Pada suatu hari di pekan lalu, aku mengeong di tempat yang tak biasa. Hawanya sih sama saja dengan jogja. Tapi suara-suara yang terdengar di sekitarku menandakan bahwa tempat ini sama sekali lain.
Saha eta dan eta teh saha masih bisa dicerna otakku. Tapi lebih banyak suara yang tak bisa kudefinisikan.
“Bla bla bla bla…,” ucap sang ibu. Aku tersenyum maksimal-jangan tanya bagaimana senyum maksimal itu.
“Bla bla bla…,” beliau berucap lagi sambil menunjuk seonggok kain. Aku mengangsurkan dua lembar kain pada beliau tapi beliau mengembalikan salah satunya.
“Gak bisa sunda?” tanya beliau. Aku tersenyum lagi-sedikit di bawah maksimal-sambil mengangguk.
Aku sudah mencoba mengurangi kemencolokan dengan menggunakan a’ sebagai pengganti mas dan teh sebagai pengganti mbak. Tapi itu ternyata malah menjerumuskan.
“)(&^!&%&*%$#(^(&)…” (tidak terdefinisikan dengan abjad apapun oleh telingaku)
Aku mencoba mengolahnya dalam otakku untuk bisa mengeluarkan respon yang tepat. Tapi sel-sel kecil kelabuku-istilahnya Agatha Christie-tidak mampu berbuat banyak sekeras apapun usahanya. Maka ekspresiku datar-datar saja. Aku juga tidak mengeluarkan suara apapun. Singg…
“Teteh teh Jawa?”
Ekspresi tetap datar, “Iya.”
“Bla bla bla..” tidak jelas ngomong apa, tapi artinya kira-kira ‘pantesan gak tau’. Ha. Memangnya ini pulau apa.. -_-
Ada lagi yang ngomong, “Cah dua batangan wae.” Nah yang ini aku ngerti artinya. Jadi aku senyam senyum gak jelas. Yang ngomong malah jadi tengsin akhirnya karena ngira aku gak tahu artinya.
Huhuhu… Kapan-kapan perginya nyebrang pulau sekalian ah. Biar gak dong sama sekali.

