
Seorang gadis kecil menimang sebuah boneka, di ambang jendela, suatu malam.
Gadis kecil itu teringat pertanyaan yang seringkali ia cetuskan, namun tek pernah beroleh cukup jawaban.
Malam ini ia coba bertanya pada rembulan yang tengah menyapa bumi.
“Di mana bunda?”
Gadis kecil itu berujar pelan. Dibelainya perlahan boneka di tangannya. Kata ayah, boneka itu pemberian bunda.
“Sedang apa bunda?”
Gadis kecil itu berujar pelan. Dipandanginya rumpun bunga di halaman, yang ia turut merawatnya. Kala nenek, bunga-bunga itu peninggalan bunda.
“Apa bunda sayang padaku?”
Gadis kecil itu berujar pelan. Dirabanya liontin yang tergantung di lehernya.
Ada potret seorang wanita menggendong bayi di sana. Ia dan bunda. Kata kakek, liontin itu dulu milik bunda.
Apa dunia bunda keemasan seperti engkau, rembulan di atas sana? Apa ada taman bunga yang sangat luas, yang membuat bunda sibuk merawatnya, sehingga tak sempat menengoknya?
Jika boleh memilih, gadis kecil itu tak ingin boneka, bunga, atau liontin. Ia ingin bunda.
Gadis kecil itu menatap rembulan yang sesekali tersaput awan. Ia tersenyum.
Dipandanginya rumpun bunga di halaman sejenak. Digenggamnya liontin yang tergantung di lehernya.
Ia tersenyum sekali lagi pada rembulan. Perlahan ditutupnya jendela.
Gadis kecil itu beranjak ke tempat tidurnya. Sebelum memejamkan mata, ia membelai boneka yang ia letakkan di sisi bantalnya.
Lagi, gadis kecil itu tersenyum.
Malam itu, ia mimpi berjumpa bunda.
Selasa, 20 Juni 2006 10.16am

