Feeds:
Posts
Comments

ada yang nikah

***Akhirnya bisa nge-blog lagi. Kemaren2 buka wp rasanya hampa terus. Berkali-kali gak jadi posting..***

Hari Ahad, 19 Juli yang lalu (udah cukup lama ya, baru bisa nulis sekarang), dua orang kakak Farmasi angkatan 2003 melangsungkah pernikahan. ***dua-duanya wanita! jadi bukan menikah satu sama lain.*** Akad nikahnya bareng pula, 07.30. Syukur walimahnya gak bareng. Yang satu, mbakku yang super telaten, yang juga adalah kakak angkatanku di SMA, Meti Puspita Mayasari, walimahnya 10.30-11.30 di Seyegan. Yang satunya lagi, mbak Nurul-ku, Nurulkhusna Hadiyati, 12.00-13.00 di Banguntapan. Jadi yang mau dateng di dua2nya harus mbelah Jogja..

barokallohu laka wa baroka alayka wa jama’a bainakuma fi khoir

19 Juli itu sangat berarti karena kedua walimah itu. kedua walimah itu sangat berarti karena kedua kakakku itu sangat berarti bagiku. Yang satu adalah kakak yang begitu percaya padaku, sehingga beliau tetap setia sekian lama menaruh harapan padaku. Walaupun aku seringkali mengecewakan beliau. Yang lebih menyakitkan, aku seringkali menyengaja mengecewakan beliau. Dan yang satunya adalah kakak yang sudah seperti teman sendiri, kakak yang bersedia memelihara harapan itu. Walaupun aku kian nyaman dengan ke-mbalelo-anku. Syukron wa jazakumulloh mbak-mbakku…

**hiks**

inisial S

skripsi-streetsignHari ini aku mengingat-ingat kembali perjalananku dalam memperjuangkan inisial S. Menghadap Bu Susi sambil senyam-senyum mati gaya. Naik turun ke unit I plus ngrepotin Mas Candra berkali-kali di akademik. **makasih mas candra** Bolak-balik istananya pak Herry Zudianto ngurus izin. Kunjungan-kunjungan singkat ke RS Bethesda [selanjutnya kita sebut inisialnya aja, RS B]. Dilanjutkan dengan hobi baru mengunjungi wartel untuk nelpon RS B. Semua itu menghabiskan waktu kira-kira 20 hari.

Dan, hari ini, ya hari ini seharusnya jadi hari yang bisa mencerahkanku. Tapi dismenorrhea sepertinya mengalihkan semua kecerahan itu.

Kemarin aku telpon RS B. Total 4 kali panggilan. Pertama ke bagian perizinan. Lalu disuruh nelpon Pak Yusron. Pak Yusron minta ditelpon lagi setelah beliau lihat2 daftar. Jadi aku telpon Pak Yusron lagi. Sama Pak Yusron aku disuruh nelpon bagian farmasi rawat inap, bikin janji untuk ketemu sama Bu Wardani lewat Bu Igun, sekretaris Bu Wardani. Dan akhirnya disepakatilah waktu ketemuan itu.

Jadi, tadi aku ke RS B dengan niyat suci bertemu Bu Wardani pukul 09.30. Dengan tertib aku sudah nongkrong di kantornya tepat jam segitu. Ternyata sudah ada mas-mas yang ngantri. Tapi yang di-antri-in belum ada. Waiting session itu pun dimulai. Setelah menghabiskan sms-sms untuk mengatasi keBTan, akhirnya Bu Wardani datang pukul 10.30. Dan akhirnya aku bisa berjumpa beliau. Aku sudah menyiapkan draft, siap dibantai.

Dibantai? Hah.. Beliau cuma bilang bahwa proposalku sudah didisposisi ke Bu Endang. **siapa lagi ini** Dan.. Bu Endang baru cuti. **ough** Aku harus menunggu lagi. Aku merasa dismenorrhea-ku meningkat ke stadium yang lebih berat. Dan hari ini jadi lebih mendung dan nyeri.

