Saat Panembahan Senopati bertahta di Mataram, banyak pemimpin daerah yang membangkang, menolak mengakui hegemoni Mataram. Salah satunya adalah Ki Ageng Mangir yang memimpin tanah Perdikan Mangir di tepi Sungai Progo (sekarang masuk kecamatan Srandakan, Bantul). Ini seakan menjadi bisul bagi Panembahan Senopati yang telah bertekad menguasai sepenuhnya Mataram.
Maka Panembahan Senopati bermaksud melakukan duel untuk menentukan siapakah yg paling berhak berkuasa di Mataram. Penyelesaian khas laki-laki. Panembahan Senopati yang seorang raja ‘tulen’, naik tahta bukan karena hadiah tapi karena memang punya daya linuwih, tak ragu untuk bertarung dengan Ki Ageng Mangir yang juga digdaya. Tombak Kiai Baru Klinthing dan pengaruh Ki Ageng Mangir yang kuat di Mangiran begitu membuat hasrat bertarung Sang Raja menggebu-gebu.
Tapi Sang Patih, Ki Juru Martani berpendapat lain. Ki Ageng Mangir dianggapnya bukan level Panembahan Senopati. Kalaupun Panembahan Senopati menang, itu hal yang lumrah saja. Bukankah Panembahan Senopati memang seorang raja? Lalu bagaimana kalau sampai kalah? Taruhannya terlalu besar. Menang ora kondhang, kalah dadi wirang. Ki Juru Martani menawarkan jalan yg lebih halus, sedikit berliku, tapi licik.
Maka digelarlah suatu operasi intelijen, Sekar Pembayun-putri Sang Raja-menyamar menjadi penari keliling/ledhek. Misi operasi ini adalah “temukan rahasia kesaktian Ki Ageng Mangir dan musnahkan!”
Dan sebagaimana yang kemudian tercatat dalam cerita-cerita, terpesonalah Ki Ageng Mangir pada Sekar Pembayun. Merekapun menikah. Dan betapa terpukulnya ketika Ki Ageng Mangir mendengar pengakuan Sekar Pembayun, bahwa dia tak lain adalah anak Panembahan Senopati, musuh bebuyutannya. Apa boleh buat, janji perkawinan telah diucapkan, pertalian darah telah ditorehkan. Kini dia menjadi menantu dari musuhnya.
Atas bujukan Pembayun, Ki Ageng Mangir menghadap Panembahan Senopati. Sepanjang perjalanan, kebimbangan menggelayut di benak Ki Ageng Mangir. Panembahan Senopati telah menjadi mertuanya. Tetapi dirinya selama ini mengambil posisi berseberangan dengan raja Mataram itu. Apakah dia akan diterima sebagai menantu ataukah musuh? Seakan Ki Ageng Mangir telah mencium takdir yang menantinya di singgasana Sang Raja.
Maka bertemulah dua seteru yg telah terikat pertalian darah ini. Sebagai menantu yang baik, Ki Ageng Mangir telah melepas seluruh senjata yang dibawanya. Ternyata benar kata Pembayun, Sang Raja menerima menantunya dengan ramah dan kasih sayang. Maka dia mengambil posisi bersimpuh dan bersiap menyembah kepada Panembahan Senopati sebagai tanda penghormatan. Hening. Helaan nafas seperti tertahan dalam kilatan waktu yang tiba-tiba melambat seperti berbulan-bulan lamanya.
Ketika kepala Ki Ageng Mangir hampir menyentuh lantai, secara tiba-tiba Panembahan Senopati dengan gerakan tak terduga meraih dan membenturkannya ke Watu Gilang yang menjadi singgasananya. Sebuah dendam politik dituntaskan. Tewaslah Ki Ageng Mangir di tangan sang mertua seiring lengking tangis Ratu Pembayun.
Apakah Pembayun benar-benar mencintai Ki Ageng Mangir?
Apakah yang ada dalam pikiran Panembahan Senopati saat melihat kepala Ki Ageng Mangir begitu dekat dengan singgasananya?
Sejarah tak pernah mencatat dengan baik hal-hal yang ada pada level perasaan seperti itu. Tapi cerita tentang kekuasaan memang sulit dihindarkan dari pengorbanan.
