dibuat oleh walikota dan para bupati sebaiknya seragam dan bersifat lebih spesifik. Pelarangan merokok di fasilitas publik seperti terminal, kantor pemerintah, dan lain sebagainya diiringi dengan pembuatan ruangan khusus untuk merokok di tempat-tempat tersebut. Dengan kebergantungan seseorang terhadap rokok yang sudah mencapai tingkat menganggapnya sebagai kebutuhan, tidak adanya ruangan khusus untuk merokok hanya akan membuatnya mengabaikan aturan larangan itu dengan mudah. Orang seperti mereka hanya akan berhenti merokok jika memang mereka sendiri yang menginginkannya. Tidak bisa diubah begitu saja dengan adanya paksaan. Pelarangan total juga akan memicu demarketisasi peraturan ini oleh industri rokok dengan menggunakan petani tembakau sebagai tameng.

Paling sedikit ada dua macam tempat umum di mana aturan larangan merokok harus diterapkan secara total. Yang pertama adalah tempat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas dan klinik. Memang dari sanalah penerapan upaya pemeliharaan kesehatan harus diawali dan dicontohkan. Kedua yaitu institusi pendidikan. Telah ada kampus tertentu yang menyatakan diri sebagai kawasan bebas asap rokok. Namun yang seringkali terlupakan justru institusi pendidikan yang lebih signifikan dalam mempengaruhi perilaku seseorang, yakni pendidikan dasar. Seorang siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar akan menganggap merokok adalah hal yang wajar ketika melihat gurunya merokok. Bahkan sosok yang dia gugu dan dia tiru itu akan dia jadikan alasan jika di kemudian hari dia dimarahi karena coba-coba ikut merokok. Siswa memang masih bisa mendapat pengaruh untuk merokok di luar sekolah atau bahkan di rumahnya sendiri. Tapi paling tidak, tempat dia seharusnya mengambil panutan, yaitu sekolah, senantiasa memberikan panutan yang baik.

Pentahapan yang jelas juga penting dalam penerapan aturan ini. Sebaiknya ditetapkan adanya masa percobaan selama jangka waktu tertentu, misalnya dua tahun. Dalam rentang waktu tersebut, masing-masing pihak—baik masyarakat maupun pemerintah daerah—belajar menyesuaikan diri dengan peraturan itu. Para perokok mencoba mengatur dirinya untuk merokok di waktu dan tempat tertentu yang diperbolehkan. Pemerintah daerah memenuhi kewajibannya dengan membangun fasilitas-fasilitas yang diperlukan serta melakukan sosialisasi. Sekali lagi, tempat layanan kesehatan dan institusi pendidikan menjadi lokasi utama yang harus dijadikan sasaran sosialisasi. Masyarakat yang tidak merokok juga dapat berpartisipasi menyukseskan penerapan aturan tersebut. Selama ini banyak orang yang merasa ragu atau bahkan takut memperingatkan orang lain untuk tidak merokok di tempat umum. Dengan adanya peraturan resmi, para perokok pasif bisa lebih percaya diri memperjuangkan haknya menghirup udara bersih.

Sebuah aturan akan terasa hambar jika tidak dilengkapi dengan sanksi. Sanksi diterapkan setelah masa percobaan selesai. Sebelum itu, pelanggar peraturan cukup diberi peringatan. Maka, perlu ditetapkan dengan jelas pihak yang mengawasi jalannya peraturan ini dan eksekutor pemberian sanksi, berikut pengondisiannya selama masa percobaan. Mekanisme pemberian sanksi perlu dibuat dengan mengantisipasi celah-celah terjadinya korupsi dalam pelaksanaannya.

Perjuangan meminimalisir hal kurang baik—dalam hal ini merokok—yang sudah menjadi kebutuhan dalam masyarakat memang berat. Namun kesehatan adalah kebutuhan manusia yang sebenarnya, sehingga kita tidak boleh berputusasa dalam memperjuangkannya.
—————————-
It can also be found in-Harian Jogja, 24 November 2009-Suara Mahasiswa

Terhitung semenjak reformasi 1998, pemilihan pemimpin dengan menjaring partisipasi publik sebesar-besarnya semakin melekat dalam keseharian masyarakat Indonesia. Perkembangan politik itu turut pula mewarnai perpolitikan kampus. Di berbagai kampus di Indonesia, saat ini sudah jamak dikenal adanya Pemilihan Raya Mahasiswa atau biasa disingkat dengan istilah PEMIRA. Begitu pula halnya dengan kampus Universitas Gadjah Mada.

