
Apa yang terpikir pertama saat mendengar kata jama’ah?
Arti katanya? Afiliasi? Judul buku? Sholat? Organisasi teroris? Atau malah Ustadz Maulana?
Kata jama’ah termaktub indah dalam al Quran, berkali-kali. Wa’tashimuu bihablillahi jami’aw wa laa tafarroquu. Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Alloh dan jangan berceraiberai. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Tapi di beberapa tempat kata jama’ah belakangan mengalami peyorasi. Kadangkala kata ini juga kehilangan makna sesekali. Saya tidak tahu mana di antaranya yang lebih buruk.
Saya akan mencoba sedikit mengulas dalam konteks yang pertama kali saya kenal tentang jama’ah, yaitu sholat jama’ah. Menurut Syafi’iyah dan Hanafiyah, sholat fardhu berjama’ah hukumnya sunnah muakkadah bagi laki-laki. Bahkan Malikiyah dan Hanabilah berpendapat hukumnya wajib. Tapi saya tidak hendak membahas dalilnya. Monggo ditelusuri sendiri bila memang ingin tahu.
Saya secara pribadi merasa saya bukan orang yang benar-benar baik dalam melaksanakan sholat berjama’ah. L Bahkan saya yang sekarang mungkin lebih buruk daripada saya saat SD dulu. Dulu sempat bila tertinggal jama’ah, saya sampai merengek-rengek membujuk simbah untuk mengulang sholat agar saya juga bisa sholat berjama’ah. Tapi setelah tahu bahwa perempuan tidak dibebani seperti laki-laki yang harus senantiasa sholat berjama’ah di masjid awal waktu, saya mulai seenaknya, sampai sekarang. L Jadi ketika saya menulis tentang sholat jama’ah di sini, bukan berarti saya telah sempurna dalam menjalankannya. Ini menjadi introspeksi bagi diri saya sendiri sekaligus motivasi. Serta sebagai pengingat saya bahwa seorang muslim tidak pernah bisa berhenti dari tugas sebagai da’i.
Saya sering—secara sengaja maupun tidak—melihat perilaku orang-orang dalam melaksanakan sholat, terutama di tempat-tempat umum, lebih khusus lagi di institusi pendidikan. Waktu SD—saya hanya sekolah di sekolah Islam waktu TK—sholat dzuhur tidak terlalu menjadi hal yang diperhatikan karena sekolah berakhir sebelum dzuhur atau saat waktu dzuhur belum lewat jauh. Lagipula, tahun-tahun itu (1994-2000) umumnya anak usia SD belum baligh. Waktu SMP, saya melihat bahwa dibangunnya masjid, dari yang sebelumnya hanya ada ruangan sempit sebagai musholla, tidak membuat jumlah orang yang sholat dzuhur bertambah. Hanya siswa yang rumahnya benar-benar jauh dan ada kegiatan ekstrakurikuler sorenya saja yang sholat. Yang lain lebih memilih sholat di rumah meskipun pelajaran terakhir baru usai pukul 13.30 bahkan 14.00. Masjid ramai hanya pada event-event berlabel “wajib” dari sekolah.
Masuk SMA, saya menjumpai sesuatu yang biasa disebut fenomena. Bukan hal aneh dan bahkan masih jauh sebenarnya bila perbandingannya adalah masa-masa Rosululloh dan shohabat. Saya melihat masjid menjadi tempat kembali, selain sekretariat klub ekstrakurikuler (:p) , di sekolah. Mungkin karena pada usia SMA seseorang lebih mempunyai kesadaran diri karena tentunya sudah baligh (kecuali ada permasalahan lain). Masjid selalu penuh saat jama’ah sholat dzuhur kloter pertama. Kalaupun tidak bisa mendapat kloter pertama, semua siswa laki-laki (setahu saya) bersedia menjadi imam berikutnya walaupun bacaan dan hafalannya masih seadanya. Saat istirahat pertama siswa berduyun sholat dhuha. Bahkan untuk sholat Ashar, Maghrib dan Isya’ pun hampir selalu ada sholat jama’ah, karena banyak siswa yang konon “takut matahari” sehingga tidak pulang sebelum ditegur oleh adzan Maghrib. :p
Maka saat awal kuliah, saya kebingungan melihat ada orang masuk masjid saat jam-jam sholat fardlu tapi tahu-tahu sholat munfarid tanpa tengok kanan kiri. Saya kebingungan saat ada orang di masjid diajak sholat berjama’ah tapi malah berkata “sendiri aja” atau “saya buru-buru” lalu langsung sholat. Saya kebingungan saat melihat segerombolan mahasiswa sudah selesai wudlu tapi tidak segera masuk masjid, rupanya menunggu ada dosen atau senior—yang nanti mau tidak mau “harus” jadi imam—yang menuju masjid untuk sholat juga.
Sekarang saya juga lumayan kebingungan. Dulu saya melihat tetangga jauh saya yang rumahnya cukup jauh dari masjid dan sudah renta, tapi hampir selalu sudah sampai masjid sebelum adzan berkumandang. Yang kini saya lihat, orang-orang muda segar bugar yang lebih memilih sholat sendirian di ruangan padahal letak masjid atau musholla tidak sejauh dengan jarak ujung-ujung kampung. L Saya sedih, tapi juga tidak tahu harus bagaimana karena saya yakin penyebabnya bukan belum sampainya ilmu pada mereka.
Yah catatan pembuka tentang jama’ah saya akhiri dulu saja sampai di sini. Insya Alloh di catatan berikutnya saya mau iseng menyorot jenis-jenis manusia berdasarkan sikapnya terhadap sholat jama’ah. Karena ini sebenarnya memang hanya iseng, saya mohon dari sekarang, take it easy. J Social networker yang baik tidak mudah tersinggung, oke? :p *seenaknya berteori*
Malang, 17 November 2011 21:49
*Indonesia kalah 1-0 dari Malaysia, piye to mas-mas timnas ki L *protes sakpenake like a boss*





Apa yang terpikir pertama saat mendengar kata jama’ah?
JAMA’AAAAH..OOHH,JAMA’AAAAAH…ALHAMDU-LILLAAAH
[FIXED]
@lifeisabridge a.k.a bongky. akeh tunggale bong =_=”a
gambarnya lucu, na
setelah baca note Jama’ah (2), saya penasaran seperti apa Jama’ah (1) nya.
maka mampirlah saya kemari…
@mba niefha. hihihi, anak-anak sekecil itu saja sholat berjama’ah ya mba :p
@puchsukahujan. heeee -___- njuk gimana puch? mampir doang gini? -___-