Feeds:
Posts
Comments

farmasi bukan tentang obat sajaScene 1
“Mbak, kenapa sih kita musti ikut aksi tentang korupsi? Lalu siapa yang mengawal isu kesehatan?”
“Kan bisa beriringan..”
“Masih gak ngerti kenapa harus aksi”
“…”

Scene 2
“Kenapa tidak ada aksi menentang NAMRU?”
“Ya bisa saja. Tapi harus ada proses sebelumnya untuk memahamkan mahasiswa tentang isu itu.”
“Memangnya tentang KPK ini juga ada awalannya?”
“Yah kan masalah korupsi sudah sangat dekat dengan masyarakat secara umum.”
“…”
“Kalo memang susah memahamkan mahasiswa secara umum, gak papa juga kalo mau aksi mahasiswa fakes saja. Pernah juga kan waktu no tobacco day.”
“…”

Hmm.. Sepertinya akhir-akhir ini aku makin sering merasakan ‘desakan’ untuk menaruh perhatian lebih pada isu-isu kesehatan. Dan memang, itu adalah salah tanggungjawabku sebagai mahasiswa farmasi. Aku juga punya andil jika mahasiswa farmasi pada khususnya dan mahasiswa fakes pada umumnya tidak tahu menahu, apalagi paham, tentang isu kesehatan. Aku bisa yakin hanya sedikit di antara teman-teman sekelasku yang mengerti tentang NAMRU. Bahkan aku curiga ada sebagian yang akan merasa telah salah mendengar penyebutan nama Amru-anak Malaysia yang sekelas denganku.

Sebenarnya isu kesehatan selalu menarik bagiku. Tapi sejak tahun-tahun pertama menuntut ilmu di kampus ini, aku telah dibuat jenuh untuk mendiskusikannya di fakultas tercinta. Karena yang seringkali terjadi, diskusi panjang lebar itu hanya berujung pada perselisihan antar profesi tanpa solusi.

Aku mencintai farmasi, sungguh. Itu adalah janjiku ketika dulu memutuskan untuk menaruh farmasi di pilihan pertama UM UGM. Walau saat itu mutung dulu karena sama sekali gak boleh ikut SPMB untuk meretas jalan menuju ITB-kampus impian sejak SMP. Yah intinya, hasil akhirnya adalah, aku mencintai farmasi. Dulu aku memang cinta kalkulus, tapi sekarang ngitung integral aja aku sudah lupa. Yang aku cintai sekarang adalah farmasi. *gombal Na!

Maka aku mendukung penuh jika ada jiwa-jiwa muda yang ingin menghidupkan kembali lokus-lokus diskusi di fakultas farmasi. Dengan menitip harap, utopisnya, semua mahasiswa bisa punya pemahaman sama tentang isu-isu kesehatan. Dari kefahaman itu, semoga tumbuh benih kepedulian untuk mengubah keadaan. Dan tentu, fanatisme profesi jangan pernah lagi diandalkan untuk membumbuinya. Karena dunia kesehatan hanya akan menjadi lebih baik jika masing-masing elemen memperbaiki diri, bukan berdiam dan menyalahkan yang lain.

Sekali lagi, aku mendukung penuh. Tapi tak bisa menjanjikan sebentuk partisipasi. Bukan semata karena tak mau duduk bersama. Bukan pula karena merasa tak butuh. Bahkan mungkin mahasiswa-mahasiswa ambang batas macam ini yang lebih butuh disegarkan dengan diskusi ‘begituan’. Agar paling tidak terjaga niyatnya untuk konsisten menjaga idealisme ketika memasuki dunia profesi. *setelah itu, ya do’akan saja benar-benar konsisten. Tapi, manusia hanya punya 24 jam dalam sehari. Itulah yang membatasi manusia untuk tidak terlalu banyak berjanji.

Lah, emang siapa yang mengharap partisipasimu Na? Ge er amat yak. Ha..