Di UGM, cikal bakal pemira sebenarnya sudah dilaksanakan sejak tahun 1987. Namun PEMIRA dengan sistem kepartaian baru digunakan pada tahun 1997. Hal yang cukup menjadi gebrakan ketika itu, mengingat sistem Pemilihan Umum di tingkat nasional sendiri selama puluhan tahun hanya mempunyai tiga partai sebagai kontestan. Dalam PEMIRA, mahasiswa memilih secara langsung calon Presiden Mahasiswa dan Partai Mahasiswa. Presiden Mahasiswa yang terpilih akan memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM untuk periode selanjutnya. Partai Mahasiswa akan mengirimkan wakilnya untuk masuk dalam struktur Dewan Perwakilan Mahasiswa. Sistem PEMIRA terus berkembang. Mulai tahun 2006, dalam PEMIRA UGM dilakukan pula pemilihan Dewan Perwakilan Fakultas, mengadaptasi pemilihan Dewan Perwakilan Daerah yang mulai dilaksanakan pada PEMILU nasional tahun 2004. Selain PEMIRA tingkat universitas, mahasiswa masing-masing fakultas juga melaksanakan pemilihan umum untuk memilih ketua-ketua lembaga, dengan variasi sistem yang disesuaikan kondisi fakultas.

Banyak pihak yang terlibat dalam perhelatan PEMIRA, mulai dari Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA), Badan Pengawas PEMIRA (Banwasra), Mahkamah PEMIRA, para konstestan PEMIRA, dan mahasiswa secara umum. Dengan kemajemukan elemen dan banyaknya kepentingan, munculnya permasalahan dalam proses pelaksanaan PEMIRA memang tidak menjadi hal yang aneh. KPRM memang tidak perlu terlalu pusing akan terjadi kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) karena data mahasiswa aktif lebih pasti daripada data penduduk Indonesia yang mempunyai hak pilih. Namun, seperti halnya di PEMILU nasional, permasalahan mengenai kontestan PEMIRA dan hal-hal seputar kampanye pasti akan muncul. Konflik memang bukan hal yang diharapkan terjadi, namun dari situ mahasiswa bisa belajar lebih tentang dinamika politik dan belajar menyikapinya dengan dewasa.

Permasalahan lain yang mirip dengan yang terjadi di PEMILU nasional juga bisa muncul pada pelaksanaan PEMIRA. Misalnya saja, selalu ada pihak yang akan mempertanyakan representasivitas hasil PEMIRA. Pada PEMIRA 2008, dengan kerja keras panitia dan kontestan PEMIRA, terjadi lonjakan pengguna hak pilih hingga mencapai sekitar satu per tiga dari total mahasiswa S1 dan D3 UGM yang jumlahnya 35.000 orang. Gaung golongan putih juga muncul dalam proses PEMIRA, dengan menggunakan dalih hasil PEMIRA tidak representatif. Ada baiknya jika menggunakan sudut pandang konstruktif dalam menyikapi hal ini. Daripada menghujat hasil yang tidak representatif, kenapa tidak turut memperbaiki sistem dan proses ini hingga mencapai kondisi lebih ideal?