Aku belum mampu begitu.

first time

Selalu ada saat pertama. Pertama kali bisa ngomong. Pertama kali bisa jalan. Pertama kali masuk sekolah. Pertama kali naik bis sendiri. Pertama kali keluar kota. Pertama kali naik motor. Pertama kali mbikin nangis orang. Pertama kali jatuh. Pertama kali bangkit lagi. Pertama kali terluka. Pertama kali pulih kembali. Dan banyak lagi saat pertama yang lainnya.

Dan hari Ahad kemarin adalah untuk pertama kalinya aku memakai kerudung berwarna merah. Terima kasih untuk temen-temen KMMF khususnya Bidang Media Opini khususnya panitia Lomba Cerpen khususnya Dek Triana Candraningrum yang udah minta aku jadi juri. Terima kasih karena telah memberi warna baru dalam hidupku.

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(Sapardi Djoko Damono, 1994)

Pertama kali nemu puisi ini waktu nyari bahan tugas bahasa Indonesia kelas 1 SMA. Tiap kali Juni datang selalu ingat lagi. Dan menurutku puisi ini lebih bagus dari puisinya Sapardi yang judulnya ‘aku ingin’ (apa karena ‘aku ingin’ terlalu populer sampai aku bosen ya..)

Vetsin, kafein, dan capsaicin.

Beberapa hari ini aku mengkhianati tubuhku sendiri dengan mengonsumsi ketiga senyawa itu.

Vetsin. Aku sudah tahu aku alergi padanya. Tapi beberapa hari ini aku mengonsumsi mie instan yang bumbunya dikuasai olehnya. Dan aku merasakan sendiri akibatnya.

Kafein. Meminum kopi yang mengandung dia membuat produksi asam lambungku meningkat dan akhirnya gastritisku kumat. Tapi beberapa hari ini aku mengonsumsinya. Dan, lagi, aku merasakan sendiri akibatnya.

Capsaicin. Saluran pencernaanku tak pernah bersahabat dengannya. Gastrikku memang agak rewel. Namun aku seringkali coba-coba mendekatinya. Dan, lagi-lagi, aku merasakan sendiri akibatnya.

Dan hari ini, aku mengonsumsi ketiganya dalam satu paket hidangan di kantin. Indomie rebus rasa soto pake cabe plus kopi Goodday vanila latte. Habis ini aku mau jalan kaki sejauh bebapa ratus meter.

Hancurlah sudah.

Soe Hok Gie mengutip kata-kata seorang filsuf Yunani dan menyepakatinya, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Kalau puisinya Chairil Anwar, “Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi/ Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak/ Kami mati muda/ Yang tinggal tulang diliputi debu/ Kenang, kenanglah kami//

Itu pandangan Soe Hok Gie dan Chairil Anwar. Mereka akhirnya memang mati muda, sama-sama menjelang usia 27.

Beberapa kawan dipanggil Sang Kekasih dalam usia muda. Bahkan lebih muda dari Soe Hok Gie maupun Chairil Anwar.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Robb-mu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al Fajr:27-30)

Sabtu, 9 Mei 2009_Dias Nadi Utama_KT’06
Rabu, 27 Mei 2009_Topan Indra Permana_KU’05
Ahad, 7 Juni 2009_Rifqi Yudhistira Anugrah Perkasa_PA’07

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un

Sebelumnya, ada Hanggito Laras (2004), Mufti Hayu Asna (2006), Shinta Ardhita (2006),Yuria Susta Setiani (2009), Maria Sisfakh Muhammada (2009), Bagus Aji Pamungkas (2009).

