Feeds:
Posts
Comments

Bertanya

Alkisah, di negeri antah berantah, hiduplah seorang asisten bernama Jono yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani majikannya, Saipul. Jono memang lugu dan wawasannya terbatas, namun dia cekatan dan selalu siap melaksanakan apapun yang diperintahkan kepadanya.

“Jono, kamu ambil garam di dapur, lima bata, hancurkan, lalu tabur di tanah mengelilingi rumah.”

Jono tidak langsung bereaksi. Matanya berkedip-kedip bingung tak mengerti. Garam, meski murah, dibeli pakai uang juga. Kenapa majikannya memintanya untuk menyia-nyiakannya begitu saja?

“Untuk apa, Tuan?”

Akhirnya Jono bertanya.

“Kenapa? Kamu tidak mau melakukannya?”

Majikannya memandanginya, matanya menyipit, berkerenyit.

“Bukan, bukan begitu Tuan. Saya hanya ingin tahu…”

Jono tergagap. Ini memang tak pernah terjadi sebelumnya. Selama ini ia tak sampai merasa perlu bertanya.

“Ya sudah laksanakan saja. Kalau akhirnya toh kamu akan melakukannya, tidak ada bedanya kan kamu tahu atau tidak itu untuk apa?”

Majikannya melanjutkan membaca koran pagi. Aktivitas paling penting sedunia baginya saat ini.

Jono terbirit-birit ke dapur dan melakukan apa yang majikannya perintahkan.

+ + +

Jono menabur garam. Menabur. Menabur. Dan menabur. Rasanya sudah lama ia menabur, tapi baru satu sisi rumah yang sudah tertabur. Rumah majikannya memang besar.

“Sedang apa, Mas?”

Satu suara terdengar berseru. Jono melihat anak sulung tetangganya, Wawan, yang baru masuk aliyah sedang mengamatinya.

“Menabur garam, Wan.”

Wawan terdiam sejenak lalu tersenyum dan berjalan mendekat.

“Sini aku bantu, Mas. Pak Saipul pasti baru saja mendengar bahwa rumah Pak Jumali kemasukan ular. Saya tadi juga diminta ibu menaburi garam di sekitar rumah, Mas.”

Jono mengangguk-angguk. Dia baru mengerti kalau garam itu untuk menghalau ular. Majikannya memang pintar.

+ + +

“Jono, buat kue kering sepuluh toples besar. Besok pagi sudah harus jadi. ”

Jono tergagap. Sepuluh toples besar? Ia ingin bertanya untuk apa. Bukan karena ia tak mau, ia hanya ingin tahu. Tapi ia tahu majikannya tak akan suka. Jadi ia urungkan niatnya.

Jadi hari ini Jono tak ke mana-mana. Membuat kue, membuat kue, membuat kue saja ia. Wawan dan Budi, adiknya, yang tadi melihatnya berbelanja bertanya heran. Ini bukan lebaran. Juga majikannya sedang tidak ada hajatan. Jono meminta bantuan, tapi Wawan berkata mereka mau kerja bakti di kantor kelurahan. Walau menurut Budi, tak masuk akal meminta Jono membuat sepuluh toples kue sendirian.

Pagi pun tiba. Jono tersenyum puas. Sepuluh toples kue kering baginya tampak berkilauan seperti emas. Hampir tak tidur sehari semalam ia bekerja keras.

Saipul muncul sesaat kemudian. Memintanya angkut toples-toples ke mobil yang terparkir di halaman. Jono ikut naik dan mobil meluncur ke kelurahan.

Wawan dan Budi melihat pada Jono dengan heran. Setelah toples diletakkan di ruangan, Jono baru paham. Ini acara bakti sosial yang mengundang anak panti asuhan. Untuk anak-anak itulah kue-kue disajikan.

Melihat anak-anak itu, Jono bahagia. Kue buatannya ikut menyumbang senyum di wajah mereka. Dan bahwa majikannya sangat dermawan dan bijaksana.

+ + +

“Jono, aku mau pergi empat hari ke luar negeri ikut konferensi. Kamu jaga rumah dan pastikan di dalam rumah tidak ada yang berubah. Kalau ada kiriman jangan kau apa-apakan.”

Jono mengangguk takzim. Tak sebaiknya ia bertanya. Majikannya terlalu pintar dan bijaksana. Sejenak kemudian mobil majikannya meninggalkan halaman, menuju bandara katanya. Ia sendiri tak pernah tahu bandara itu seperti apa. Pekerjaannya di sini saja, di rumah ini.

Besoknya, datang Gambul, asisten Pak Tejo orang kampung sebelah. Jono pernah bertemu dengannya di arisan asisten sekelurahan. Ia heran. Gambul membawa sangkar burung lengkap dengan seekor burung nuri di dalamnya.

“Ini kiriman dari Tuan untuk Pak Saipul, Jon. Hadiah.”

Jono masih melongo. Ada juga orang memberi hadiah burung nuri.

“Tuan sedang konferensi di luar negeri, Bul.”