Hidup mahasiswi kesehatan Indonesia! *ups, kok mahasiswi? emang lebih banyak sih. oke, direvisi.
Hidup mahasiswa kesehatan Indonesia!
Menuju Indonesia Sehat Seterusnya (gak cuma 2010 aja!)

Yogya, dini hari 13 November 2009

*sungguh, menurutku tulisan ini “ra cetho” banget! bagi yang merasa bingung harap maklum, dan aku pun memaklumimu.
btw, parah banget gak sih mahasiswa farmasi gak ngerti kalo 12 November itu hari kesehatan nasional. Jadi merasa durhaka.. ckckck..

Biasa Saja

mungkin saat ini kita masih kerap tercengang
akan betapa menakjubkannya waktu berjalan
kita masih merasa aneh akan segala perubahan
kita masih merasa sedih dengan sedikit kehilangan

namun nanti, ketika waktu terus mengantarkan kita
dari perubahan satu ke perubahan lainnya
ketika kita telah benar-benar beranjak dewasa
ketika semua hal berarti di masa ini
hanya akan menjadi masa lalu
ketika satu per satu dari kita saling melupa

segalanya akan terasa biasa

Yogya, 310307 20:04

Gadis Kecil dan Rembulan

Seorang gadis kecil menimang sebuah boneka, di ambang jendela, suatu malam.

Gadis kecil itu teringat pertanyaan yang seringkali ia cetuskan, namun tek pernah beroleh cukup jawaban.

Malam ini ia coba bertanya pada rembulan yang tengah menyapa bumi.

“Di mana bunda?”

Gadis kecil itu berujar pelan. Dibelainya perlahan boneka di tangannya. Kata ayah, boneka itu pemberian bunda.

“Sedang apa bunda?”

Gadis kecil itu berujar pelan. Dipandanginya rumpun bunga di halaman, yang ia turut merawatnya. Kala nenek, bunga-bunga itu peninggalan bunda.

“Apa bunda sayang padaku?”

Gadis kecil itu berujar pelan. Dirabanya liontin yang tergantung di lehernya.

Ada potret seorang wanita menggendong bayi di sana. Ia dan bunda. Kata kakek, liontin itu dulu milik bunda.

Apa dunia bunda keemasan seperti engkau, rembulan di atas sana? Apa ada taman bunga yang sangat luas, yang membuat bunda sibuk merawatnya, sehingga tak sempat menengoknya?

Jika boleh memilih, gadis kecil itu tak ingin boneka, bunga, atau liontin. Ia ingin bunda.

Gadis kecil itu menatap rembulan yang sesekali tersaput awan. Ia tersenyum.
Dipandanginya rumpun bunga di halaman sejenak. Digenggamnya liontin yang tergantung di lehernya.

Ia tersenyum sekali lagi pada rembulan. Perlahan ditutupnya jendela.
Gadis kecil itu beranjak ke tempat tidurnya. Sebelum memejamkan mata, ia membelai boneka yang ia letakkan di sisi bantalnya.

Lagi, gadis kecil itu tersenyum.

Malam itu, ia mimpi berjumpa bunda.

Selasa, 20 Juni 2006 10.16am

barisan layang-layang

Alangkah mirisnya melihat keputusasaan seorang pemimpin. Keputusasaan yang mendorongnya mengandalkan kepatuhan prajurit dan mengabaikan kefahaman. Mengandalkan kepercayaan prajurit dan mengabaikan persaudaraan.

Alangkah sedihnya melihat keputusasaan seorang prajurit. Keputusasaan yang disebabkan oleh tak lagi berharapnya ia pada kefahaman dan persaudaraan. Keputusasaan yang memunculkan kepatuhan kosong dan mungkin dianggap sebagai bentuk kepercayaan.

Bertemunya kedua keputusasaan itu akan membuahkan kelanggengan. Ketentraman yang akan memunculkan rasa bahwa segalanya baik-baik saja. Kepuasan yang menyebabkan tak adanya usaha perbaikan sedikit pun juga.