***
Makam Ki Ageng Mangir sendiri dibuat separuh di dalam pagar kompleks makam dan separuhnya lagi di luar pagar. Sungguh suatu perlambang ambigu: separuh musuh separuh keluarga. Tapi juga mencerminkan sisi kelam jiwa manusia yang memiliki dendam begitu besar, bahkan setelah musuhnya mati.
(diramu dari berbagai sumber, dengan sedikit polesan)
Pramudya Ananta Toer membuat novel berdasarkan kisah Ki Ageng Mangir.
Kisah ini juga pernah difilmkan dan diputar berseri di TVRI waktu saya SMP






Akan hadir, informasi seputar cerita sejarah mangir, kegiatan-kegiatan serta tempat-tempat menarik dimangir yang bisa anda kunjungi. Website w w w . m a n g i r . w e b . i d
PERANG RANTAI EMAS
Ketika terjadi tragedi berdarah antara Kerajaan Majapahit dan Demak sekitar th. 1478 M, dan pihak Majapahit yang mengalami kekalahan, maka keluarga besar Brawijaya V saling melarikan diri untuk meneyelamatkan jiwanya dari kejaran prajurit demak, dan salah satunya gugur putra menantunya yaitu Joko Sengoro. Salah satu anaknya adalah Joko Balut yang melarikan diri ke arah Barat sampai menetap di Gunung Kidul. Barangkali dan kemungkinan Joko Balutlah yang mungkin membawa salah satu pusaka kerajaan yang bernama Baru Klinting yang cukup ampuh dan tinggi daya supranaturalnya serta ujung tombaknya yang mengandung racun yang sangat berbisa. Pada saat tinggal di Gunung Kidul ia mempunyai keturunan yang bernama Angabaya I. Setelah Panembahan senopati berkuasa di Mataram sekitar Th. 1579 M, ada dua gerakan separatis yang satu dipimpimpin oleh Ki Gede Wanakusuma yang berkuasa di Tlatah Giring dan sebelah Barat dipimpin oleh Angabaya III. Untuk menumpas pembrontak dari Ki Gede Wanakusuma Panembahan Senopati ibarat berlayar sekali mengayuh mendapat dua pulau, yaitu bisa membunuh Wanakusuma, bekas kakak iparnya dan membunuh mantan istrinya yaitu rara lembayung yang melaggar sumpah. Konon demi wahyu keraton saat Panembahan Senopati belum menjadi raja masih bernama Danang sutawijaya ia memperistri Rara lembayung. Berhubung rara Lembayung wajahnya tidak cantik maka dicerai oleh Panembahan Senopati dalam keadaan hamil. Keduanya antara Lembayung dan Wanakusuma adalah sama sama putra dari Kiageng Giring III, atau Raden Mas Kertanadi. Panembahan Senopati memberi wasiat pada istrinya bila kelak jabang bayi lahir jangan sampai memberitahu siapa ayahnya, dengan meninggalkan sebilah keris tanpa sarung. Hal ini disanggupi oleh Rara Lembayung. Namun apa boleh buat setelah bayi lahir laki laki dan diberi nama Joko Umbaran dalam usia 20 tahun ia mendesak pada ibunya terus menerus untuk memberitahu siapa ayahnya. Singkat cerita setelah ditunjukan ayahnya, lalu ia mencari ayah dengan melalui perjuangan yang sangat berat. Setelah bertemu dengan ayahnya, Panembahan Senopati bersedia menerima sebagai anak asal bisa mencari sarung keris yang dibawa oleh Joko Umbaran atas pemberian dari ibunya yang bernama kayu purwosari. Hal ini adalah perintah sibolis yang artinya Joko Umbaran harus bisa membunuh Wanakusuma dan ibunya rara lembayung, yang melanggar janji.
Setelah berhasil Joko Umbara diakui sebagai anak dan diberi kedudukan oleh Panembahan Senopati sebagai Senopati Perang Mataram dan bergelar Pangeran Purboyo.