Dan janganlah kau kira bahwa orang-orang yang gugur di Jalan Alloh itu mati, sesungguhnya mereka hidup di Sisi Robb-nya dengan mendapat nikmat.” (QS Ali Imran: 169)

Shoutout terakhir di fs-nya mas topan,

perhatikanlah akhiratmu….perhati kanlah akhiratmu…perhatik anlah akhiratmu…..se2ora ng tidak pernah tahu kapan dan di bumi mana dia akan mati…….

Ya Alloh, pengingatMu telah Kau berikan berkali-kali. Dan aku masih saja lalai.

the successor

dwilogi pemilu 2009

Apa itu pemilu? Hampir semua orang Indonesia mestinya tahu apa itu pemilu. Apalagi yang sudah ngaku sekolah sampai belasan tahun. Yah, semua juga tahu kalau pemilu itu berasal dari kata dasar pilu yang mendapat imbuhan peN- sehingga pemilu mempunyai makna yang membuat jadi pilu.

Continue Reading »

01/01/10

Sampai tanggal segitu lah masa aktif nomer simpatiku. Gak usah isi pulsa sampe taon depan. Hahaha..

***bo’ong banget kalo bilang gak usah isi pulsa. Walo udah punya nomer m3 entah kenapa ni nomer simpati butuh diisi pulsa terus..***

kembali lagi

merenungi kehidupanAkhirnya, Nana kembali lagi dari KKN-nya yang luamaaa itu. Luama karena meliputi 40 hari KKN-Kuliah Kerja Nyata dan sekitar 20 hari penyesuaian untuk KKN-Kembali ke Kehidupan Normal. Lama banget kan. Padahal sekarang rasanya belum normal beneran nih. *emang kapan normalnya?* Dan lagi, sebenarnya aku juga gak punya parameter pasti kehidupan normalku itu seperti apa. Benar-benar aneh.

Mohon maaf jika “pamitan kkn” terlalu lama setia menjadi penyambut di blog ini. Banyak sebenarnya yang ingin kubagi. Tapi ternyata tangan ini gak juga bisa menuangkan apa yang ada di pikiran karena harus melakukan hal-hal yang lain. *sok sibuk banget sih, padahal slama ini cuman maen2*

Yah, intinya, semoga aku bisa segera post apa yang ada dalam benak ini, tentang pemilu, tentang kkn, tentang kehilangan, dan tak lupa tentang angin dan matahari.

O ya. Mmm.. Aku gak ingin berapologi. Tapi sekembalinya dari KKN-yang Kuliah Kerja Nyata-aku memang terombang-ambing, tak juga mendarat ke bumi. Dan dalam keadaan seperti itu, aku dihantam berkali-kali. Entah di koordinat mana aku sekarang. Yang jelas, aku mencoba kembali lagi.

pamitan kkn

Selama beberapa hari terakhir aku pamitan kkn pada orang2 yang menurutku pantas aku pamiti. *yaitu orang yang bakal kebingungan nyari orang untuk dijitak kalo aku gak nongol* Ada yang aku sempat bertemu sehingga bisa ngomong langsung, ada yang kupamiti lewat sms. aku mengirim sms dengan isi sama ke beberapa orang sekaligus. Dan, apa hasilnya? Hmm.. luar biasa sekali Alloh dalam menciptakan manusia. Sampe2 gak ada yang model balesan smsnya sama. Ini beberapa balesan sms itu. *nama-nama di dalamnya disamarkan seluruhnya, biar kayak berita kriminal :p *

Dari Isna, model so sweet konvensional cewek.

W3.Y nduk…Syukron infony..Nanti mbk sampaikn k Alex. Met kkn y..Mog d permudah n berkah.. Met berkarya d episode khidupan yg brbda..

Dari Ibnu, model to the point.

Barakallah.. Smg lancar! Tmptnya dmn Na?

