
Alangkah mirisnya melihat keputusasaan seorang pemimpin. Keputusasaan yang mendorongnya mengandalkan kepatuhan prajurit dan mengabaikan kefahaman. Mengandalkan kepercayaan prajurit dan mengabaikan persaudaraan.
Alangkah sedihnya melihat keputusasaan seorang prajurit. Keputusasaan yang disebabkan oleh tak lagi berharapnya ia pada kefahaman dan persaudaraan. Keputusasaan yang memunculkan kepatuhan kosong dan mungkin dianggap sebagai bentuk kepercayaan.
Bertemunya kedua keputusasaan itu akan membuahkan kelanggengan. Ketentraman yang akan memunculkan rasa bahwa segalanya baik-baik saja. Kepuasan yang menyebabkan tak adanya usaha perbaikan sedikit pun juga.
Apakah memang kita harus lebih menerima ketenangan semu? Sementara jama’ah manusia memang sudah sewajarnya berdinamika. Karena memang, masing-masingnya hanya manusia biasa. Dengan isi kepala yang tidak bisa kita atur agar persis serupa.
Aku punya mimpi, kamu punya mimpi, dia punya mimpi, mereka punya mimpi. Pemimpin punya mimpi. Prajurit punya mimpi. Kita semua punya mimpi. Dan bukan kesalahan jika kita tidak bisa memimpikan hal yang sama. Dan pasti ada alasannya Alloh memberikan pada manusia kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Salah satunya agar manusia bisa saling mengerti. Agar terwujudnya mimpi seorang manusia, tidak mengakibatkan hancurnya mimpi manusia lainnya. Sederhana, karena mimpi kita harusnya bisa membubung bersama.