Lain halnya dengan Panembahan Senopati dalam hal menumpas pembrontakan yang dipimpin oleh Angabaya III menggunakan taktik PERANG RANTAI EMAS.
Alasan menggunakan Perang Rantai Emas ada 3 macam yaitu :
1. Apabila diserang menggunakan secara militer secara be-
sar besaran akan menghabiskan keuangan Mataram.
2. Apabila diserang secara militer secara besar besaran
akan jatuh korban yang cukup banyak, karena Angaba
ya III adalah musuh yang sulit untuk ditumpas.
3. Kalau diserang secara prajurit secara besar besaran
Angabaya III bukan levelnya.
Angabaya III bukan levelnya ( isitilah jawa Menang
ora kondang kalah wirang ).
Setelah pertempuran menggunakan perang rantai emas melalui jebakan perkawinan yang sukses antara Dewi Pembayun ( Dewi Retningrum ) dan Angabaya III, maka terkejutlah Angabaya III setelah tahu istri yang sedang mengandung adalah anak musuh bebuyutannya, dan diajak sowan ke Mataram.
Namun apadaya Angabaya III ibarat orang yang memakan buah Simala Kama, dimakan akan menemui nasib yang tragis dan tidak dimakanpun Angabaya III dalam perkawinannya dengan Pembayun sudah dukepung dengan prajurit pendem dari Mataram.
Dengan keberangkatannya Angabaya III dan Istri serta diiringi beberapa prajurit menuju Mataram diiringi tangis dan air mata oleh keluarga dan kerabatnya serta diberi nasehat agar berhati hati apabila sudah tiba di Mataram.
Memang telah menjadi kenyataan setelah tiba di luar keraton Angabaya III sudah dihadang oleh prajurit Mataram yang dipimpin oleh salah seorang Tumenggung yang sama sama ingin memperistri Dewi Pembayun.
Dasar Angabaya III seorang berjiwa prajurit orangnya cakap, ahli ilmu kanuragan dan mungkin punya ilmu kekebalan tubuh, maka terjadilah pertempuran yang tidak seimabang. Angabaya III berhadapan dengan seorang Tumenggung yang memimpin
pertempuran dan Tumenggung tersebut mati ditangan Angabaya III. Dengan luka yang sangat parah dan berjalan sempoyongan Angabaya III menjatuhkan diri dihadapan Sang Mertua Panembahan Senopati. Persoalan ia mati dibenturkan kepalanya di watu Gilang atau dengan cara lain itu walauhualam.
Tapi ada cerita lain dimana Panembahan Senopati memanggil Demang Tapanangkil untuk membawa jenasahnya keluar keraton. Jadi kalau kuburan Angabaya III yang ada di KOta Gede, separo didalam dan separo diluar itu sungguhan atau tidak kami ngga tahu.
Setelah Pembayun menjadi janda, ia hidup sebagai putri triman yang artinya hidup di luar keraton dan dalam keadaan hamil ia dikawinkan dengan Tumenggung Teposono putra Ki Ageng Karang Elo. Tumenggung Teposono setelah menjadi menantu Panembahan Senopati diberi wasiat agar kelak bayi lahir untuk dibunuh supaya tidak menjadi duri dalam daging untuk masa depan kerajaan Mataram. Setelah Pembayun melahirkan jabang bayi laki laki ibunya langsung meninggal dunia ( Sedo Konduran ), dan Ki Ageng Lo tidak tega untuk membunuh bayi yang tidak berdosa.
Maka bayi tersebut dibawa oleh Ki Ageng ke arah Barat sampai ke Tlatah Banyumas ( Kebumen ) dan diberi nama MADUSENO, sedang yang dikubur adalah ari arinya.
Cekap semanten lebih dan kurang nyuwun agunging pangapunten.
waaah ada cerita yang lebih lengkap dan tidak didramatisir
terima kasih mas slamet heryanto. cerita2 zaman dahulu memang tidak tercatat dengan detil ya, tidak seperti sekarang yang setiap kejadian di pemerintahan langsung muncul di media
Saya inging sekali menulis Kisah Fiksi tentang Ki Ageng Mangir. Adakah yang bersedia menjadi nara sumber atau mempunyai literatur2 lengkapnya? satu lagi, barangkali ada yang punya silsilah Ki Ageng Mangir. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih.