“Sama Jon, Tuan juga ikut itu konferensi para majikan. Memang ini kejutan kata Tuan, agar begitu Pak Saipul sampai rumah, burung nuri ini sudah menyambutnya ramah.”

Jono ingat pesan majikannya.

“Kau gantung saja sangkar burung itu di teras.”

Gambul menurut. Setelah itu dia segera pergi. Kalau tahu Gambul terlalu lama meninggalkan rumah tanpa penghuni, tentu majikannya tidak akan senang hati.

+ + +

Hari berlalu. Saipul sudang pulang. Begitu turun dari mobil, ia melenggang dengan tenang. Mendadak langkahnya terhenti saat ia memandang sangkar berisi nuri.

“Jono!”

Jono tergopoh berlari ke depan. Hendak mengambil koper sang tuan. Tapi Saipul menunjuk satu arah dengan pandang minta penjelasan. Jono memandang ke arah yang ditunjuk, si nuri yang melemah tak mampu mematuk.

“Itu hadiah dari Pak Tejo, Tuan. Dua hari lalu Gambul yang mengantarkan.”

Saipul menurunkan sangkar, memeriksa nuri yang perlahan terkapar.

“Kau cuma gantung sangkarnya dan tak kau beri makan kah sampai seperti ini?”

Jono mengerjap-ngerjapkan matanya. Ah, majikannya mungkin lupa. Jadi ia ingatkan saja.

“Tuan berpesan keadaan di dalam rumah tidak boleh berubah. Jadi saya minta Gambul menggantungnya di luar. Tuan juga melarang saya mengapa-apakan kiriman. Jadi saya bahkan tidak berani memberinya makan.”

 

Rampung

Malang, 13 Mei 2013

NB :

[1] Cerita di atas fiktif belaka. Jika ada kemiripan kejadian dan nama ya itu apesnya Anda.

[2] Mau nulis dongeng bangsawan, ksatria dan para pengembara malah jadinya ini. Jauh banget.

Air Jeruk

“Jika ada orang yang baru saja memeras jeruk dengan tangannya lalu mengelap tangannya dengan kerudung yang sedang kupakai, tidak salah kan kalau aku marah dan ingin membalasnya?”

“Balas saja dengan kebaikan,” jawabku, terdengar normatif.

Membalas aniaya dengan kebaikan. Semudah itukah? Jelas tidak semudah diucapkan. Tidak semudah menulis kata-kata mutiara di jejaring sosial. Tidak semudah belajar memasak. Tidak semudah berlarian menembus hujan. Tidak semudah mengangkat galon menaiki tangga kos. Mengangkat galon kau anggap tak mudah? Maka jelas, membalas aniaya dengan kebaikan pastilah sangat sulit bagimu.

“Berikan padanya segelas es jeruk. Katakan saja,terima kasih atas air jeruknya, sebagai balasan kuberi kau air jeruk juga, segelas, ditambah es.” Aku menambahkan, tanpa belas kasihan.

Membalas aniaya dengan kebaikan. Senada dengan kesabaran, tidak ada batasannya. Tidak ada ambang maksimal sejauh mana aniaya yang kau rasakan. Itu prinsip dasar yang disampaikan para Nabi. Nilai yang sudah kuno tapi seharusnya tidak pernah usang. Seperti halnya kitab-kitab pembawanya yang terus menerus dicetak ulang.

Bagaimana jika itu bukan air jeruk? Bagaimana jikaitu adalah saos atau sambal petis? Berwarna dan lebih sulit dicuci.

Ya, barangkali kau perlu memberinya sepiring tahu krispi. 

Membalas aniaya dengan kebaikan. Kalau kau berkenan untuk merenungkannya sejenak, bisa jadi tak ada aniaya yang benar-benar aniaya. Sudah sering kau dengar kan betapa do’a orang yang teraniaya itu lebih didengar. Kau mendapat kesempatan untuk lebih didengar do’amu. Bagaimana kau bisa menganggap itu sebagai aniaya?

Lalu bagaimana jika yang digoreskan itu bukan makanan. Bagaimana jika itu adalah…luka?

Bagaimana kalau luka? Sudah jelas bukan? Bawakan untuknya obat dan perban. Karena jika ia sampai menggoreskan luka padamu, itu berarti luka pada dirinya jauh lebih besar.

Malang, 8 April 2013

Mimpi

Sebenarnya agak malu saya menulis kembali untuk note dan blog. Saya pernah berhenti update cukup lama, lalu berjanji rajin update, lalu ternyata lalai lagi. Sms beberapa orang akhir-akhir ini membuat saya teringat bahwa saya punya blog, dan saya punya janji. Janji pada blog itu, pada orang-orang yang entah karena apa menyempatkan diri membacanya dan terutama janji pada saya sendiri.

Tulisan awal saya ini mungkin agak random. Saya beri judul mimpi. Kenapa mimpi? Hari ini saya dan beberapa teman saling berkisah singkat tentang mimpi berlapis yang kami alami. Terima kasih pada Leonardo Di Caprio dan kawan-kawannya, kami sekarang jadi punya kata yang bisa langsung membuat orang lain paham tentang hal itu : inception.