Apakah memang kita harus lebih menerima ketenangan semu? Sementara jama’ah manusia memang sudah sewajarnya berdinamika. Karena memang, masing-masingnya hanya manusia biasa. Dengan isi kepala yang tidak bisa kita atur agar persis serupa.

Aku punya mimpi, kamu punya mimpi, dia punya mimpi, mereka punya mimpi. Pemimpin punya mimpi. Prajurit punya mimpi. Kita semua punya mimpi. Dan bukan kesalahan jika kita tidak bisa memimpikan hal yang sama. Dan pasti ada alasannya Alloh memberikan pada manusia kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Salah satunya agar manusia bisa saling mengerti. Agar terwujudnya mimpi seorang manusia, tidak mengakibatkan hancurnya mimpi manusia lainnya. Sederhana, karena mimpi kita harusnya bisa membubung bersama.

spirit srikandi

bukan karena kuat badannya

melainkan karena tegar hatinya

bukan karena jitu bidikannya

melainkan karena tajam perasaannya

bukan karena keberaniannya bertarung

melainkan karena kesadarannya berjuang

karena dia wanita

maka aku memanggilnya

:srikandi

yogyakarta, 22 okt 2009 11.30am

episode kesendirian

home-alone-catmanusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. manusia tidak bisa hidup sendiri. setangguh apapun dia, pasti dia membutuhkan orang lain. anak esde yang dapat pelajaran pendidikan kewarganegaraan juga sudah pada tahu.

dan tentu saja, sebagai manusia biasa aku pun begitu. **jadi, aku sama sekali bukan catwoman. ingat itu.**

yah, walaupun di sisi lain, manusia adalah makhluk individu. makhluk yang ingin menjaga eksistensi ke-aku-annya. ada saatnya juga manusia ingin sendiri. merasa nyaman sendiri di puncak bukit memandangi lembah yang hijau, di tepian pantai menatap birunya laut, atau dengan cara yang lebih sederhana seperti berdiam di sudut masjid-dan tempat yang lebih pribadi-sudut kamarnya sendiri.

ouch. yang akan aku ceritakan sebenarnya tidak se-mellow itu. memang sih, akhir-akhir ini aku dihadapkan pada episode kesendirian yang kadang-kadang menyesakkan jiwa. tapi masa’ seorang nana jadi mellow cuma gara-gara hal kayak gitu. gak lah. something that didn’t kill you just will make you stronger. ha.. **mulai sesumbar..**

ah kelamaan prolognya. bisa-bisa aku digampar sama orang yang suka to the point.

woke. jadi, kemarin kamis aku jaga praktikum-nyaris saja-sendirian. pak dosen-yang oleh nak 2008 dipanggil dengan sebutan pak pasha-baru dateng satu jam sebelum praktikum selesai, 25% lah dari total waktu praktikum.

jadi yang mbuka aku, ngasih pretest aku, yang nilai aku, yang ngawal presentasi aku. he.. tugas asisten kan emang kayak gitu. masalahnya ada yang nilai pretestnya di bawah limit minimal. aku gak berani ngetok palu buat inhal. kasian juga bocah-bocah pada ribut terus nanya ada yang inhal apa gak. dan aku cuman bisa senyum. dan ternyata senyuman di saat-saat seperti itu justru bikin mereka makin cemas. haghag.. akhirnya inhal baru diumumin pas dosennya datang. duh kasian sebenernya. tapi peraturan harus ditegakkan-itu kata dosennya.

setiap kejadian pasti mempunyai hikmah-sekecil apapaun-di dalamnya. setiap hari yang dilalui akan menjadi jenjang menuju tahap yang lebih baik-bila kita mau.

jaga praktikum sendirian memang bukan kejadian luar biasa. asisten lain juga pernah ngalamin itu. tapi kejadian itu membuatku merenung sekian detik. merasa menyaksikan refleksi hari yang kulalui akhir-akhir ini. duh jadi mellow. nulis apa sih aku ini.

oke. aku buat saja kata-kata pamungkasnya.

mungkin, tiap manusia memang harus mengalami episode kesendirian untuk bisa lebih menghargai serial kebersamaan.

jyahhh….

