Scene 1
“Mbak, kenapa sih kita musti ikut aksi tentang korupsi? Lalu siapa yang mengawal isu kesehatan?”
“Kan bisa beriringan..”
“Masih gak ngerti kenapa harus aksi”
“…”
Scene 2
“Kenapa tidak ada aksi menentang NAMRU?”
“Ya bisa saja. Tapi harus ada proses sebelumnya untuk memahamkan mahasiswa tentang isu itu.”
“Memangnya tentang KPK ini juga ada awalannya?”
“Yah kan masalah korupsi sudah sangat dekat dengan masyarakat secara umum.”
“…”
“Kalo memang susah memahamkan mahasiswa secara umum, gak papa juga kalo mau aksi mahasiswa fakes saja. Pernah juga kan waktu no tobacco day.”
“…”
Hmm.. Sepertinya akhir-akhir ini aku makin sering merasakan ‘desakan’ untuk menaruh perhatian lebih pada isu-isu kesehatan. Dan memang, itu adalah salah tanggungjawabku sebagai mahasiswa farmasi. Aku juga punya andil jika mahasiswa farmasi pada khususnya dan mahasiswa fakes pada umumnya tidak tahu menahu, apalagi paham, tentang isu kesehatan. Aku bisa yakin hanya sedikit di antara teman-teman sekelasku yang mengerti tentang NAMRU. Bahkan aku curiga ada sebagian yang akan merasa telah salah mendengar penyebutan nama Amru-anak Malaysia yang sekelas denganku.
Sebenarnya isu kesehatan selalu menarik bagiku. Tapi sejak tahun-tahun pertama menuntut ilmu di kampus ini, aku telah dibuat jenuh untuk mendiskusikannya di fakultas tercinta. Karena yang seringkali terjadi, diskusi panjang lebar itu hanya berujung pada perselisihan antar profesi tanpa solusi.
Aku mencintai farmasi, sungguh. Itu adalah janjiku ketika dulu memutuskan untuk menaruh farmasi di pilihan pertama UM UGM. Walau saat itu mutung dulu karena sama sekali gak boleh ikut SPMB untuk meretas jalan menuju ITB-kampus impian sejak SMP. Yah intinya, hasil akhirnya adalah, aku mencintai farmasi. Dulu aku memang cinta kalkulus, tapi sekarang ngitung integral aja aku sudah lupa. Yang aku cintai sekarang adalah farmasi. *gombal Na!
Maka aku mendukung penuh jika ada jiwa-jiwa muda yang ingin menghidupkan kembali lokus-lokus diskusi di fakultas farmasi. Dengan menitip harap, utopisnya, semua mahasiswa bisa punya pemahaman sama tentang isu-isu kesehatan. Dari kefahaman itu, semoga tumbuh benih kepedulian untuk mengubah keadaan. Dan tentu, fanatisme profesi jangan pernah lagi diandalkan untuk membumbuinya. Karena dunia kesehatan hanya akan menjadi lebih baik jika masing-masing elemen memperbaiki diri, bukan berdiam dan menyalahkan yang lain.
Sekali lagi, aku mendukung penuh. Tapi tak bisa menjanjikan sebentuk partisipasi. Bukan semata karena tak mau duduk bersama. Bukan pula karena merasa tak butuh. Bahkan mungkin mahasiswa-mahasiswa ambang batas macam ini yang lebih butuh disegarkan dengan diskusi ‘begituan’. Agar paling tidak terjaga niyatnya untuk konsisten menjaga idealisme ketika memasuki dunia profesi. *setelah itu, ya do’akan saja benar-benar konsisten. Tapi, manusia hanya punya 24 jam dalam sehari. Itulah yang membatasi manusia untuk tidak terlalu banyak berjanji.
Lah, emang siapa yang mengharap partisipasimu Na? Ge er amat yak. Ha..
Hidup mahasiswi kesehatan Indonesia! *ups, kok mahasiswi? emang lebih banyak sih. oke, direvisi.
Hidup mahasiswa kesehatan Indonesia!
Menuju Indonesia Sehat Seterusnya (gak cuma 2010 aja!)
Yogya, dini hari 13 November 2009
*sungguh, menurutku tulisan ini “ra cetho” banget! bagi yang merasa bingung harap maklum, dan aku pun memaklumimu.
btw, parah banget gak sih mahasiswa farmasi gak ngerti kalo 12 November itu hari kesehatan nasional. Jadi merasa durhaka.. ckckck..


suka dengan bagian “mahasiswa-mahasiswa ambang batas” merasa menjadi salah satu darinya… haha..
banyak mbak, yg menjadi bagian dari itu.. termasuk yg nulis ini
semoga batas itu bisa segera terpeta jelas!
mbak nana…selamat hari kesehatan
sama2 mol.. ^^
mb, aku malah baru tahu kalo tgl12 November itu hari kesehatan…
makasih ya infonya^^
hehehe…
wah wah wah, kalo ditelusuri lebih lanjut, aku yakin lebih dari 75% mahasiswa farmasi gak tahu 12 nov itu hari kesehatan nasional. jadi tenang sajalah, banyak temannya kok.. *ups..