
# Di daerah Banyumas
Nana—“Mas Mumtaz sama Mas Budiman itu satu dapil toh?”
Dan ternyata, yang duduk di baris satu sampai tiga—aku, mbak eva, mbak mega, mbak saras, pipit, nuri—semua komen tentang mas mumtaz.
#Di tempat parkir Harapan Kita
Pak parkir—“Bentar pak, ada yang mau keluar.”
Pengendara mobil—“Mau keluar ya?”
Pak parkir—“Iya.”
Pengendara mobil—“Keluar aja kalee’..”
Oh, indahnya Jakarta…
#Di depan ICU Harapan Kita
Keluarga pasien—(datang tergopoh-gopoh) “Tadi ada perawat minta saya masuk. Megasari di ruang ICU.”
Security—“Sebentar saya telepon perawatnya.” (Dan paknya pun nelepon.) “Tidak ada panggilan tuh Bu.”
Keluarga pasien—“Tapi tadi ada yang bilang begitu. Tidak terjadi sesuatu kan?”
Security—“Kalau butuh dipanggil, akan bilang ke saya. Nanti saya yang memanggil.”
Keluarga pasien—“Ya udah!” (ngomongnya keras dan pergi sambil bersungut-sungut)
Mbak Eva—“Loh, harusnya seneng dong sodaranya gak kenapa-napa.”
Yeni—“Ingat, ini bukan jogja.”
#Di lift Harapan Kita
Guide—“Maklumlah kalau keluarga pasien di sini temperamennya tinggi. Kan mikirin keadaan keluarganya, mikirin biaya, kan mahal.”
Kelompok dua—“Oooo…” (nyengir bareng-bareng)
#Di Mushola Dharmais
Bapak-bapak—“Sudah adzan belum ya?”
Nana—“Belum pak. Sholat Jumat aja pak di masjid.”
Bapak-bapak—“O iya ini hari Jumat ya.”
Gangster—“Bla bla bla bla..”
Nana—“Loh, bapaknya tadi lupa kalo ini hari Jumat ya?”
Gangster—“Aiiiiihhhhh….”
#Di Tol Cipularang-1
Mbak Eva—“Semua padalarang.” (dengan logat khas adit—ngapakmania)
Nana—“Iyak.” (masih ngapak)
Lah, ini di jawa barat apa banyumas sih?
#Di Tol Cipularang-2
Nana—“Aih, kita dikentutin sama bis di depan.”
Deretan kursi depan—“puah,, puah,, puah,,”
Nana—“(Bisnya) yang ngentutin namanya budiman lagi..”
#Di Cihampelas
Mbak Eva—“Saras dan yang lainnya ke mana ya?”
Nana—“Apa mereka gak tahu ya kalo kita masuk Ciwalk?”
Mbak Eva—“Tahu ah..”
Nana—“Wah, masa’ mereka ilang.”
Kita kali’ yang ilang… Orang banyakan mereka