Saya dan teman-teman menarik kesimpulan bahwa mimpi berlapis biasanya terjadi saat kami gelisah. Mungkin di permukaan kami tidak tampak gelisah. Tapi alam bawah sadar kami gelisah. Lebih seringnya karena gelisah terhadap apa yang akan kami hadapi esok harinya. Makanya wujud mimpi berlapis itu berkisar : bangun kesiangan, semua belum siap, mengejar sesuatu tapi tidak sampai-sampai, tersentak, bangun dan baru sadar ternyata yang tadi itu masih di mimpi.

Kalau ‘beruntung’, setelah tersentak, bangunnya itu juga masih di mimpi. Dan dalam keadaan lelah karena telah ‘menjalani’ paling tidak setengah hari. Mungkin bukan lelah fisik, melainkan pikiran, hati, apalah itu.

Apakah bisa alam bawah sadar gelisah dan di permukaan kami (dan manusia lainnya) tampak tenang-tenang saja? Ya, bisa saja. Bahkan mungkin kami sendiri tak menyadari (atau tak mengakui?) bahwa rasa gelisah itu ada. Apakah itu berarti kami tidak bahagia? Bisa ya, bisa tidak. Terlalu bahagia juga bisa menimbulkan kegelisahan, gelisah kalau-kalau kebahagiaan itu akan hilang. Atau sebenarnya alam bawah sadarnya menginginkan bentuk kebahagiaan yang lain. #eaaa (loh?)

Gelisah walau tampak bahagia. Alam bawah sadar yang tidak kompak dengan ‘alam permukaan’. Mungkin itu tanda bahwa manusia seringkali tak bisa mengenali dirinya sendiri. Apakah selama ini berjalannya kita mengikuti nurani ataukah berdasar umumnya manusia? Apakah kita telah membebaskan jiwa kita sendiri untuk bermimpi ataukah akal kita memaksakan apa yang disebut oleh publik sebagai prestasi?

Yogyakarta, 14 Oktober 2012 22:53

Apa yang sebenarnya kita cari?

Hidup Adalah Perjalanan

Manusia hidup ibarat melakukan perjalanan. Ia mempunyai berbagai bekal, yang kadang ia tak sadar bahwa memilikinya. Ia punya banyak pilihan jalan, kendaraan dan teman seperjalanan. Dan selayaknya perjalanan, ia menjumpai banyak persimpangan.

Manusia digariskan untuk dapat berkehendak merdeka. Maka perjalanan manusia satu dengan yang lainnya tak ada yang persis sama. Bahkan kita berbeda-beda dalam menentukan hal mana yang menjadi prioritas dalam perjalanan. Continue Reading »

Jama’ah [2]

Saya tertarik mengamati jama’ah sholat terutama setelah suatu hari mendengar kultum ba’da Maghrib di salah satu masjid daerah tempat tinggal saya yang saya dengar saat rehat sejenak dalam rangkaian agenda silaturohim (https://antivetsin.wordpress.com/2009/09/28/tausiyah-silaturohim-sore-dakwah-partai-golongan-regenerasi-shof-pemuda/). Isi kultum waktu itu kira-kira tentang representatifnya kondisi sholat berjama’ah dengan kondisi umat secara keseluruhan. Salah satu hal yang dicontohkan waktu itu, renggangnya shof sholat dapat menjadi indikasi renggangnya ukhuwah.

Pengamatan-pengamatan sekilas dan iseng saya mencatatkan beberapa poin tentang jama’ah yang cukup unik dan mengherankan bagi saya. Tadinya waktu menulis catatan Jama’ah [1] (https://antivetsin.wordpress.com/2011/12/06/jamaah-1/) , dalam bayangan saya Jama’ah [2] berisi tipe-tipe orang (menurut keisengan saya) dalam sholat berjama’ah. Tapi kemudian saya berubah pikiran. Rasanya lebih enak kalau saya membahasnya per poin yang saya anggap menarik saja, walaupun nantinya secara langsung maupun tidak akan menyinggung tentang perilaku orang juga.

Lagi-lagi, bukan berarti saya sudah sangat bagus sholat jama’ahnya. Sama sekali tidak. Dengan menulis catatan-catatan ini, saya jadi harus memperbaiki diri agar tidak termasuk orang-orang yang menyerukan apa yang tidak diperbuat. Tulisan ini lebih panjang dari catatan-catatan saya yang biasa. Karena topik yang satu ini memang harus istimewa.  :)

Continue Reading »

Hero

Once you are considered as a hero,

people will blame you when you bleed or are knocked down.

You will probably shout at them desperately,

“It is enough for me to suffer this physical injury

without you make a bigger one by blaming me.”

 

But even you may never know.

They blame you because they can not accepted

the truth that you’ve been already defeated.

That they wanna keep their belief about you.

That they wanna keep you as their hero.

 

Malang, 13 Februari 2012 19:02

*everyone is a hero for someone

Matahari

Setelah sepuluh tahun lebih aku berhenti

mau tak mau kini aku kembali merindukanmu matahari Continue Reading »