@setyo wardoyo. sebaiknya telusuri ke lokasi yang dulunya wilayah Mangiran saja. atau menghubungi pak slametheryanto dan cah mangir yang komen sebelum ini.. atau coba telusuri juga dari sudut pandang Panembahan Senopati, mungkin ada di arsip2 di Sonobudoyo. ma’af saya pribadi tidak bisa banyak membantu
Mangir (Ds. Sendangsari, Kec. Pajangan) dan Mangiran (Srandakan, Pandak), itu berbeda namun sama2 di Kab. Bantul, dan sama-sama di pingir sungai Progo. Petilasan Ki Ageng Mangir ada di Mangir (yang saat ini terdiri dari Mangir Lor, Tengah dan Kidul), selain di Kota Gede. @Setyo Wardoyo, bisa langsung ke petilasan Ki Ageng Mangir di ds. Mangir Tengah, dan disitu bisa bertemu langsung dengan sesepuh di desa tersebut. Semasa hidupnya Mantan President Gusdur pun sudah pernah berkunjung kesana..dan jangan lupa juga ke Kota Gede tempat makam Ki Ageng Mangir….Salam dari cangah trah Mangir
@azrabian. hooo gitu ya?
terima kasih atas informasinya
ada lagi cerita menarik tentang keturunan ki ageng mangir dari pembayun yang sampai kini masih eksis dalam 2 trah generasi ke 7 yang masih diuri-uri hingga sekarang. keturunannya di daerah walikukun ngawi dan ada yang membentuk semacam perdikan di jatinom klaten. sikap tegas dan ksatria turunan moyang mereka masih tergambar dari para keturunan ki ageng mangir ini.
@saptarenggo. itu mulai dibuat paguyuban trahnya tahun berapa ya pak? :O tapi cerita sejarah tentang orang yang menentang penguasa biasanya amat minim. karena catatan sejarah dibuat oleh orang2 di sekitar penguasanya
darmowangsa RALAT silsilah.
1 Krt Pembayun
2 RM Maduseno
3 RM Bodronolo
4 Ki Kertodipo
@darmowangsa. terima kasih atas ralatnya. saya jadi minder sendiri. saya iseng2 bikin posting ttg Ki Ageng Mangir dan didatangi bung-bung yang lebih tahu menahu tentang Mangir
Ki Ageng Mangir Ksatria sejati
@tri cahyono. wah penggemar Ki Ageng Mangir ya
ki ageng mangir adalah taladan keteguhan sikap. walau bera dirasa. 3 alasannya untuk tetap membela tanah dan rakyat nya sangat tepat. orang orang mataram yang gila kekuasan , pengaruh matanya akan buta telinganya pun tuli akan nilai nilai kebenaran dar alloh.
saya mau tanya yang benar Angabaya apa Wanabaya, sebab kalau di ketoprak selalu disebut Wanabaya ( I, II, ataupun III ). Tentang Mangir, Sendangsari dengan Mangiran, Srandaan saya punya perkiraan sbb: Panambang ( akhiran an ) pada kata Mangir menyatakan tempat berkumpulnya orang ( bisa pasar, alun-alun, masjid atau apapun bentuknya ) dan berada di wilayah Mangir, Sehingga Mangir = Nama padepokan/kademangan, sedangkan Mangiran = mungkin Pasar, alun-alun ataupun bentukya milik Mangir. Mengenai wilayah yang memangku saat ini Mangir di Pajangan, dan Mangiran di Srandaan, dulunya hanya satu Wilayah Kademangan Mangir. Itu hanya perkiraan saya, karena tidak ada sumber sejarah yang pasti. Maaf ya kalau salah.
Ki Ageng Mangir bukan pembangkang, tetapi memang beliau tidak mau tunduk kepada sesama manusia, beliau hanya tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ki Ageng Mangir menganggap bahwa semua manusia berderajat sama, wajib saling menghormat dan menghargai. Karena pengaruhnya yang sangat luas, maka beliau dianggap duri dalam daging, musuh dalam selimut bagi P. Senopati di Mataram.