Jumat siang di SMA

Seperti Jumat-jumat pada umumnya, hari Jumat siang ini aku ke SMA. Beralih sejenak dari segala hiruk pikuk kampus. Beralih dari wifi gelanggang dan farmasi ke wifi teladan. **haha..online..online** Dan yang jelas, menunaikan amanah KIP a.k.a mentoring kelas XI. **tiba-tiba serius..**

Ke SMA setiap Jum’at memang menjadi hal rutin. Tapi rutinitas yang satu ini benar-benar menyegarkan. Bukan cuma karena aku jadi bisa ngabur dari kampus secara terlegitimasi loh. Seperti hari ini, aku bisa tersenyum riang-nahan ketawa-saat keluar dari gerbang SMA. Itu menjadi begitu berharga di tengah hari-hari pahitku. Haha.. Continue Reading »

Srikandi abad ini

Kami wanita, itu sungguh kami sadari

Kami tak pernah menuntut emansipasi
karena yang kami yakini,
Tuhan tak pernah salah memberi porsi

Kami wanita, dan kami coba menghayati

Maka kami tak sanggup berdiam diri
Berjajar anak panah yang berharap pada rentangnya busur kami
Dan mereka tak dapat terlalu lama menanti

Kami wanita, itu takkan kami ingkari

Namun bukan berarti kami tak bisa lebih berani
Bukan berarti tak boleh kami yang berinisiasi

Kami siap memberi, beraksi, berkontribusi
untuk Islam, untuk bangsa, untuk almamater yang kami cintai

karena kami, adalah srikandi abad ini

Yogyakarta, 1 Oktober 2009, 05:20 am

logo NABanyak hal yang bisa kita dapat dari silaturohim. Dan Ahad sore kemarin, aku mendapatkan sepaket komplit tausiyah dari silaturohim.

Semua kisah ini diawali Sabtu pagi, ketika hp-ku kemasukan sms lebaran dari Mbak Ulfa yang di belakangnya dikasih embel-embel “dk Nana kpan ad wktu utk silkoh Muhammadyh Blctr?ahad 27Sep Jm 15.30 pe 18.30 gmn?”

Astaghfirulloh. Itu kan SEHARUSNYA jadi programnya infokom. Woke, aku jadi merasa bersalah. Dan rasa bersalah adalah salah satu hal manjur untuk membuat seorang Nana menuruti permintaan seseorang.

Jadi, aku mengiyakannya-lewat sms-dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja mendapat balasan “Nanti yg d dtngi:pkGiman, pkImam, BuSandra, pakNHP, pakzainal, pakSugeng, pakSajiyo, pakHaryono.d tggu d rmah mbulfa jm 16.00″ Continue Reading »

Jawa dan bukan Jawa

Pada suatu hari di pekan lalu, aku mengeong di tempat yang tak biasa. Hawanya sih sama saja dengan jogja. Tapi suara-suara yang terdengar di sekitarku menandakan bahwa tempat ini sama sekali lain.

Saha eta dan eta teh saha masih bisa dicerna otakku. Tapi lebih banyak suara yang tak bisa kudefinisikan.

“Bla bla bla bla…,” ucap sang ibu. Aku tersenyum maksimal-jangan tanya bagaimana senyum maksimal itu.

“Bla bla bla…,” beliau berucap lagi sambil menunjuk seonggok kain. Aku mengangsurkan dua lembar kain pada beliau tapi beliau mengembalikan salah satunya.

“Gak bisa sunda?” tanya beliau. Aku tersenyum lagi-sedikit di bawah maksimal-sambil mengangguk.

