Alloh begitu baik, memberi banyak kesempatan, senantiasa menghadirkan pengingat bagi nana untuk belajar menjadi lebih dewasa. Hanya saja, seringkali nana tak menyadarinya.
Semalam, Rabu 25 Februari 2009, pukul 22.45, setelah sepekan penuh berjuang, seorang kawan telah dijemput Sang Kekasih.
Bagus Aji Pamungkas namanya. Terakhir dia menempuh pendidikan di fakultas kehutanan, seangkatan denganku.
Aku tak sempat mengenalnya. Tahu nama. Tahu sedikit tentang aktivitasnya. Itu saja. Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang dia. Namun aku begitu berani menyebutnya sebagai kawan. Ah, sebenarnya lebih dari itu. Kami bersaudara, saudara seiman.
Pagi tadi, ketika surya baru saja menyapa dunia, aku menyaksikan tangis orang-orang di sekitarku. Dan aku memutuskan, aku tidak akan menangis. Aku tidak boleh menangis. Kalau aku menangis juga, aku tidak bisa menenangkan siapa-siapa selain diriku sendiri.
Tapi.. siang tadi pertahananku hampir runtuh ketika aku buka ugeem.com dan menemukan rilis kabar hari ini serta barisan kata-kata ini di sana. Hhhh.. siapa sih yang nulis itu?
Selamat jalan Bagus. Semoga mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Banyak kawan yang menyayangimu di dunia. Namun kami tak boleh lupa bahwa Alloh-lah Yang Maha Penyayang.


ponk…
hidup penuh kebetulan,,
atau ini yang disebut takdir??
jadi gini, aku nyasar ke blogmu gara2 googling “dita pramudianti”
trus nemu blogmu
baca postinganmu ini
kemudian aku baru sadar
orang yg namanya Bagus itu temen SMA temen kost sekaligus temen sekelasku di ilkomp….
dia baru2 ini crita soal meninggalnya temen SMAnya..
ternyata kamu kenal juga to…
iya tonk.
beberapa bulan ini dikasih pengingat terus, bahwa “kullu nafsin dzaiqotul maut..”
keep contact ya..
ketemuan lagi yuk sama temen2 SMA.
karena penyesalan itu datangnya belakangan tonk..