Ki Ageng Mangir dalam pihak yang benar karena beliau lebih dulu berada di daerah itu ketimbang Sutowijoyo yang notabene-nya adalah pendatang. Memang barangkali begitulah metode politik para pendatang itu. Sewaktu mengalahkan Aryo Penangsang juga dengan cara kelicikan. Begitu juga ketika harus menaklukkan Ki Ageng Mangir. Trah mereka sebetulnya memang tidak begitu sakti-sakti itulah sebabnya harus menggunakan taktik (kalau perlu dengan cara yang licik) untuk mencapai hasratnya. ……… Kepada seuruh trah/keturunan/keluarga besar Mangir dan Mataram saya mohon ijin dan do restu saat ini saya sedang menulis Novel Fiksi Fantasi dengan latar belakang pertikaian Mangir-Mataram. Untuk keleluasaan dalam menulis maka seluruh nama tokoh dan tempat/daerah saya ganti. Trm ksh. Dirgahayu.
Menurut ku kok tidak ada yang salah ya cuman dua-duanya tidak ada yang sempurna karena kesempurnan hanya miliknya Alloh SWT……Amin
Eyang ” Gantung Siwur ” Panembahan Senopati Maupun Eyang Mangir tetap 2 pria pilih tanding di jamannya…………………………………………………….. Apapun judulnya ketika manusia sudah berada di tempat yang terhormat baik di kandang semut maupun kandang gajah tidak akan dengan mudah dan ikhlas melepas itu semua. apalagi berujud tanah/teritorial, jabatan/kekuasaan dan yang termahal adalah kehormatan nya.
Jiwa percaya diri ( pede ) jelas tersirat dan tergambar dari sikap Eyang Mangir bahwa dia bukan orang yang melik dengan iming-iming yang weleh-weleh karena yakin memiliki kemampuan dan sangat pantas memiliki/menyandang itu semua. Eyang Mangir berusaha mempertahankan itu semua karena kerajaan kecilnya ada terlebih dahulu jauh sebelum kerajaan Mataram berdiri secara de facto maupun de jure.
Dimungkinkan tawaran-tawaran menarik dan tidak berhenti datang dari Mataram, akan tetapi tidak ada yang mampu meracuni prinsipnya bahwa menjadi Raja/Owner di tempatnya sendiri lebih terhormat dibanding menjadi abdi/karyawan di tempat besar milik orang lain ( prinsipnya mandiri ).
( analisa saya wanita cantik dan hiburan ( dugem ) menjadi titik lemah Eyang Mangir ( secara genetik bisa menurun yah )….sedang Eyang Panembahan adalah orang dengan wawasan kebangsaan yang tinggi, dengan mimpi/ambisi besar dan sangat cakap secara manajerial ( smart banget ), sebagai pemimpin tentu saja kalkulasi ( kalah wirang menang ora kondang ) menjadi salah satu pertimbangan dan jika terjadi perang terbuka maka akan sangat mahal pengorbanan yang harus dikeluarkan hanya untuk merebut teritorial yang tidaklah luas, berapa banyak nyawa prajurit dan materi yang harus dikeluarkan jika itu benar-benar terjadi….baik dan buruk adalah sesuatu yang berjalan ber-iringan, akan buruk jika kita cuma melihat buruknya begitu juga sebaliknya………wassalamualaikum WR WB.
