Dulu, kalau tidak salah waktu SMA, ada serial yang diputar di TV berjudul “The Pretender”. Aku lupa detil ceritanya. Tapi secara umum, serial ini berkisah tentang seseorang yang bisa menyamar menjadi orang macam apapun untuk menyelesaikan misinya.
Itu serial TV. Apapun bisa terjadi dan cerita yang paling tidak masuk akal pun bisa dibuat untuk TV. Tapi core dari cerita itu, yaitu pretending, berpura-pura, adalah hal umum yang sering dilakukan manusia.
Aku selalu mengagumi orang yang lihai dalam hal pretending, tentu dalam konotasi positif. Bagiku itu seni. Karena batas antara berpura-pura dan berdusta nyaris tak ada. Dan orang yang bisa dengan lihai melakukannya tanpa menjadikan itu dusta pastilah artis besar, seniman kehidupan.
Tak hanya seorang yang telah kujumpai punya kemampuan seperti itu. Mereka tak menampakkan akting berlebihan seperti pemain sinetron Indonesia. Kehebatan mereka justru pada kemampuan mereka membuat segalanya seolah wajar dan baik-baik saja.
Orang-orang hebat itu senantiasa tersenyum. Padahal, sering aku tahu, hidup yang mereka jalani tak seindah senyuman mereka. Tapi mereka membiarkan pahit dan getir itu mereka kecap sendiri dan menyuguhkan manis pada orang di sekitarnya.
Tak jarang ada dorongan dalam diriku untuk mendesak mereka bersikap apa adanya. Tapi aku tak pernah bisa. Apa lagi yang lebih apa adanya selain sikap yang mereka tunjukkan selama ini? Akhirnya ketika mereka tersenyum, aku hanya bisa turut tersenyum, dengan sedikit getir.
Aku juga ingin bisa memainkannya.

