manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. manusia tidak bisa hidup sendiri. setangguh apapun dia, pasti dia membutuhkan orang lain. anak esde yang dapat pelajaran pendidikan kewarganegaraan juga sudah pada tahu.
dan tentu saja, sebagai manusia biasa aku pun begitu. **jadi, aku sama sekali bukan catwoman. ingat itu.**
yah, walaupun di sisi lain, manusia adalah makhluk individu. makhluk yang ingin menjaga eksistensi ke-aku-annya. ada saatnya juga manusia ingin sendiri. merasa nyaman sendiri di puncak bukit memandangi lembah yang hijau, di tepian pantai menatap birunya laut, atau dengan cara yang lebih sederhana seperti berdiam di sudut masjid-dan tempat yang lebih pribadi-sudut kamarnya sendiri.
ouch. yang akan aku ceritakan sebenarnya tidak se-mellow itu. memang sih, akhir-akhir ini aku dihadapkan pada episode kesendirian yang kadang-kadang menyesakkan jiwa. tapi masa’ seorang nana jadi mellow cuma gara-gara hal kayak gitu. gak lah. something that didn’t kill you just will make you stronger. ha.. **mulai sesumbar..**
ah kelamaan prolognya. bisa-bisa aku digampar sama orang yang suka to the point.
woke. jadi, kemarin kamis aku jaga praktikum-nyaris saja-sendirian. pak dosen-yang oleh nak 2008 dipanggil dengan sebutan pak pasha-baru dateng satu jam sebelum praktikum selesai, 25% lah dari total waktu praktikum.
jadi yang mbuka aku, ngasih pretest aku, yang nilai aku, yang ngawal presentasi aku. he.. tugas asisten kan emang kayak gitu. masalahnya ada yang nilai pretestnya di bawah limit minimal. aku gak berani ngetok palu buat inhal. kasian juga bocah-bocah pada ribut terus nanya ada yang inhal apa gak. dan aku cuman bisa senyum. dan ternyata senyuman di saat-saat seperti itu justru bikin mereka makin cemas. haghag.. akhirnya inhal baru diumumin pas dosennya datang. duh kasian sebenernya. tapi peraturan harus ditegakkan-itu kata dosennya.
setiap kejadian pasti mempunyai hikmah-sekecil apapaun-di dalamnya. setiap hari yang dilalui akan menjadi jenjang menuju tahap yang lebih baik-bila kita mau.
jaga praktikum sendirian memang bukan kejadian luar biasa. asisten lain juga pernah ngalamin itu. tapi kejadian itu membuatku merenung sekian detik. merasa menyaksikan refleksi hari yang kulalui akhir-akhir ini. duh jadi mellow. nulis apa sih aku ini.
oke. aku buat saja kata-kata pamungkasnya.
mungkin, tiap manusia memang harus mengalami episode kesendirian untuk bisa lebih menghargai serial kebersamaan.
jyahhh….