Pertanyaan lain akan muncul pasca pelaksanaan PEMIRA. Apakah PEMIRA hanya akan menjadi ritual tahunan? Maka jawabannya, seharusnya tidak. PEMIRA adalah titik awal tiap tahunnya untuk pembelajaran politik bagi mahasiswa. Dan semestinya pembelajaran itu terus berlanjut. Tidak cukup hanya belajar mengelola, menjadi kontestan, menggunakan hak pilih, atau jenis partisipasi lain dalam proses pemilihan. Bagi para mahasiswa yang terpilih—entah sebagai Presiden Mahasiswa, anggota DPM, atau anggota DPF—harus pula belajar mempertanggungjawabkan keterpilihannya dengan melaksanakan amanah yang diembannya sebaik-baiknya. Partai peserta PEMIRA juga semestinya belajar mengelola partainya sehingga tidak hanya menjadi mesin politik insidental yang hidup menjelang PEMIRA dan mati suri sepanjang sisa tahun berikutnya. Dan tak ketinggalan, mahasiswa secara umum juga bisa belajar untuk turut mengawasi segala proses itu, mulai dari pelaksanaan
PEMIRA hingga jalannya kepengurusan selama setahun setelahnya.

Para mahasiswa pembaharu yang dulu menginisiasi sistem PEMIRA di awal reformasi, tentu berharap mahasiswa kampus ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia bagaimana sebaiknya berdemokrasi. Mahasiswa masa kini tinggal memilih, akan tetap setia memberi contoh baik ataukah mencontoh mentah-mentah lika-liku politik negeri ini, hingga permasalahnnya pun diadaptasi.

———————————
It can also be found in-Republika, 21 November 2009-Suara Mahasiswa


Manusia tidak boleh berhenti berharap. Itulah secuil hikmah yang kupetik dengan agak mekso dari kejadian pagi ini. Kejadian macam apakah itu?

Yaitu, yakni, adalah,,,, Rufus kembali!!!

Jreng jreng..

Siapa itu Rufus?

Seberapa luar biasanya kejadian kembalinya Rufus ini?

Rufus adalah kucing kampung biasa. Dia punya dua rumah utama, rumahku dan rumah tetangga seberang rumahku. Kami menganggap dia adalah kucing bersama. Kuat dugaan bahwa dia punya rumah lain lagi selain dua rumah ini.

Semenjak sebelum Romadlon-lebih dari tiga bulan yang lalu-Rufus menghilang. Dia tidak pernah pulang baik ke rumahku maupun rumah tetanggaku. Kami juga tidak pernah menjumpainya berkeliaran di sekitar rumah kami. Aku dan simbah menganggap dia hilang, sudah dipelihara orang, atau kemungkinan garis takdir lainnya. Intinya, kami telah merelakan dia.

Aku pun mulai meminta simbah agar diperkenankan memungut kucing ‘baru’. Namun itu belum pernah benar-benar terlaksana. Alasannya, jika Rufus pulang dan melihat kucing ‘baru’, Rufus akan marah. Hmm.. Apa ini berarti kami masih berharap Rufus pulang?

Dan pagi ini, Rufus benar-benar pulang. Dia masih sama, walau sepertinya lebih galak dari biasanya. Aku luluh melihatnya. Sejauh ini, kucing memang satu-satunya makhluk yang bisa dengan mudah meluluhkan hatiku. Tapi ini lebih dari itu. Rufus pergi selama lebih dari tiga bulan. Dia tidak beredar sama sekali di sekitar rumah selama itu. Dan ternyata dia masih ingat untuk kembali.

Jadi, manusia pasti bisa lebih dari itu. Manusia pasti lebih bisa kembali ke tempat asalnya, seberapa lama pun dia menjauh. Dan kita tidak boleh berhenti berharap. Rela, namun tetap memelihara harapan.
Hikmah memang berserakan di mana-mana.

Yogya, Jumat siang di SMA, 20 November 2009

farmasi bukan tentang obat sajaScene 1
“Mbak, kenapa sih kita musti ikut aksi tentang korupsi? Lalu siapa yang mengawal isu kesehatan?”
“Kan bisa beriringan..”
“Masih gak ngerti kenapa harus aksi”
“…”

Scene 2
“Kenapa tidak ada aksi menentang NAMRU?”
“Ya bisa saja. Tapi harus ada proses sebelumnya untuk memahamkan mahasiswa tentang isu itu.”
“Memangnya tentang KPK ini juga ada awalannya?”
“Yah kan masalah korupsi sudah sangat dekat dengan masyarakat secara umum.”
“…”
“Kalo memang susah memahamkan mahasiswa secara umum, gak papa juga kalo mau aksi mahasiswa fakes saja. Pernah juga kan waktu no tobacco day.”
“…”