Aku sudah mencoba mengurangi kemencolokan dengan menggunakan a’ sebagai pengganti mas dan teh sebagai pengganti mbak. Tapi itu ternyata malah menjerumuskan.

“)(&^!&%&*%$#(^(&)…” (tidak terdefinisikan dengan abjad apapun oleh telingaku)

Aku mencoba mengolahnya dalam otakku untuk bisa mengeluarkan respon yang tepat. Tapi sel-sel kecil kelabuku-istilahnya Agatha Christie-tidak mampu berbuat banyak sekeras apapun usahanya. Maka ekspresiku datar-datar saja. Aku juga tidak mengeluarkan suara apapun. Singg…

“Teteh teh Jawa?”

Ekspresi tetap datar, “Iya.”

“Bla bla bla..” tidak jelas ngomong apa, tapi artinya kira-kira ‘pantesan gak tau’. Ha. Memangnya ini pulau apa.. -_-

Ada lagi yang ngomong, “Cah dua batangan wae.” Nah yang ini aku ngerti artinya. Jadi aku senyam senyum gak jelas. Yang ngomong malah jadi tengsin akhirnya karena ngira aku gak tahu artinya.

Huhuhu… Kapan-kapan perginya nyebrang pulau sekalian ah. Biar gak dong sama sekali.

IMG000045Selama setahun kemarin aku menjalani hidupku dengan biasa-biasa saja. Seolah semuanya baik-baik saja. Seakan segalanya lengkap dan sempurna.. Sampai hari Sabtu kemarin..

Sabtu siang, 19 September 2009, aku dan lia-tetanggaku-kebagian shift terakhir penerimaan zakat. Kami dilanda kebosanan yang amat sangat. Dan lia mulai menginspeksi kantong HPku-yang juga adalah  dompetku- sebagai hiburan. Mulailah kami ngobrol tentang KTM dan diversifikasi KTM masing-masing perguruan tinggi. Lalu tibalah kartu ajaib itu dia amati. Kata dia,

ya ampun KTPmu jadul banget

Aku cuma mesam-mesem sambil ngitung duit-yang bukan duitku-. Kataku,

padahal masa berlakunya masih lama

Tak sengaja, aku memandangi KTPku yang ada di tangannya. Aku mulai merasa ada yang aneh. Cepat kuraih KTPku.

hah? masa berlakunya habis tahun 2008?????!!!!!!

Lia gak kalah kaget. Selanjutnya dia cuma bisa ber-ya ampuuunnnn…

Agak lama aku memegangi KTP biruku itu dan merenungi angka tahun 2008 yang tertulis di bawah tulisan ‘Berlaku s/d’. Selama ini aku dengan pede mengira KTPku baru expired tahun 2011-yang ternyata itu adalah tahun expired SIMku. Aku merenungi kenyataan bahwa itu adalah hari Sabtu, H-1 lebaran, sehingga gak mungkin aku ngurus KTP saat itu juga. Padahal sepertinya dalam waktu dekat aku akan membutuhkan KTP. Aku lihat tulisan di balik KTPku.

Selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak masa berlakunya habis, penduduk yang bersangkutan diwajibkan mengajukan permohonan untuk memperoleh Kartu Tanda Penduduk yang baru. Pelanggaran terhadap ketentuan ini diancam dengan pidana kurungan/denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Haha. Gak mungkin mereka tega mengurungku. Mubadzir. Tapi jelas akan tega mendendaku. Owh.. Tapi.. Alhamdulillah dendanya gak dilipatgandakan sesuai masa keterlambatan..

Sungguh, aku adalah warga negara yang baik-walo kadang menerobos lampu merah. Tapi tanpa KTP yang masih berlaku, aku gak berani koar-koar lagi soal Indonesia 100%. Entah berapa sekarang persentase ke-Indonesia-anku.

Pretending is quite hard to do. Ah, it’s very hard.