http://habibhasnan.wordpress.com/2013/01/07/bukan-panembahan-senopati-pembunuh-ki-ageng-mangir/
Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!. Tak ada yang lebih menyedihkan dan mengharukan dari kisah Mangir pembayun, seperti juga ketika saya bersimpuh di makam Pembayun di Kebayunan Tapos Depok Jawa Barat, bersebelahan dengan makam anaknya Raden Bagus Wonoboyo dan makam Tumenggung Upashanta, kadang sebagai trah Mangir, aku merasa bahwa akhirnya mataram dan mangir bersatu mengusir penjajah Belanda di tahun 1628-29, cobalah cermati makam cucu Pembayun yang bernama Utari Sandi Jayaningsih, Penyanyi batavia yang akhirnya memenggal kepala Jaan Pieterz Soen Coen pada tanggal 20 September 1629, setelah sebelumnya membunuh Eva Ment istri JP Coen 4 hari sebelumnya, kepala JP Coen yang dipenggal oleh Utari inilah yang dimakamkan di tangga Imogiri, Spionase mataram lagi lagi dijalankan oleh cucu Pembayun dan ki Ageng Mangir, http://habibhasnan.wordpress.com/2013/01/07/hafidz-allamar-penerus-perjuangan-ki-ageng-mangir/
Menarik, dan bagus, kunjungi juga blogku ya Sekar Kedaton Pembayun adalah seorang wanita yang cekatan, cerdik dan berfikiran jauh kedepan. Ia adalah anak sulung dan anak kesayangan Panembahan Senopati. Fakta bahwa dia dikirim ke kakeknya Ki Penjawi di Pati, paska terbunuhnya Ki Ageng Mangir, adalah usaha ki Mondoroko dan Panembahan Senopati untuk meredam kepedihan hati putrinya. Kelak ia melahirkan seorang pahlawan bernama Bagus Wanabaya yang menjadi Murid kesayangan Pangeran Benawa di Kendal lalu di kemudian hari berjuang melawan VOC Belanda membantu Sultan Agung. Paska perang VOC dan Mataram di Jepara, pada tahun 1619 Putri Pembayun bersama rombongan veteran perang Jepara hijrah ke Kebayunan, Tapos, Depok dan atas inisiatif Ki Jepra sebagai tetua keturunan Pajajaran rombongan bisa bertemu dengan Pangeran Jayakarta di Jatinegara sesudah Pangeran Jayakarta gagal mempertahankan Sunda kelapa dari serbuan Yaan Pieters Zoen Coen. Kemampuan intelektual dan kecakapan bertindak Putri Pembayun sebagai petugas intelejen sangat mendukung data sejarah tersebut. Boleh dikata Putri Pembayun adalah salah satu pahlawan wanita tokoh sejarah lintas nasional, bukan sekedar lokal Jawa Tengah, Mataram atau Bantul saja. http://panyutro.blogspot.com/2013/01/ki-ageng-mangir-panembahan-senopati.html
Putri Pembayun yang dimaksud dalam tulisan di atas apakah isteri Ki Ageng Mangir ? apa putri Pembayun dari Jawa Barat ( Pajajaran ). sebab dalam sebutan putri Pembayun = putri pertama, kata putri kadang juga disebut Ratna, sedangkan putri terakhir biasa di sebut putri pamekas, Ratna Pamekas. Sebutan itu hanya terjadi pada putri seorang raja atau sultan yang sebetulnya juga punya nama lain kecuali sebutan pembayun. Adapun jika yang dimaksud adalah Putri Pembayun isteri Ki Ageng Mangir, rasanya kok janggal jika Putri Pembayun kok ikut berperang melawan VOC, sebab jamannya sangat berjauhan. Ki Ageng Mangir di era Panembahan Senapati, ( sebelum Belanda datang ke Indonesia, belanda datang ke Indonesia pertama tahun 1596 ) VOC berdiri tahun 1602 sebelum Sultan Agung menjadi Raja ke iii Mataram ( cucu ) Panembahan Senapati tahun 1613-1645. Mungkinkah Putri Pembayun hidup di 3 periode ( periode 1 era Panembahan Senapati (abad 15 ) periode 2 era Mas Jolang ( Panembahan Seda ing Krapyak ) dan periode 3 era Sultan Agung abad 16 , apalagi disebutkan pasca perang VOC. Terima kasih dan mohon maaf ini hanya koreksi
Sungguh saya sangat senang bisa berhubungan dengan teman-2 di facebook, terlebih sering menceritakan tentang babad mana dan apa saja sehingga bisa mengambil hikmahnya. Sebelum membahas mengapa antara Panembahan Senapati dan Ki Ageng Mangir berselisih, maka perlu saya sampaikan sekelumit tentang keduanya. ini saya baca dari beberapa sumber yang tdak dapat disebutkan karena sangat banyaknya sumber tersebut.