Hmm.. Sepertinya akhir-akhir ini aku makin sering merasakan ‘desakan’ untuk menaruh perhatian lebih pada isu-isu kesehatan. Dan memang, itu adalah salah tanggungjawabku sebagai mahasiswa farmasi. Aku juga punya andil jika mahasiswa farmasi pada khususnya dan mahasiswa fakes pada umumnya tidak tahu menahu, apalagi paham, tentang isu kesehatan. Aku bisa yakin hanya sedikit di antara teman-teman sekelasku yang mengerti tentang NAMRU. Bahkan aku curiga ada sebagian yang akan merasa telah salah mendengar penyebutan nama Amru-anak Malaysia yang sekelas denganku.

Sebenarnya isu kesehatan selalu menarik bagiku. Tapi sejak tahun-tahun pertama menuntut ilmu di kampus ini, aku telah dibuat jenuh untuk mendiskusikannya di fakultas tercinta. Karena yang seringkali terjadi, diskusi panjang lebar itu hanya berujung pada perselisihan antar profesi tanpa solusi.

Aku mencintai farmasi, sungguh. Itu adalah janjiku ketika dulu memutuskan untuk menaruh farmasi di pilihan pertama UM UGM. Walau saat itu mutung dulu karena sama sekali gak boleh ikut SPMB untuk meretas jalan menuju ITB-kampus impian sejak SMP. Yah intinya, hasil akhirnya adalah, aku mencintai farmasi. Dulu aku memang cinta kalkulus, tapi sekarang ngitung integral aja aku sudah lupa. Yang aku cintai sekarang adalah farmasi. *gombal Na!

Maka aku mendukung penuh jika ada jiwa-jiwa muda yang ingin menghidupkan kembali lokus-lokus diskusi di fakultas farmasi. Dengan menitip harap, utopisnya, semua mahasiswa bisa punya pemahaman sama tentang isu-isu kesehatan. Dari kefahaman itu, semoga tumbuh benih kepedulian untuk mengubah keadaan. Dan tentu, fanatisme profesi jangan pernah lagi diandalkan untuk membumbuinya. Karena dunia kesehatan hanya akan menjadi lebih baik jika masing-masing elemen memperbaiki diri, bukan berdiam dan menyalahkan yang lain.

Sekali lagi, aku mendukung penuh. Tapi tak bisa menjanjikan sebentuk partisipasi. Bukan semata karena tak mau duduk bersama. Bukan pula karena merasa tak butuh. Bahkan mungkin mahasiswa-mahasiswa ambang batas macam ini yang lebih butuh disegarkan dengan diskusi ‘begituan’. Agar paling tidak terjaga niyatnya untuk konsisten menjaga idealisme ketika memasuki dunia profesi. *setelah itu, ya do’akan saja benar-benar konsisten. Tapi, manusia hanya punya 24 jam dalam sehari. Itulah yang membatasi manusia untuk tidak terlalu banyak berjanji.

Lah, emang siapa yang mengharap partisipasimu Na? Ge er amat yak. Ha..

Hidup mahasiswi kesehatan Indonesia! *ups, kok mahasiswi? emang lebih banyak sih. oke, direvisi.
Hidup mahasiswa kesehatan Indonesia!
Menuju Indonesia Sehat Seterusnya (gak cuma 2010 aja!)

Yogya, dini hari 13 November 2009

*sungguh, menurutku tulisan ini “ra cetho” banget! bagi yang merasa bingung harap maklum, dan aku pun memaklumimu.
btw, parah banget gak sih mahasiswa farmasi gak ngerti kalo 12 November itu hari kesehatan nasional. Jadi merasa durhaka.. ckckck..

Biasa Saja

mungkin saat ini kita masih kerap tercengang
akan betapa menakjubkannya waktu berjalan
kita masih merasa aneh akan segala perubahan
kita masih merasa sedih dengan sedikit kehilangan

namun nanti, ketika waktu terus mengantarkan kita
dari perubahan satu ke perubahan lainnya
ketika kita telah benar-benar beranjak dewasa
ketika semua hal berarti di masa ini
hanya akan menjadi masa lalu
ketika satu per satu dari kita saling melupa

segalanya akan terasa biasa

Yogya, 310307 20:04

Gadis Kecil dan Rembulan

Seorang gadis kecil menimang sebuah boneka, di ambang jendela, suatu malam.

