
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(Sapardi Djoko Damono, 1994)
Pertama kali nemu puisi ini waktu nyari bahan tugas bahasa Indonesia kelas 1 SMA. Tiap kali Juni datang selalu ingat lagi. Dan menurutku puisi ini lebih bagus dari puisinya Sapardi yang judulnya ‘aku ingin’ (apa karena ‘aku ingin’ terlalu populer sampai aku bosen ya..)


ojo mlayu-mlayu na
mbak… ada puisi2nya Pak SDD lagi gk? posting lagi dong… hehe… oke2 ternyata…
salam kenal (agak lupa2 inget)
@permita
aih, kuwi kan pas ngejar dirimu yang lepas dari krangkeng waktu itu..
@kerlip
yo kapan2 insya Alloh aku posting lagi..
kerlip anak quickseven kan?
iya mbak… adek kelas, tetangga kelas… hehe…
ditunggu kalo ada lagi,