Awal bulan ini, saya berkesempatan sharing bersama sekumpulan anak muda. Ya, dalam lingkup tertentu, saya sudah sangat tua. Saya sebenarnya mendapat jatah untuk lebih banyak menghadirkan sejarah pada mereka, tapi akhirnya saya tergoda juga untuk mengusik pandangan mereka tentang, sebutlah, masa depan. Dalam forum yang saya anggap sebagai sarana ngobrol santai itu beberapa kali saya sodorkan pertanyaan, sebagiannya retoris. Dan alhamdulillah selalu ada jawaban, walau sebagiannya normatif. Sampai saya lontarkan satu pertanyaan itu,
“Apakah kalian siap kalah?”
Diam. Ada yang menghela napas. Beberapa kepala saling pandang. Tetap begitu sampai saya lontarkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang lebih tegas. Siapa tahu awalnya mereka tak cukup yakin dengan apa yang mereka dengar. Saya pandangi wajah-wajah mereka satu per satu, mencari jawaban. Dan saya menemukannya pada raut mereka, yang tidak terwakili dengan kata-kata.

Akhir tahun begini, sebagian besar dari orang yang (sempat-sempatnya) membaca note ini tentu tahu soal apa menang kalah yang saya maksud ini. Dan bisa diperkirakan pula, sekumpulan anak muda yang mana (atau paling tidak yang seperti apa) yang saat itu ada dalam ruangan yang sama dengan saya. Ya, ini soal Pemira, Pemilihan Raya Mahasiswa. Terlalu praktis memang kalau menghubungkan Pemira melulu soal menang kalah. Tapi toh ini pada akhirnya yang acapkali dijadikan parameter keberhasilan sehingga tetap menguras perhatian.
Bagi para pejuang, yang mana saja, kesiapan untuk menang dan kesiapan untuk kalah sebenarnya sama pentingnya. Kesiapan untuk menang, terutama bagi yang tidak terbiasa menang. Siap menang berarti siap menjalankan tanggungjawab besar sebagai konsekuensi kemenangan. Menjaga amanah sebaik-baiknya, agar menang tidak sekadar menjadi euforia pemecah kebuntuan. Tapi yang terbiasa menang pun belum tentu sebenarnya siap menang. Bagi mereka, menang bisa jadi tak lagi menjadi hal yang istimewa. Sehingga yang sebenarnya kesempatan besar itu tidak dihargai sebagaimana layaknya, tidak disyukuri sebagaimana semestinya.
Ini bisa dilihat dari ikhtiarnya. Seberapa layakkah ikhtiarnya, sudah sebandingkah ikhtiarnya, untuk menebus sebentuk kemenangan. Cukup sungguh-sungguhkah? Cukup totalkah? Cukup profesionalkah? Cukup bersihkah? Cukup layakkah sehingga ketika akhirnya menang, tak akan ada yang mempertanyakan keabsahan hasilnya, kepantasan dirinya? Bisa pula dilihat dari sikap setelah kemenangan ada di tangan. Apakah jumawa? Apakah lalu merasa kuasa? Apakah justru melemahkan karena terlalu percaya diri dengan besarnya kekuatan?
Kesiapan untuk kalah, terutama untuk yang terbiasa menang. Akan cukup lapang dadakah? Akan tetap jernih pikirkah? Salah satu hal paling berat yang dihadapi manusia adalah keluar dari kebiasaan. Begitu pula bagi yang terbiasa menang, kemungkinan besar paling tidak awalnya akan mati gaya menghadapi kekalahan. Salah satu tanda ketidaksiapan untuk kalah adalah munculnya sikap saling menyalahkan. Dan jika berlanjut, hal ini bisa berakibat pada kesalahan dalam memilih langkah berikutnya. Bila kesalahan-kesalahan itu dibiarkan dan menjadi kebijakan umum yang diterima secara sistemik, bisa jadi selanjutnya tim ini berbalik menjadi tim yang terbiasa dalam kubangan kekalahan.
Saya tidak tahu sejak kapan light-hearted diistilahkan dengan sportive/sportif. Tapi saya rasa kata itu memang sangat sesuai dengan maknanya. Para olahragawan pada umumnya adalah contoh yang baik dalam hal kesiapan menang dan kesiapan kalah. Tidak ada tim sepakbola, sehebat apapun, yang catatan pertandingannya, misalnya, 38-0-0. Real Madrid, Barcelona, atau Timnas Brazil sekalipun pernah kalah dalam perjalanannya. Sementara, kadang ada tim-tim yang biasanya kalah tapi suatu kali memperoleh capaian yang luar biasa, yang untuk itu ada istilah kuda hitam.
Klise, tapi yang paling bisa dinikmati dari sebuah perjuangan memang adalah prosesnya. Di masa-masa setelah peristiwa, kisah tentang proses selalu lebih panjang daripada kisah tentang hasil. Bukan berarti hasil itu tidak penting. Kalau suatu hal diikhtiarkan, berarti memang hasilnya adalah suatu hal yang layak diperjuangkan. Tapi kita juga mengenal titik lain yang menjadi parameter suatu perbuatan, yaitu titik di mana ia bermula. Niyat pada suatu awalan, yang bisa saja diperbaharui di tengah perjalanan.
Ketika kita mengimani bahwa akan ada kehidupan setelah kehidupan yang kita jalani sekarang, maka semestinya setiap yang kita lakukan diniyatkan untuk sesuatu yang hasilnya jauh, jauh, jauh dari keterbatasan cakrawala dunia. Dunia ini fana, tapi kita abadi. Ruh-ruh kita abadi. Saat kita tidak siap menang dan, terutama, tidak siap kalah, jangan-jangan memang kita lupa sebenarnya untuk apa kita berjuang, atau kita keliru dalam menentukan untuk apa kita berjuang.
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.
(Sapardi Djoko Damono, dalam Kumpulan Sajak Perahu Kertas, 1982)
Malang, 18 Desember 2011 00:05
*It’s the way I care about you.