Gadis kecil itu teringat pertanyaan yang seringkali ia cetuskan, namun tek pernah beroleh cukup jawaban.

Malam ini ia coba bertanya pada rembulan yang tengah menyapa bumi.

“Di mana bunda?”

Gadis kecil itu berujar pelan. Dibelainya perlahan boneka di tangannya. Kata ayah, boneka itu pemberian bunda.

“Sedang apa bunda?”

Gadis kecil itu berujar pelan. Dipandanginya rumpun bunga di halaman, yang ia turut merawatnya. Kala nenek, bunga-bunga itu peninggalan bunda.

“Apa bunda sayang padaku?”

Gadis kecil itu berujar pelan. Dirabanya liontin yang tergantung di lehernya.

Ada potret seorang wanita menggendong bayi di sana. Ia dan bunda. Kata kakek, liontin itu dulu milik bunda.

Apa dunia bunda keemasan seperti engkau, rembulan di atas sana? Apa ada taman bunga yang sangat luas, yang membuat bunda sibuk merawatnya, sehingga tak sempat menengoknya?

Jika boleh memilih, gadis kecil itu tak ingin boneka, bunga, atau liontin. Ia ingin bunda.

Gadis kecil itu menatap rembulan yang sesekali tersaput awan. Ia tersenyum.
Dipandanginya rumpun bunga di halaman sejenak. Digenggamnya liontin yang tergantung di lehernya.

Ia tersenyum sekali lagi pada rembulan. Perlahan ditutupnya jendela.
Gadis kecil itu beranjak ke tempat tidurnya. Sebelum memejamkan mata, ia membelai boneka yang ia letakkan di sisi bantalnya.

Lagi, gadis kecil itu tersenyum.

Malam itu, ia mimpi berjumpa bunda.

Selasa, 20 Juni 2006 10.16am

barisan layang-layang

Alangkah mirisnya melihat keputusasaan seorang pemimpin. Keputusasaan yang mendorongnya mengandalkan kepatuhan prajurit dan mengabaikan kefahaman. Mengandalkan kepercayaan prajurit dan mengabaikan persaudaraan.

Alangkah sedihnya melihat keputusasaan seorang prajurit. Keputusasaan yang disebabkan oleh tak lagi berharapnya ia pada kefahaman dan persaudaraan. Keputusasaan yang memunculkan kepatuhan kosong dan mungkin dianggap sebagai bentuk kepercayaan.

Bertemunya kedua keputusasaan itu akan membuahkan kelanggengan. Ketentraman yang akan memunculkan rasa bahwa segalanya baik-baik saja. Kepuasan yang menyebabkan tak adanya usaha perbaikan sedikit pun juga.

Apakah memang kita harus lebih menerima ketenangan semu? Sementara jama’ah manusia memang sudah sewajarnya berdinamika. Karena memang, masing-masingnya hanya manusia biasa. Dengan isi kepala yang tidak bisa kita atur agar persis serupa.

Aku punya mimpi, kamu punya mimpi, dia punya mimpi, mereka punya mimpi. Pemimpin punya mimpi. Prajurit punya mimpi. Kita semua punya mimpi. Dan bukan kesalahan jika kita tidak bisa memimpikan hal yang sama. Dan pasti ada alasannya Alloh memberikan pada manusia kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Salah satunya agar manusia bisa saling mengerti. Agar terwujudnya mimpi seorang manusia, tidak mengakibatkan hancurnya mimpi manusia lainnya. Sederhana, karena mimpi kita harusnya bisa membubung bersama.

spirit srikandi

bukan karena kuat badannya

melainkan karena tegar hatinya

bukan karena jitu bidikannya

melainkan karena tajam perasaannya

bukan karena keberaniannya bertarung

melainkan karena kesadarannya berjuang

karena dia wanita

maka aku memanggilnya

:srikandi

yogyakarta, 22 okt 2009 11.30am

Older Posts »