I. KI AGENG MANGIR KI WANABAYA.( KHUSUS YANG KONFLIK DENGAN PANEMBAHAN SENAPATI Sebelum terjadinya perlu kita mengenal dulu wilayah kademangan Mangir. Kademangan Mangir adalah daerah perdikan kerajaan Pajang, jauh sebelum hutan Mentaok ( Mataram maju ) dihadiahkan kepada Ki Ageng Pemanahan. Luasa wilayahnya tidak begitu luas ya namanya Kademangan, tapi pengaruhnya begitu luas,hampir separuh dari Kabupaten Bantul sekarang. Hal ini terbukti banyak ditulis di cerita babad yaitu : sebelah selatan sampai dengan Samubera Indonesia ( demang Srandaan, Demang Sanden, Demang Pandak, Demang, Jodog ) Sebelah utara ( Demang Jalegong, Demang Bantul, Demang Kasihan dan Demang Tangkil ) Ke timur Demang Palbapang ke tenggara Demang Ganjur ( Ganjuran ), Demang Wanadara. Demang Paker. dan Demang Gading. Sekali lagi itu dugaan saya ( nama-nama kademangan yang saya sebut tercantum dalam buku DENDAM DI BUMI MANGIR )
Semantara Kademangan Mangir sendiri juda hanya sekitar Mangir kecamatan Pajangan. Katakanlah Kademangan itu telah membentu paguyuban dengan Demang Mangir sebagai Pimpinannya sehingga dapat tambahan Ageng dalam gelarnya. ( Ki Ageng Mangir ) Pengaruhnya yang luas itulah itulah yang menyebabkan Panembahan Senapat ingin menguasainya dan menganggap duri dalam daging atau musuh dalam selimut yang harus ditumpas.
II.PANEMBAHAN SENAPATI ING ALAGA SAYIDINA PANATAGAMA
- Nama kecil R. Sutawijaya ( Danang Sutawijaya ) putra Ki Ageng Pemanahan
( Ki Ageng Surya Mataram ). Sejak kecil Sutawijaya memiliki temperamen keras, apapun keinginannya harus terwujud ( jika perlu nyawa sebagai taruhannya ), sehingga beliaupun berani masuk ke keputren kraton Pajang dan menjalin cinta secara sembunyi-sebunyi kepada Nyi Semangkin ( Putri Ratu Kalinyamat yang dititipkan pada Sultan Hadiwijaya dan akhirnya dinikahkan ) walaupun sesudahnya beliau dimarahi. Dari pernikahannya itulah lahir Raden Rangga.
- Setelah Mataram menjadi maju, biliau tidak mau berkunjung ( berbakti ) kepada Pajang walaupun telah diingatkan oleh Ki Gede Pemanahan dan Ki Juru Mrentani ( Patih Mandaraka ) setelah diangkat menjadi patih. Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, maka sifat P. Senapati raja muda di Mataram semakin tidak mau menghadap ke Pajang, bahkan merencanakan penggulingan kerajaan Pajang. yang notabene ayah angkatnya dan sekaligus yang memberikan bumi Mentaok, walaupun menurut beliau wajar diberi hadiah karena beliaulah yang mampu membunuh Adiati Arya Penangsang ( dari kadipaten Jipang Panolan ). Seperti diceritakan di depan bahwa Penembahan Senapati memiliki temperamen keras, maka setelah beliau menjadi raja maka beliau ingin menyatukn seluru Jawa di bawah naungan Mataram dengan jalan dan cara apapun. termasuk tipu daya/bujuk rayu ataupun peperangn sekalipun yang penting cita-2 terwujud.
Harapan ; biarlah cerita babad/legenda/sejarah berlalu kita ambil hikmahnya yang jelek kita tinggalkan dan yangbaik kita lestari dan kembangkan demi pembangunan dan persatuan kesatuan warga Yogyakarta pada khususnya dan warga negata Indonesia pada umumnya dengan memperhatikan dan melaksanakan 4 pilar negara yakni ; PANCASILA, UNDANG-UNDANG DASAR 1945, BHINEKA TUNGGAL IKA, dan NKRI. Maaf terlalu panjang. saya pernah punya blog tapi lupa mengaksesnya. Terima kasih.