Hari itu seorang adik kelas menyapaku dengan kata-kata yang tak biasa,
“Senyum dong mbak..”

Aku terhenyak. Ketika itu, aku berusaha tersenyum tapi rasanya aku gagal. Kalaulah ada senyum yang berhasil kubentuk kala itu, pastilah itu senyum yang tampak sangat tidak tulus. Tapi aku tak begitu heran. Aku masih sangat ingat pada kejadian yang mungkin membuatku seperti itu, yang terjadi tak lebih dari sepuluh menit sebelumnya.

“Jadi, ngulang lagi Bu?” kata-kataku sudah tanpa nada. Untuk mengeluarkannya pun aku hampir kehabisan tenaga.

“Iya. Paling dua bulan selesai.” Dan beliau bergegas pergi.

Duniaku seakan sunyi tiba-tiba. Beliau tak pernah tahu, bahwa bagiku, dua bulan itu terlalu lama. Dua bulan akan mengubah segalanya.

Gumpalan harapan dalam dadaku yang perlahan menemukan bentuk nyatanya, tiba-tiba terhempas. Menyerpih. Menyisakan kepingan-kepingan berantakan. Dengan sisa-sisa energi aku menahan agar kepingan itu tidak berhamburan keluar. Dan segala upaya itu meminta harga yang terlalu mahal. Sampai-sampai aku tak bisa lagi membayar hal lain, bahkan untuk sebuah senyuman.

Maaf. Selalu hanya itu yang bisa kuucap pada akhirnya. Lain kali aku akan mencoba dengan lebih baik lagi. Sampai aku bisa benar-benar lihai memainkannya.

The art of pretending -part 1

Dulu, kalau tidak salah waktu SMA, ada serial yang diputar di TV berjudul “The Pretender”. Aku lupa detil ceritanya. Tapi secara umum, serial ini berkisah tentang seseorang yang bisa menyamar menjadi orang macam apapun untuk menyelesaikan misinya.

Itu serial TV. Apapun bisa terjadi dan cerita yang paling tidak masuk akal pun bisa dibuat untuk TV. Tapi core dari cerita itu, yaitu pretending, berpura-pura, adalah hal umum yang sering dilakukan manusia.

Aku selalu mengagumi orang yang lihai dalam hal pretending, tentu dalam konotasi positif. Bagiku itu seni. Karena batas antara berpura-pura dan berdusta nyaris tak ada. Dan orang yang bisa dengan lihai melakukannya tanpa menjadikan itu dusta pastilah artis besar, seniman kehidupan.

Tak hanya seorang yang telah kujumpai punya kemampuan seperti itu. Mereka tak menampakkan akting berlebihan seperti pemain sinetron Indonesia. Kehebatan mereka justru pada kemampuan mereka membuat segalanya seolah wajar dan baik-baik saja.

Orang-orang hebat itu senantiasa tersenyum. Padahal, sering aku tahu, hidup yang mereka jalani tak seindah senyuman mereka. Tapi mereka membiarkan pahit dan getir itu mereka kecap sendiri dan menyuguhkan manis pada orang di sekitarnya.

Tak jarang ada dorongan dalam diriku untuk mendesak mereka bersikap apa adanya. Tapi aku tak pernah bisa. Apa lagi yang lebih apa adanya selain sikap yang mereka tunjukkan selama ini? Akhirnya ketika mereka tersenyum, aku hanya bisa turut tersenyum, dengan sedikit getir.

