Kalau mengingat hal-hal yang dialami aku—bersama gangsterku—di dufan, aku jadi makin ragu akan sesuatu. Benarkah kami sudah semester delapan? Jika sudah, berarti memang kedewasaan tidak ada korelasinya sama sekali dengan banyaknya semester yang sudah ditempuh. *ah, gak usah nyebut semester lagi lah*
Sebenarnya hal itu sudah cukup bisa dibuktikan dengan kenyataan bahwa kami amat sering mengeong-ngeong—kadang ini bisa diartikan sebagai ngobrol heboh gak karuan, namun sering pula kami memang benar2 mengeong dalam arti mengeluarkan suara eongan *ya, aku tahu, kami memang aneh*.
Dan momen yang bener2 membanting citra almamater yang diamanahkan oleh pak edy adalah ketika kami—gangsterku saat itu—masuk wahana Arung Jeram. Kami bertujuh—aku, Mbak Eva, Mbak Fieda, Ochi, Ebyth, Yeni, Pipit—hanya menyisakan satu tempat di perahu. Dan yang antri di belakang kami adalah seorang mas-mas yang tampaknya tak bersama gengnya. Mas-nya tampak ragu untuk ‘bergabung’ bersama kami. Sampai mas-mas komentator dan mas-mas penjaga membujuk dan akhirnya si Mas itu mau juga naik perahu bersama kami. *kasihan betul si Mas yang kami tak pernah tahu namanya itu.. ckckck..* Dan kami semua pun naiklah, dan perahu kami mulai meluncur dan terombang-ambing. Dan kami pun mulai teriak-teriak, bukan karena takut, bukannnn! Tapi karena ada yang sabuk pengamannya gak bisa dipasang sehingga bingung harus megangin sabuk apa ngangkat tas biar gak basah, ada yang kena air sekujur tubuh, dan ada juga yang teriak-teriak nertawain yang lain. Sementara itu, si Mas tetep stay cool. Entah apakah dia memang merasa semuanya biasa saja. Ataukah dia berusaha jaim di depan tujuh cewek heboh yang seperahu dengannya. Ataukah dia tercengang melihat betapa wanita bisa bertingkah begitu mengerikannya.
Dan di tengah-tengah kegentingan itu tiba-tiba Mbak Fieda memecah konsentrasi kami dengan nyeletuk, “Mas-nya dari mana?”. Jreng.. Jadilah semua mata tertuju padanya—pada si Mas. Detik-detik ketika itu bisa dibilang menakjubkan. Celetukan simpel yang tidak pada tempatnya itu bisa-bisanya mengalihkan perhatian kami dari air di sekeliling kami.
Dan si Mas memberikan jawaban yang luar biasa, “Dari sini.” Ngiiiikkkk…..
Mbak Eva gak mau kalah eksis, “Kita dari tadi, Mas…”. Ngikkk.. ngikk… ngikk…
Tak lama kemudian, kami pun ‘dientaskan’ dari perahu dalam keadaan basah dan heboh. Biasalah, di mana-mana yang namanya kucing kalo kena air pasti heboh kan. *he..* Di tengah kehebohan itu, tiba-tiba terdengar suara mas-mas komentator, “…basah tidaknya itu tergantung amal perbuatan..”. Heh? Rese’ banget ni mas komentatornya. Kami celingak-celinguk. “Oh, dari Universitas Gadjah Mada ya?” suaranya terdengar lagi. Hapaaa? Oh no. Yeni pake jaket AAI, sodara-sodara. Hancurlah semuanya. *apanya ya yang hancur..* Kami masih celingak-celinguk mencari sumber suara, pengin tahu wujud mas-mas rese’. Dan kata-kata dia berikutnya membuat kami secepatnya angkat kaki dari situ. “Gak usah nyari-nyari mbak. Ini lho saya di sini, yang mirip Afgan.”
Ngggg…. Ngiikkkkk… Kabuurrrr….
Di luar area Arung Jeram, di tempat yang aman dari air namun ada tujuh makhluk basah kuyup bergerombol, kami me-review kembali rangkaian kejadian sebelumnya. Pas sampai di cerita “si Mas nan malang yang berperahu bersama kita”, Ochi bilang, “Eh, itu Mas-nya di situ. Hwaaa…” Dan kami semua pun kabuuurrrr…..
O ya, omong-omong, kok kami pede banget ya nyebut tuh orang yang seperahu dengan kami itu ‘Mas’. Padahal jauh lebih mungkin kalo dia lebih muda dari kami. Secara, kami ini kan sudah semester delapan…Hahaha..