Pernah ada seorang teman yang bertanya, “Kenapa sih Na kamu bisa selalu semangat begitu?”. Teman yang lain pada periode yang lebih lampau pernah bilang, “Kamu kalau ngomong selalu sambil senyum ya.”
Kalau ingat pertanyaan dia dan dia itu, saya jadi sedih sendiri. Mungkin dia dan dia tidak akan menanyakan itu pada saya yang saat ini. Saya menyadarinya sendiri, saya tidak sesemangat dulu. Bahkan sama sekali tak menggebu. Saya menjadi makin datar. Makin sering menampakkan pokerface dibanding dulu, padahal dulu saja saya sudah termasuk orang yang sering ber-pokerface.
Bisa jadi, karena sekarang hidup saya tak lagi terlalu warna-warni. Mulai dari aktivitas, orang yang ditemui, tempat yang dijelajahi, tak sebermacam dahulu dalam hidup sehari-hari. Dan anehnya, saya juga tak berusaha membuatnya berwarna kembali. Karena apa, saya juga tak begitu mengerti. Menyedihkan ya, saya jadi makin tak paham pada diri sendiri.
Contoh kecil, saya tadinya suka jalan-jalan. Bisa benar-benar hiking atau travelling ke tempat-tempat asing, mengikuti acara-acara di provinsi lain, atau yang paling sering belakangan adalah jalan-jalan berkedok kondhangan. Kadang sekadar naik motor melalui jalan yang belum pernah dilalui tanpa khawatir tersesat. Sampai terheran-heran sendiri karena tahu-tahu ada di jalan yang membelah kebun salak atau sawah luas membentang dan akhirnya mencari-cari petunjuk sebenarnya saya berada di mana. Kadang naik bis dengan rute yang tidak efisien alias berputar-putar dulu padahal ada jalan yang lebih cepat (terima kasih untuk bis-bis kota dan terutama Transjogja dengan rutenya yang amazing). Dulu itu sering jadi cara saya memberi kesempatan hati dan pikiran untuk merasa dan berpikir lebih lama dari biasanya.
Kini, di sini, entah kenapa saya jadi tidak suka jalan-jalan. Padahal kata orang, kota ini asyik untuk dijelajahi dan adalah kota wisata juga, meskipun tidak se-wonderful Jogja (kota kelahiran harus dibela :p). Pernah saya diajak ke Batu Secret Zoo, teman-teman asyik foto-foto hampir di depan setiap kandang hewan sementara saya malah memilih mencari tempat duduk setelah memotret hewan-hewan itu. Saya seperti hilang rasa untuk jalan-jalan. Antusiasme saya pada berbagai hal lain pun relatif menurun.
Mungkin karena itu, hati dan pikiran saya menyempit. Dan seperti halnya ruang sempit tertutup tanpa ventilasi, hati dan pikiran jadi penuh karbondioksida yang ibarat energi negatif. Kadang ada upaya mencoba mengeluarkan karbondioksida itu pada orang lain, berharap mereka akan mengubahnya menjadi oksigen. Energi negatif itu membuat saya lupa juga, bahwa mereka itu manusia, bukan tanaman. *doh, bikin perumpamaannya aneh banget*
*tarik napas dalam-dalam, hembuskan*
Saya tidak boleh tetap seperti ini. Saya harus membuat ventilasi-ventilasi dalam ruang hati dan pikiran saya. Kalau perlu memindah hati dan pikiran saya ke ruang baru yang lebih luas. Saya harus kembali menjadi orang yang layak ditanyai “Kenapa kamu selalu semangat seperti itu”. Bahkan seharusnya bukan sekadar sama, tapi lebih baik. Saya harus menjadi orang yang bisa mengubah karbondioksida menjadi oksigen. *Eh, saya kan juga bukan tanaman hijau.* Yah, mengubah energi negatif menjadi energi positif, lalu menggandakan energi positif itu dan membaginya pada orang-orang lain.
Mungkin saya tidak punya pilihan lain, selain dengan berusaha kembali membuat hari-hari saya warna-warni. Saya akan mencari cara untuk kembali suka jalan-jalan. Saya tidak boleh hanya bertemu dengan orang itu-itu saja setiap harinya. Saya akan berusaha rajin menyambangi perpustakaan kampus, menelisik rak-rak yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan farmasi.
Saya harus fokus pada apa yang saya tuju dan menjaga ketangguhan dalam melalui jalan ke arah sana. Saya tidak boleh tetap punya banyak waktu luang karena banyaknya waktu luang bisa jadi akan saya sesali di masa depan. Saya harus banyak belajar. Belajar belajar belajar. Tentang apa saja. Tentang siapa saja. Termasuk tentang diri saya sendiri, yang makin sulit saya pahami.
Malang, 27 November 2011 23:31
*Ingatkan saya terus, teman.
*Selamat tahun baru hijriyah 1433. Ada yang bilang tahun baru hijriyahnya kemarin tanggal 26 (kalender saya yang bergambar Pak Din Syamsuddin beserta kabinetnya termasuk yang bilang begitu), ada juga yang bilang hari ini.
*Somehow, saya ingat senam berlagu “Banana Dancing”. “Peel banana, peel peel banana. Slice banana, slice slice banana. Eat banana, eat eat banana. Digest banana, digest banana. Out banana, out out banana.” Gak nyambung ya. Tapi orang-orang yang tahu senam itu suka menghubungkannya dengan nickname saya. Geje kan? Memang. Padahal senamnya cukup menyenangkan.





mbak nanaaaaa Smangaat! ciat!
@mbakmoy. semangat juga mol!
ngapain ciat ciat? nantang? :p
Mbak Nana….
Semangat, Mbak!
Malang kota pelajar dan bersahabat lho, jangan merasa sendiri di sini…
There is Sakinah mansion, komsat, kamda, kamwil, UB, BSMI, ……
Banyak banget, silakan mampir, cerita, dan berdiskusi…
Pemikiran2 mbak Nana bagus banget dan kritis, terus tularkan untuk anak2 malang, biar g terkungkung dg budaya yg ada…
terus berekspresi..
Mantap jaya! Chayoo…! Semangat2..!:)
@invisible_mujahidah a.k.a karin
beneran lho ya, kalo Sakina aku satronin dan kubikin ‘rusuh’ jangan protes lho ya :p
Hahahaaa.. Aku gak merasa sendiri kok karin. Sebelum ini cuma belum tune in saja. Ibarat maba, masih meraba-raba dan gamang menunggu aba-aba