Aku juga ingin bisa memainkannya.

hanya bisa minta maaf

i'm sorryaku tak berusaha, aku tak berharap, aku gagal, dan aku tak kecewa.
aku berusaha, aku berharap, aku gagal, dan mau tak mau aku kecewa, dan itu menyakitkan.
apakah seharusnya aku tak usah berusaha? atau aku tak usah berharap?
ah, bodoh nian aku ini. harapan itu bisa dimodifikasi. hanya saja aku terlambat menyadarinya.

jadi, semua sudah terjadi. ada harga yang harus dibayar atas segala kelalaianku selama ini. akhirnya aku hanya bisa minta maaf saja.

maaf. mohon maaf sebesar-besarnya pada kalian semua. afwan jiddan. nyuwun pangapunten.

untuk bapak. untuk ibu. untuk simbah. untuk adek. untuk sahabatku semua. untuk kakak-kakak. untuk amanahku. untuk badan ini.

maaf. atas kesediaan kalian memelihara harapan.
maaf. karena aku tak bisa sehebat yang kalian harapkan.

Ya Alloh. ampuni aku.

Continue Reading »

Dua ribu sembilan sudah terlewati lebih dari setengahnya. Dan hari-hariku pun berlalu, berganti dari satu slide ke slide yang lain. Begitu alami, begitu padu, sehingga aku sempat terlupa bahwa aku pernah punya rencana lain tentang dua ribu sembilan-ku.

Ini tentang Gamping. Sebuah kecamatan yang menjadi satelit Kota Yogyakarta. Sebuah kecamatan yang di antara penghuninya terdapat orang-orang muda dengan mimpi besar. Dan alangkah sangat memalukan ketika aku yang juga masih muda ini sempat lupa bahwa aku pernah menaruh rencana tentang aku dan Gamping. Reminder itu baru menyala di paruh pertama 2009 ini, ketika gempita pesta demokrasi memanggilku untuk berpartisipasi dalam serangkaian yankes di Gamping. Dan di sana aku menjumpai onggokan rencanaku itu, sudah terselimuti debu. Aku hanya mampu mengingat-ingat apa yang dulu kusimpan di sana, namun belum berani memungut dan mengusap debunya, sampai saat ini.

Awal 2008, penanda terjadinya periodisasi di Gamping, dan juga di kampus. Aku, ketika itu, berucap bahwa aku tak bisa menjanjikan diriku untuk memrioritaskan Gamping selama tahun itu. Aku sudah berencana. Aku mengagendakan untuk turut bermimpi bagi Gamping. Aku akan menghabiskan semuanya di kampus pada tahun 2008. Setelah itu, mulai 2009, aku akan melalui intermediet phase-ku, dengan tenang, melakukan hal yang bisa dan mungkin untuk dilakukan, atau istilah yang lebih militannya—berjuang, di kecamatan ini. Karena setelah fase itu berlalu, aku kembali tak akan bisa berjanji untuk Gamping.

Dalam rencanaku saat itu, 2009 adalah ketika touring-ku adalah keliling Balecatur pada khususnya dan Gamping pada umumnya, agenda liburanku adalah Teorema, dan buberku di bulan Romadlon adalah buka bersama Irmaga dan NA. Waktu itu aku tentu tak pernah menyangka bahwa masa setahun ternyata tak cukup. Aku tak memperhitungkan kemungkinan adanya injury time. Dan hal-hal yang terjadi pada bulan-bulan berikutnya bahkan tidak hanya memberikan injury time, tapi juga tambahan babak. Selanjutnya, bisa jadi intermediet phase-ku hanya pernah ada dalam rencana.

Aku pikir, ini sama sekali bukan tentang pilihan dan keharusan untuk memilih. Aku tak akan sanggup memilih. Bagiku ini tentang berusaha melakukan yang terbaik di tempatku berada saat ini. Tapi ternyata itu, entah kusadari atau tidak, membawaku pada pilihan-pilihan tertentu.

Lidahku semakin kelu untuk berjanji kini. Mungkin nanti aku akan memberanikan diri memungut kembali rencana itu, membersihkan debu yang menyelimutinya, dan, mau tidak mau, mengutak-atik beberapa bagiannya. Tapi aku juga tak tahu, akan seberapa drastis aku mengubahnya. Aku benar-benar tak bisa berjanji.

Older Posts »