Dari Thoyib, model menggebrak.

yoa,,ati2..jaga diri yow..

menggebrak

Jumat tanggal 27 Maret, dengan niyat ingsun poso tutugo dino sesuk *lho.. lho..* Pokoknya dengan tekad bulat, aku pake gamis biru ngejrengku—yang selama ini cuma punya track record ke acara walimahan itu—ke kampus. Walaupun dulu kalo gak salah aku pernah sesumbar bahwa aku gak akan pakai gamis ke kampus sebelum lulus S1. *kayak sumpah palapa aja.nana kena batunya* Tak cukup sampai di situ, aku juga memakai kerudung SMA yang putih dan polos abis tapi khas itu. Dan hasilnya, tanpa kuduga, cukup menggebrak. Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelip.

Begitu sampai di kampus, di taman aku menjumpai Dwinda, Hani, dan Didit yang sedang duduk—rapat kali’. Aku bilang, “Apa-apaan ini.” Bukannya menjawab ‘bukan pertanyaan’-ku, Dwinda malah komen, “There’s something wrong with you.” Heh? Aku cuma nyengir dan kafilah pun berlalu.

Setelah itu, aku ke unit 1, ambil kartu ujian midterm. Di depan dekanat, aku ketemu Alwi. Dan dengan sangat menggebrak, seorang Alwi pun komen, “Ada yang salah denganmu mbak.”

Dan masih banyak lagi yang komen seharian itu. Ternyata mudah bagi seorang nana untuk melakukan hal yang menggebrak. *karena banyak hal biasa yang kalo sampe dilakukan seorang nana jadinya gak biasa—aneh!*

Sebenarnya aku sih cuek-cuek saja. Aku cuman bertanya-tanya. Kenapa pada nganggep ada yang salah ya. Padahal aku ngerasa sedang ‘memperbenar’ diri. Hahaha.. Memang lebih nyaman seperti biasa saja. Walau kadang asyik juga kalo bisa menggebrak. :D

Budiman Sudjatmiko

Semua sms di sini berseliweran di udara pada Rabu, 18 Maret 2009.

19.01, Pipit sms

na.nontono tvone,ada yg tokoh yg kau suka.saiki

Kalo pipit yang bilang, berarti tak lain dan tak bukan.. Beberapa menit kemudian aku bales ke pipit.

iklan ik.ndadak nunggu.sopo si?mas budiman?

Pipit mbales lagi.

oik.bang budiman sudjatmiko.

19.17, aku mengirim sms ke tujuh manusia terpilih. *terpilih untuk dirusuhi dengan smsku*

budiman sudjatmiko,now on tvone.
smg beliau mdpt ptunjuk :D

Mbak Eva merespon tiga menit kemudian.

Amiin.
Iyo na,aq mw wis ndelok iklane. “weh,mz budimane neph0nx”

Wah! Benar-benar teman seperjalanan yang pengertian. :p
19.29, Mbak Dwi yang bales.

Smga qt slalu dlm keistiqamahan.mknya sblm brjalan tentukan teman…ya g sob

Perespon terakhir adalah Hanif, sudah 19.32, acaranya sudah selesai.

Ad ap dgn dia? Sy lg diluar..

Haik. Jangan2 dia gak tahu siapa itu mas budiman. Ckckck..
Nana.. Nana.. Jangan underestimate ah..

kucing garing dan kucing garongKalau mengingat hal-hal yang dialami aku—bersama gangsterku—di dufan, aku jadi makin ragu akan sesuatu. Benarkah kami sudah semester delapan? Jika sudah, berarti memang kedewasaan tidak ada korelasinya sama sekali dengan banyaknya semester yang sudah ditempuh. *ah, gak usah nyebut semester lagi lah*

Sebenarnya hal itu sudah cukup bisa dibuktikan dengan kenyataan bahwa kami amat sering mengeong-ngeong—kadang ini bisa diartikan sebagai ngobrol heboh gak karuan, namun sering pula kami memang benar2 mengeong dalam arti mengeluarkan suara eongan *ya, aku tahu, kami memang aneh*.

