[Saya sudah janji pada seseorang mau bikin note tentang baliho, jadi beginilah jadinya. Geje tidak apa-apa. Sekadar ngomyang seperti biasa.]
Sejak zaman dahulu kala, mahasiswa dan percetakan bersahabat dekat. Mahasiswa sibuk, percetakan ikut sibuk. Dan akhir tahun adalah saat-saat yang indah bagi kebersamaan mahasiswa dan percetakan. Akhir tahun, adalah saatnya banyak organisasi kemahasiswaan membuat acara-acara besar sebagai gong penutup kepengurusan. Acara besar sama dengan baliho besar. Baliho besar bagi percetakan adalah order besar. Order besar adalah kebahagiaan besar.
Salah satu acara besar yang paling membahagiakan adalah pemira, pemilihan raya mahasiswa. Karena dalam rangka pemira, akan ada order tidak hanya satu atau dua baliho, tapi belasan, bahkan puluhan. Belum lagi spanduk, banner, poster, leaflet, pin, gantungan kunci, mug, bolpen, ID card, jam dinding,.. #eh Memang sih, pemira tidak seakbar pemilu. Tapi mahasiswa mempunyai integritas yang lebih tinggi dalam beberapa hal dibanding sebagian (calon) politisi, sehingga lebih mungkin untuk menjadi pelanggan favorit.
Mahasiswa kecil kemungkinannya ngutang pada percetakan saat ngorder. Kalaupun awalnya uang belum turun (entah dari mana, langit misalnya), mahasiswa akan memilih ngutang pada temannya daripada ngutang pada percetakan. Sementara, (menurut curcolan pemilik percetakan tertentu) banyak (calon) politisi yang ngutang cetak atribut untuk nyaleg dan tidak pernah membayar hutangnya karena ternyata kalah dalam Pemilu. Berbahagialah mahasiswa karena kalian lebih bisa membuat sekelompok orang berbahagia daripada orang-orang yang koar-koar bahwa merekalah yang mampu membahagiakan rakyat negeri ini.
Saya memang belum pernah tanya langsung sama operator percetakan tentang hal ini, tapi saya yakin bahwa mereka lebih akan berbahagia saat atribut yang harus mereka cetak disainnya bagus. Bisa jadi mereka sebenernya ingin bilang, aduh sayang banget bahan spanduk/poster sebagus ini buat nyetak disain kayak begitu. Saya juga bukan orang yang bisa mendisain dengan bagus, tapi lewat catatan gak penting ini saya ingin mencoba menyampaikan aspirasi mas-mas operator percetakan. Sekaligus semoga bisa menjadi saran dan kritik membangun agar pemira-pemira berikutnya bisa lebih asyik dan meriah lagi. *pemira apa pensi sih ini*
Berawal dari rikues seseorang untuk mengaplot foto suatu baliho di fesbuk, saya akhirnya memutuskan mengaplotnya setelah dikompilasi dalam note saja. Kompilasi, sehingga tidak cuma satu baliho dari calon tertentu yang akan saya tampilkan di sini. Saya memang bukan sedang kampanye karena toh keberpihakan saya sudah tak ada artinya lagi. *ehm*
Baliho pertama seperti yang terlihat di bawah ini memampangkan sosok Giovanni van Empel, atau lebih dikenal dengan nickname Sinyo.

Seperti tulisan yang menjadi “judul” baliho, Giovanni4president, baliho ini fokus pada sosok Sinyo yang menjadi capresma. Jargon ditampilkan secukupnya, ditambah testimoni dari dua tokoh, dan beberapa kontak yang bisa diakses. Komposisi yang pas untuk media outdoor, apalagi posisinya pemasangannya di dekat gerbang masuk UGM. Strategis untuk dilihat tapi bukan untuk dibaca berlama-lama. Yang menjadi masukan saya cuma dua poin. Pertama soal penulisan jargon. Penulisan “Cita, Cinta dan Karya” sebaiknya tidak terlalu ‘lurus’ dan menggunakan warna yang kontras dengan foto. Poin kedua, nama tokoh pemberi testimoni sebaiknya dibuat lebih terlihat. Target utamanya memang agar orang yang hanya lewat sekilas pun bisa menangkap pesan-pesan inti dari baliho. Lebih kurang, masukan yang saya maksud itu seperti ini :
Baliho kedua memampangkan capresma Aufa Taqiya sebagai sosok sentral beserta rekan-rekannya dari Partai Bunderan yang menjadi calon anggota DPM.
Konsep bagian atas baliho sudah cukup bagus sebenarnya, ala poster-poster film masa kini. Tapi bagian bawahnya yang bertabur foto kotak-kotak yang berisi foto orang-orang yang sama dengan bagian atasnya. Ini membuat konsep utuhnya menjadi tidak jelas. Di samping memang saya tidak suka dengan disain baliho atau poster yang cuma “menempelkan” foto-foto tanpa “mempersatukan”nya. Lebih eye-catching sepertinya kalau baliho dibuat fokus pada satu konsep disain saja, dalam hal ini hanya memakai bagian atas dari disain yang sudah ada. Sekalian dibuat dengan orientasi landscape. Keuntungannya, masing-masing calon lebih jelas terlihat, baik sosok maupun namanya. Kira-kira yang saya maksud itu seperti ini :
Setelah gugling sebentar, saya menemukan contoh-contoh baliho dan poster pemira/pemilu yang (menurut saya) akan membuat operator percetakan bahagia sepenuhnya saat mencetaknya. Satu contoh baliho dari Pemira KM ITB. Satu poster Pemira UI. Dan satu poster Pemilu 2009.



Untuk siapapun yang menjadi kontestan dalam Pemira, jika kalian menginginkan kemenangan, berjuanglah selayaknya orang yang menginginkan kemenangan. Termasuk dalam disain media
Malang, 12 Desember 2011
*santai lho :p








hmm…lebih bagus lg kalau semua gambar baliho capresma diperlihatkan mba’, jd bisa membandingkan..
begitu jg dgn kualitas gambar yg dipost kalo bisa setara,
Indonesia Setara #minjam jargon Sandiaga S. Uno he..he..
supaya tidak terkesan memihak salah satu calon..
just correction..
keseluruhan saya suka tulisannya
.: salam kenal …
@mas selembar daun . Wah dalam pandangan masnya tulisan ini agak memihak ya. Hehe.. Ma’af, ma’af. Jujur nih mas, saya memang tidak dalam posisi yang bisa mendapatkan foto dari semua baliho. Saat ini domisili default saya bukan di Jogja dan sebagainya. Trus kalo diliat dari fotonya, yg satu ngambilnya siang dan satunya lagi malam. Mungkin karena kameranya kurang bagus (kurang mahal), jadi kualitas foto yg malam jadi jelek gitu.
Kalau misalkan saya memihak, memangnya kenapa mas? #eh V^^ santai, lho..
(lol)
lhah, ono mas eee…. (yay)
@lemoninna . eaaa.. mas yang di baliho mana hayo in