Dan momen yang bener2 membanting citra almamater yang diamanahkan oleh pak edy adalah ketika kami—gangsterku saat itu—masuk wahana Arung Jeram. Kami bertujuh—aku, Mbak Eva, Mbak Fieda, Ochi, Ebyth, Yeni, Pipit—hanya menyisakan satu tempat di perahu. Dan yang antri di belakang kami adalah seorang mas-mas yang tampaknya tak bersama gengnya. Mas-nya tampak ragu untuk ‘bergabung’ bersama kami. Sampai mas-mas komentator dan mas-mas penjaga membujuk dan akhirnya si Mas itu mau juga naik perahu bersama kami. *kasihan betul si Mas yang kami tak pernah tahu namanya itu.. ckckck..* Dan kami semua pun naiklah, dan perahu kami mulai meluncur dan terombang-ambing. Dan kami pun mulai teriak-teriak, bukan karena takut, bukannnn! Tapi karena ada yang sabuk pengamannya gak bisa dipasang sehingga bingung harus megangin sabuk apa ngangkat tas biar gak basah, ada yang kena air sekujur tubuh, dan ada juga yang teriak-teriak nertawain yang lain. Sementara itu, si Mas tetep stay cool. Entah apakah dia memang merasa semuanya biasa saja. Ataukah dia berusaha jaim di depan tujuh cewek heboh yang seperahu dengannya. Ataukah dia tercengang melihat betapa wanita bisa bertingkah begitu mengerikannya.

Dan di tengah-tengah kegentingan itu tiba-tiba Mbak Fieda memecah konsentrasi kami dengan nyeletuk, “Mas-nya dari mana?”. Jreng.. Jadilah semua mata tertuju padanya—pada si Mas. Detik-detik ketika itu bisa dibilang menakjubkan. Celetukan simpel yang tidak pada tempatnya itu bisa-bisanya mengalihkan perhatian kami dari air di sekeliling kami.

Dan si Mas memberikan jawaban yang luar biasa, “Dari sini.” Ngiiiikkkk…..

Mbak Eva gak mau kalah eksis, “Kita dari tadi, Mas…”. Ngikkk.. ngikk… ngikk…

Tak lama kemudian, kami pun ‘dientaskan’ dari perahu dalam keadaan basah dan heboh. Biasalah, di mana-mana yang namanya kucing kalo kena air pasti heboh kan. *he..* Di tengah kehebohan itu, tiba-tiba terdengar suara mas-mas komentator, “…basah tidaknya itu tergantung amal perbuatan..”. Heh? Rese’ banget ni mas komentatornya. Kami celingak-celinguk. “Oh, dari Universitas Gadjah Mada ya?” suaranya terdengar lagi. Hapaaa? Oh no. Yeni pake jaket AAI, sodara-sodara. Hancurlah semuanya. *apanya ya yang hancur..* Kami masih celingak-celinguk mencari sumber suara, pengin tahu wujud mas-mas rese’. Dan kata-kata dia berikutnya membuat kami secepatnya angkat kaki dari situ. “Gak usah nyari-nyari mbak. Ini lho saya di sini, yang mirip Afgan.”
Ngggg…. Ngiikkkkk… Kabuurrrr….

Di luar area Arung Jeram, di tempat yang aman dari air namun ada tujuh makhluk basah kuyup bergerombol, kami me-review kembali rangkaian kejadian sebelumnya. Pas sampai di cerita “si Mas nan malang yang berperahu bersama kita”, Ochi bilang, “Eh, itu Mas-nya di situ. Hwaaa…” Dan kami semua pun kabuuurrrr…..

O ya, omong-omong, kok kami pede banget ya nyebut tuh orang yang seperahu dengan kami itu ‘Mas’. Padahal jauh lebih mungkin kalo dia lebih muda dari kami. Secara, kami ini kan sudah semester delapan…Hahaha..

« Newer Posts - Older Posts »